Hakikat Manusia


Sepanjang menyangkut manusia, Al Quran menyodorkan beberapa kata atau istilah, masing-masing al-basyar, an-naas, al-insaan, an-nafs kadang-kadang juga dalam bentuk jamak al-anfus. Pada istilah-istilah tersebut ternyata akan kita jumpai satu pemaknaan yang berbeda satu sama lain. Bukan berbeda dalam arti, melainkan berbeda dalam penempatannya. Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad : ‘Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa.” (QS 18 : 110). Kata manusia dalam ayat ini merupakan terjemahan dari kata al-basyar. Mengapa Allah tidak memakai kata lain, seperti al-insaan, an-naas atau al-anfuus ? Padahal kata-kata itu juga berarti manusia. Sehingga tentu saja, ada maksud-maksud tertentu yang dikehendaki oleh Allah, mengapa Nabi Muhammad diperintahkan untuk mengatakan ‘sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu’ dengan memakai kata al-basyar.

Untuk mengetahui rahasia ini, tentu kita tidak mungkin memecahkannya dengan menggunakan kekuatan akal kita sendiri. Kita bahkan dilarang menafsirkannya dengan mendasarkannya pada prasangka-prasangka kita. Penggunaan kata al-basyar dipakai oleh Allah untuk menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW itu sesungguhnya manusia biasa seperti kita. Pemilihan itu pasti beralasan, dan yang mengetahui persis alasannya adalah Allah. Untuk itulah Allah memberikan jawaban yang merupakan alasan mengapa Dia menggunakan kata al-basyar dalam ayat tersebut, yakni supaya manusia menyadari terhadap potensinya sendiri.

Allah berfirman : ‘Dan Dia yang menciptakan manusia dari air lalu dia jadikan manusia itu keturunan dan hubungan kekeluargaan dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa.’ (QS 25 : 54). Dalam ayat ini pun Allah menggunakan kata al-basyar untuk menjelaskan asal kejadian manusia, yaitu dari air. Kata al-basyar ini adalah untuk menegaskan eksistensi manusia jasad, yang terdiri dari kulit, daging dan tulang belulang. Bahkan secara lebih eksplisit Allah menegaskan, ‘Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina ?’ (QS 77 : 20). Begitu juga firmanNya : ‘Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!’ ( QS 36 : 77).

Demikianlah Allah mengajarkan kita untuk melihat potensi diri kita. Melalui kata al-basyar, Allah mengajarkan kepada kita untuk secara lebih khusus memfokuskan perhatian pada potensi jasad. Bahkan tidak hanya itu, Allah juga memberikan rambu-rambu peringatan bahwa manusia yang disebut al-basyar asalnya adalah dari air yang hina, sehingga kita diminta untuk tidak terlalu memanjakan keinginan-keinginan jasad. Apalah lagi jika kita justru terpikat dan terpesona dengan kemolekan jasad. Betapa pun cantik dan gagahnya, dia tetaplah jasad yang berasal dari air yang hina, yang berpotensi mengalami degradasi dan rusak.

Bahkan yang paling mendasar adalah, al-basyar itu sesungguhnya merupakan cikal bakal manusia jasad siapa saja dari sejak Adam sampai generasi akhir nanti. Untuk itulah Allah memberitahukan kepada Nabi Muhammad SAW, untuk berkata kepada semua manusia bahwa ‘sesungguhnya aku ini adalah manusia (al-basyar) biasa seperti kalian’, dengan makna, Muhammad ibnu Abdullah yang al-basyar, yang jasad, adalah manusia biasa. Artinya juga, asal kejadian jasad Muhammad SAW adalah serupa dengan asal kejadian jasad semua manusia.

Al-basyar, manusia jasad itu, secara hakikat juga masih digolongkan sebagai dalam kondisi mati. Dia belum mampu berbuat sesuatu. Harus ada potensi lain yang nir-jasad yang mampu menggerakkan jasad yang mati itu. Untuk itulah Allah terlebih dahulu memberi isyarat : ‘Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan)’. ( QS 35 : 11). Yakni, setelah jasad diciptakan dari tanah (Adam), kemudian dari air mani (Bani Adam), kemudian Allah menjadikannya berpasangan. Kata berpasangan itu kemudian diberi tafsir yang berada dalam antara tanda kurung, yaitu laki-laki dan perempuan. Tafsiran itu tidak salah, karena memang Allah menjadikan manusia masing-masing berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Inilah yang belakangan ini disebut sebagai gender. Tetapi yang sangat hakiki, yang dimaksud dengan pasangan di sini adalah potensi nir-jasad manusia jasad atau al-basyar, yaitu ar-ruh. Untuk menegaskan ini, maka Allah memberitahu dengan firmanNya : ‘Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh-Ku.’ ( QS : 15 : 29). Maka bertemulah al-basyar (manusia jasad) dengan pasangannya, yaitu ar-ruh (manusia ruh). Sehingga menjadi lengkaplah kejadian manusia, masing-masing dengan potensi Ilahiyah yang ada, yakni ar-ruh atau dalam ayat 29 surat Al Hijr disebutnya sebagai ruuh-i atau ruh-Ku, dan al-basyar atau potensi basyariah, yakni jasad yang terbuat dari tanah, air mani, atau saripati yang terbuat dari tanah.

Setiap manusia wajib mengetahui hal ini untuk membuka pintu kesadaran dirinya tentang tersimpannya dua potensi besar, yakni potensi Ilahiyah dan potensi basyariyah. Mengapa ini saya sebut wajib ? Tentu saja karena manusia memang sudah dirancang oleh Tuhan untuk memegang amanat besar menata diri dan alam semesta. Hanya manusia, mahluk yang dikaruniai oleh Allah potensi besar ini, terutama potensi Ilahiah. Justru potensi Ilahiyah inilah yang menyebabkan Allah memerintahkan kepada Malaikat dan Syetan (Iblis) dengan kalimat yang tegas : ‘Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud’. ( QS 15 : 29). Selain itu, peristiwa pertemuan potensi Ilahiyah dan basyariyah dalam diri manusia itu dijadikan sumpah oleh Allah dengan firmanNya : ‘dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh)’ ( QS 81 : 7), menjadi bukti bahwa penciptaan manusia yang diawali dengan penciptaan al-basyar dengan potensi basyariyahnya dan ditiupkannya ruhKu sebagai potensi Ilahiyah dalam diri manusia, benar-benar merupakan peristiwa besar yang tidak boleh dilewatkan. Manusia wajib memperhatikan hal ini.

Lebih-lebih karena dalam surat At-Takwir (QS 81), Allah bersumpah dengan hal-hal besar, yaitu : ‘Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan, dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak diperdulikan), dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan, dan apabila lautan dijadikan meluap, dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh), dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh, dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) dibuka, dan apabila langit dilenyapkan, dan apabila neraka Jahim dinyalakan, dan apabila syurga didekatkan, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya.’ ( QS 81 : 1 – 14). Di sini jelas, bahwa berkumpulnya potensi Ilahiyah dan potensi basyariyah dalam diri manusia, sama besar dan sama pentingnya dengan peristiwa digulungnya matahari, bintang-bintang yang berjatuhan, gunung-gunung dihancurkan, lautan yang meluap, bahkan sejajar dengan peristiwa dilenyapkannya langit, dinyalakannya neraka Jahim dan didekatnya syurga. Sehingga manusia tidak saja layak mencermati kedua potensi dirinya yang telah gumulung jadi satu dalam dirinya untuk didayagunakan, bahkan manusia wajib menemukan metode untuk mendayagunakan potensi Basyariyah dan potensi Ilahiyah itu, selagi manusia masih hidup di dunia.

Penciptaan manusia, memang telah menjadi sebuah peristiwa besar yang menggegerkan alam malakut, yakni ketika Allah mewartakan rencanaNya untuk menciptakan mahluk yang akan diberiNya tugas kekhalifahan di bumi. Dan Allah tidak bermain-main dalam urusanNya, sehingga sungguh sangat tidak tahu dirilah manusia yang tidak pernah tergerak hatinya untuk mencermati peristiwa besar kejadian dirinya. Barangkali karena alasan inilah, maka Rasulullah SAW pernah berujar, ‘siapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengenal Tuhannya’. Hadist ini nyaris tidak pernah dibahas dalam berbagai kajian, kecuali melalui kajian tasawuf atau kajian makrifat. Tidak jelas apa yang menjadi penyebab. Tetapi, satu hal yang selama ini menjadi ‘penyakit’ umat Islam adalah kesukaannya untuk terlalu banyak berwacana. Itu pun bukan membicarakan hal yang substantif, melainkan terjebak oleh urusan-urusan kulit belaka.

Misalnya soal hadist. Umat Islam melalui para ulama, lebih senang membicarakan status atau kedudukan sebuah hadist. Apakah hadist ini sahih, dloif, maudlu dan berbagai istilah lain, yang kemudian diikuti dengan sikap yang terburu-buru untuk tidak menjadikan substansi hadist itu sebagai bahan kajian. Yang dikaji tidak lain, siapa perawi hadist itu, apakah dia layak dipercaya atau tidak, apakah dia punya cacat atau tidak, dan seterusnya. Sehingga hadist, ‘barangsiapa mengenal dirinya, maka dia akan mengenal siapa Tuhannya’, lepas dari pengamatan dan perenungan. Padahal, yang dimaksud dengan dirinya dalam hadist itu adalah diri manusia yang ruh, diri manusia yang nir-jasad dan diri manusia yang memiliki potensi Ilahiyah itu. Maka, siapa pun yang mengenal dirinya dengan potensi Ilahiyahnya itu, dia akan mengenal Tuhannya. Mengenal dalam arti yang kaffah, dalam arti yang sebenar-benarnya. Bukan sekedar kenal nama, kenal sifat dan kenal af’al, melainkan juga mengenal zatNya.

Jika Malaikat dan Iblis serta alam malakut terguncang ketika mendengar rencana Allah menciptakan manusia, maka semestinya, manusia yang menjadi subyek keguncangan itu, lebih peduli. Begitu istimewakah diriku, sehingga Allah berkenan memilihku untuk menjadi khalifah di bumi ? Begitu hebatkah diriku, sehingga Malaikat dan Iblis disuruh untuk bersujud – untuk memberikan penghormatan – oleh Allah ? Pastilah penghormatan kepada manusia oleh Malaikat dan Iblis itu bukan terhadap potensi basyariyahnya, melainkan pada potensi Ilahiyahnya.

Kalau begitu, tidak wajibkah kita mengenal potensi Ilahiyah yang ada dalam diri kita sehingga kita dapat menempatkan diri di tempat yang semestinya sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah ?

Dalam perjalanan saya merambah dunia spiritual, apa yang dinyatakan dalam Al Quran ternyata adalah sesuatu yang nyata dan tidak diragukan kebenarannya. Berkali-kali dalam Al Quran Allah menegaskan tentang ciptaanNya yang berpasang-pasangan, baik diungkapkan dengan jelas, maupun diungkapkan dalam bentuk penyetaraan atau penyandingan dua hal yang berbeda tetapi melekat dalam satu wujud. Misalnya dalam firmanNya : ‘Yang menciptakan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.’ ( QS 67 : 2). Ini adalah penegasan bahwa segala sesuatu yang ada itu terbagi menjadi yang hidup dan yang mati. Dalam diri manusia ada bagian yang hidup, yaitu ar-ruh atau kadang-kadang juga disebut an-nafs, dan ada pula bagian yang mati, yaitu al-basyar atau jasad. Bagian yang hidup dalam diri manusia berasal dari Yang Maha Hidup, atau Sang Hidup Sejati, yaitu Allah SWT, sedangkan bagian yang mati berasal dari hasil ciptaan Allah, yaitu dalam hal penciptaan manusia adalah tanah dan saripati yang berasal dari tanah. Maka, ar-ruh atau an-nafs – yang merupakan bagian yang hidup – berasal dari Allah dan harus kembali kepada Allah, inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Sementara al-basyar, yang berasal dari hasil ciptaan Allah, yaitu tanah, akan kembali keasalnya, yaitu tanah.

Manusia ruhani – ar-ruh – yang berasal dari Yang Maha Kekal atau Yang Maha Abadi, juga memiliki kekekalan atau keabadian. Itulah sebabnya pengertian kembali kepada Allah harus direvisi, atau paling tidak, diletakkan secata proporsional. Kata lillahi berarti berasal dari Allah, itu adalah kebenaran mutlak. Sedangkan kata ilaihi yang diartikan sebagai kepada Allah inilah yang perlu ditafsirkan secara proporsional. Karena, dengan penafsiran atas kalimat inna lillahi wa inna ilaihi roji’un yang ada sekarang, yaitu sesungguhnya kami berasal dari Allah, dan akan kembali kepada Allah maka akan menimbulkan kerancuan, sebab ada manusia yang taat dan beriman, dan ada pula manusia yang ingkar dan kafir. Kalau kedua jenis manusia itu sama-sama diterima kembali oleh Allah, maka tidak ada perbedaan, antara yang taat dan beriman dengan yang ingkar dan kafir, antara yang benar-benar menyembah Allah dengan yang menyembah tuhan-tuhan lain selain Allah.

Oleh karena itu kata ilaihi, rasanya lebih tepat diartikan dengan apa saja yang dipertuhankan, sehingga makna kalimat itu menjadi sesungguhnya kami berasal dari Allah, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada apa yang kami pertuhankan lebih memiliki keadilan.

Maka, manusia ruhani – ar-ruh – yang memiliki kekekalan atau keabadian, setelah meninggalkan manusia jasad – al-basyar – pun akan hidup abadi di tempatnya yang baru, entah di syurga bersama Allah, atau di neraka terpisah dari Allah sampai waktu yang tidak berbatas.

Dalam hal manusia jasad – al-basyar – yang berasal dari tanah, rasanya tidak perlu terlalu dipersoalkan benar, karena dia berasal dari ciptaan Allah, yaitu tanah dan akan kembali menjadi tanah juga. Karena dia adalah sesuatu yang diciptakan, artinya dari sesuatu yang semula tidak ada (adamah), maka dia pun akan lenyap kembali pada ketiadaan (adam). ‘Kullu syai’in halikun illa wajhahu’ – segala sesuatu akan musnah kecuali Allah – adalah suatu ketentuan yang tidak terbantahkan.

Sehingga pantas kiranya jika Allah mengingatkan kita ‘Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi’. ( QS 28 : 77 ). Maka fokus perhatian manusia seharusnya diarahkan pada negeri akhirat, yaitu negerinya Allah, yang sering pula diungkapkan dengan istilah baladil amin, negeri yang sejahtera. Atau, untuk menggapai negeri akhirat, manusia harus berusaha sekeras mungkin, karena itulah negerinya Allah, negeri asal manusia-ruhani dan negeri tempat manusia-ruhani hendak kembali.

Tetapi justru pada persoalan inilah banyak di antara manusia yang terjebak, karena gagal memahami makna hakikat dari negeri akhirat sebagai sebuah negeri yang berada jauh dan baru akan berwujud kelak jika dunia dan segala isinya ini sudah hancur lebur pada peristiwa kiamat besar. Akibatnya, banyak orang yang menunda-nunda waktu untuk berbuat kebaikan, untuk taat, untuk beribadah, dengan alasan masih muda. Masa muda adalah masa untuk merengkuh dunia. Baru di masa tua nanti, ketika sudah pensiun, baru berusaha untuk merengkuh negeri akhirat.

Tetapi, ada juga manusia yang terjebak memahami arti dunia. Apalagi dengan pembenaran hadist ‘dunia itu adalah penjara bagi orang yang beriman’, sehingga mereka merasa tidak layak untuk menghabiskan waktunya mencari kebahagiaan dunia. Mereka menjadi kaum pertapa yang menyingkir dari kehidupan ramai, berkhalwat, menyepi, menjauhkan diri dari dunia karena ‘takut’ kekotoran dunia. Bukankah Allah juga menyuruh kita untuk – pertama-tama – mencari kebahagiaan negeri akhirat ?

Untuk membicarakan masalah ini, yaitu masalah dunia dan akhirat, insya Allah akan saya tulis secara khusus ketika nanti saya membahas hakikat pasangan.

Sekarang kita lanjutkan lagi hasil saya merambah jalan spiritual untuk memahami hakikat manusia. Kita sudah mengetahui, bahwa manusia secara hakikat terdiri dari dua unsur, yaitu al-basyar – manusia jasmani – dan ar-ruh atau an-nafs – manusia ruhani – yang menyebabkan manusia dapat menjalankan peranannya. Tidak mungkin manusia melakukan peranannya kalau dia hanya memiliki satu dimensi saja, baik itu jasad saja maupun ruh saja. Keduanya harus manunggal, keduanya harus menyatu. Inilah yang disebut sebagai manusia seutuhnya, karena pada dirinya ada unsur atau potensi basyariah dan potensi Ilahiah. Potensi basyariah adalah potensi kemahlukan atau jasad, sedangkan potensi Ilahiah adalah potensi ketuhanan atau ruhaniah/spiritual.

Al-basyar, yaitu manusia jasad, dalam kontek peribadatan kepada Tuhan hakikatnya adalah kendaraan yang acapkali juga disimbolisasikan sebagai binatang atau hewan secara umum maupun dengan sebutan unta, kuda, sapi dan lain-lain, dan kadang-kadang juga disimbolisasikan sebagai perahu, kapal dan bahtera. Allah berfirman : ‘Dan Kami tundukkan binatang-binatang itu untuk mereka; maka sebahagiannya menjadi tunggangan mereka dan sebahagiannya mereka makan.’ ( QS 36 : 72 ). FirmanNya pula : ‘dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya.’ ( QS 16 : 8 ).

Dalam kedua ayat tersebut, binatang, kuda, bagal dan keledai adalah simbolisasi al-basyar yaitu manusia jasad sedangkan mereka dan kamu adalah simbolisasi ar-ruh/an-nafs yaitu manusia ruhani. Posisinya adalah ar-ruh/an-nafs yang mengendarai al-basyar, atau manusia ruhani yang mengendalikan manusia jasad. Inilah fitrah Allah, yakni menjadikan ar-ruh atau an-nafs sebagai pemimpin. ‘Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.’ ( QS 30 : 30) Sehingga jelaslah di sini pengertian fitrah dan agama. Fitrah manusia adalah menjadikan ar-ruh – manusia ruhani – sebagai imam atau pemimpin dan al-basyar – manusia jasad – sebagai makmum atau yang dipimpin. Manusia yang telah mampu menjadikan ar-ruh – potensi Ilahiyahnya – sebagai pemimpin itulah yang disebut sebagai manusia yang telah berada di atas fitrah Allah, dan diminta untuk tetap berada pada fitrah itu, karena itulah agama yang lurus. Inilah yang dikehendaki oleh Allah, tetapi kebanyakan (mayoritas) manusia tidak mengetahui. Makna yang tersirat dari ujung ayat ini adalah, mayoritas manusia tidak mengenal ar-ruh dirinya sehingga tidak mampu memahami jiwa atau ruh ayat-ayat Tuhan. Atau dengan kata lain, kebanyakan (mayoritas) manusia beragama hanya berdasarkan prasangka belaka, karena terjebak oleh pemahaman tekstual.

Dalam ayat tersebut, Allah tidak menyebut nama agama, tetapi menyebutnya dengan istilah ad-diin, yang oleh para mufassir, diterjemahkan dengan kata agama. Tetapi ketika saya mulai merambah jalan spiritual, saya mendapati kenyataan yang mencengangkan, yakni kebenaran hakikat ayat bahwa segala sesuatu selain Allah akan binasa. Binasa di sini berupa ketiadaan. Ketika manusia mulai menapakkan kaki di jalan spiritual, maka yang pertama kali lenyap adalah kenyataan bahwa selama ini dirinya berada di alam ketiadaan. Tetapi, alam ketiadaan itu justru berwujud materi. Sulit sekali dipercaya, bahwa segala sesuatu yang berwujud materi di sekeliling kita sesungguhnya suatu ketiadaan. Bukti bahwa yang materi itu sebuah ketiadaan adalah sifatnya yang sementara dan binasa atau rusak. Bukti lain bahwa wujud materi itu sebuah ketiadaan adalah ketika kita memejamkan mata. Maka lenyaplah semua yang ada di sekeliling kita. Sehingga ketika manusia mati, matanya terpejam, maka lenyaplah semua yang selama ini dimilikinya dari dirinya. Yang menikmati kepemilikan dari manusia yang sudah mati adalah manusia yang masih hidup, karena dengan matanya yang terbuka, mereka masih menyaksikan semua yang berwujud materi. Itu pun kalau manusia boleh mengaku bahwa wujud materi itu merupakan miliknya. Karena memang sejatinya, segala sesuatu yang berwujud materi yang ada di tangan manusia itu adalah titipan Allah.

Allah bertanya kepada kita : ‘Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu. Tetapi kamu tidak melihat, maka mengapa jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah)?’ ( QS 56 : 83-86 ). Ketika nyawa sampai di kerongkongan, ketika kematian sudah tinggal sekali tarik saja, ketika itu mulailah mata tidak mampu melihat sesuatu selain kegelapan. Justru di saat itulah, Allah menyatakan Kami lebih dekat daripada kamu, tetapi kamu tidak melihat.

Apa makna semua ini ?

Sesungguhnya peristiwa sakaratul maut, ketika nyawa sampai di kerongkongan, ketika itu sedang terjadi peralihan, dari alam material kepada alam immaterial, dari alam dunia ke alam akhirat, dari alam al-basyar ke alam ar-ruh atau an-nafs, dari alam ketiadaan ke alam keberadaan sejati. Kalau alam materi adalah alam ketiadaan, maka alam immateri adalah alam keberadaan sejati. Maka, alam dunia yang bersifat materi pun adalah alam ketiadaan, dan alam akhirat yang bersifat immateri adalah alam keberadaan sejati. Begitu juga al-basyar adalah ketiadaan dan ar-ruh adalah keberadaan sejati.

Ketika nyawa berada di kerongkongan, ketika itu pun sedang terjadi peralihan fungsi, dari fungsi peralatan al-basyar kepada peralatan ar-ruh. Maka, kalau saat sakaratul maut, al-basyar atau manusia jasad tidak mampu melihat keberadaan Allah, itu karena Allah bukan sesuatu yang bersifat materi atau jasad. Allah, Tuhan Yang Maha Esa, adalah sesuatu yang berwujud immaterial, maka mana mungkin peralatan yang material mampu melihat sesuatu yang immaterial. Ketika itulah seharusnya ar-ruh, atau manusia ruhani yang bersifat immaterial mampu melihat dan menyaksikan Zat yang juga immaterial, yaitu Allah Al-Kholiq. Tetapi, jika manusia ruh atau ar-ruh yang immaterial tidak dapat melihat keberadaan Allah Zat yang immaterial yang dekat pada dirinya, maka yang demikian itulah yang disebut sebagai bencana besar. Karena ar-ruh yang immaterial itu akan berada dalam kegelapan maha panjang, terpisah dari Allah untuk selama-lamanya.

Maka setiap perambah jalan spiritual, akan mengalami apa yang disebut fana’ yaitu lenyapnya sesuatu yang materi dan akan mulai berjalan atau menapaki alam yang baqa’ yakni alam keabadian, alam immateri, alam ruh, alam yang di situ hanya ada Allah. Dan alam yang di situ hanya ada Allah itulah yang disebut sebagai ad-diin. Sebelum yang materi diciptakan, hanya ada Allah Yang Maha Awal, Yang Maha Ruh, itulah yang disebut sebagai ad-diin, alam yang mula-mula ada, yang disebut sebagai bibit kawit keberadaan, yakni alam azali yang disebut sebagai alam ruhaniyah. Maka, jika fitrah Allah menyatakan bahwa manusia ruh atau ar-ruh sebagai pemimpin yang mengendarai al-basyar, itu dikarenakan ar-ruh di alam azalinya itu selalu bersama Allah. Ar-ruh itu yang dulu disumpah : ‘Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”. ( QS 7 : 172 ). Hal tersebut sangat niscaya, karena Sang Maha Ruh mengambil kesaksian kepada ar-ruh supaya ar-ruh hanya menuhankan Sang Maha Ruh.

Ar-ruh yang sudah bersaksi itulah yang disebut sebagai ahsani taqwiim – bentuk yang sebaik-baiknya – di antara mahluq Allah yang lain, karena hanya ar-ruh yang diminta menjadi saksi keberadaan Allah. Hal ini dapat dimengerti, karena ar-ruh itulah yang akan berperan sebagai khalifah Allah di bumi. Dan bumi yang dimaksud adalah bumi yang makro maupun bumi yang mikro. Mengenai bumi, insya Allah akan kita sajikan ketika saya menyampaikan catatan mengenai hakikat langit dan bumi.

Kemuliaan ar-ruh itu ketika ia bersama dengan Allah Sang Maha Ruh di alam azali atau alam ruhaniyah, di alam yang disebut ad-diin. Kemuliaan itu akan berakhir ketika ar-ruh berpisah atau terpisah dari Sang Maha Ruh, yaitu pada peristiwa : ‘Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud’. ( QS 15 : 29). Ketika ar-ruh itu ditiupkan oleh Allah Sang Maha Ruh ke jasad manusia yang sudah sempurna bentuknya. Itulah saatnya ar-ruh terpisah, innalillahi, sesungguhnya aku (ar-ruh) ini berasal dari Allah Sang Maha Ruh. Ar-ruh yang sudah terikat sumpah persaksian itu kini terpisah dan memulai pengembaraan untuk akhirnya harus kembali kepada Allah. Untuk kembali kepada Allah Sang Maha Ruh, maka ar-ruh harus mengenal dirinya supaya dia mengenal Sang Maha Ruh, yaitu Allah.

Jadi, ketika ar-ruh ditiupkan ke al-basyar yang berupa jasad, maka ketika itulah terjadinya ayat : ‘Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)’. ( QS 95 : 5 ). Kata ‘neraka’ yang diletakkan di antara dua tanda kurung adalah penafsiran si penafsir untuk kata-kata ‘asfala safilin’, yaitu tempat yang serendah-rendahnya. Disebut tempat yang serendah-rendahnya, karena al-basyar – manusia jasad – memang dibuat dari tanah, bagian dari bumi, dan bumi adalah tempat yang rendah. Jadi tempat yang serendah-rendahnya adalah jasad manusia bagi ar-ruh. Keadaan ini akan berlangsung terus menerus, atau selama-lamanya, dengan pengecualian : ‘kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.’ ( QS 95 : 6 ). Pengecualian itu berlaku untuk orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh.

Dua kondisi yang menyebabkan manusia mendapat pengecualian dari Allah adalah iman dan amal saleh. Yang disebut dengan iman sesuai dengan definisi Rasulullah Muhammad SAW adalah ‘makrifat (mengenal) melalui qolbu, diikrarkan dengan lisan dan diamalkan dengan anggota badan’. Jadi, ada makrifat, ada ikrar dan ada amal. Kuncinya adalah makrifat. Sebab tidak mungkin ada amal jika tidak ada ikrar, sedangkan ikrar membutuhkan makrifat. Jadi, tanpa makrifat, sudah pasti tidak akan ada ikrar dan tidak akan ada amal. Yang dimaksud dengan makrifat di sini adalah makrifatullah wa rasulihi. Maka benarlah Sabda Rasulullah SAW bahwa ‘awalnya orang beragama adalah makrifat’. Tidak mungkin orang dapat beragama tanpa diawali dengan makrifat. Bahkan makrifat disebut dalam Sunnah Rasul sebagai modal. Jadi tidak mungkin kiranya orang dapat menggapai kebahagiaan negeri akhirat tanpa modal, yakni makrifat sebagai pertanda awal seseorang telah beragama.

Kemudian amal saleh. Apa sebenarnya amal saleh ? Selama berpuluh-puluh tahun dari sejak saya masih anak-anak hingga usia saya menginjak 54 tahun, saya selalu beranggapan bahwa amal saleh adalah perbuatan baik, seperti menyantuni fakir miskin, anak yatim, berinfak, shadaqah, dan semua amal-amal yang bernilai kebaikan. Anggapan ini lahir dari informasi-informasi yang saya peroleh dari kakek buyut saya, kakek saya, ayah saya, sampai para kyai dan guru ngaji saya menyatakan seperti itu, sehingga saya pun ‘meyakini’ itulah dia yang namanya amal saleh. Baru pada penghujung tahun 2003 ketika usia saya hampir 54 tahun, saya disadarkan oleh Guru Mursyid saya, ketika dia memerintahkan saya membaca ayat ini : ‘Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” ( QS 18 : 110). Saya terhenyak. Jadi rupanya, amal saleh itu adalah sebuah metode, suatu cara bagi manusia untuk bertemu dengan Tuhan. Bukankah berdasarkan ayat itu, kita dapat membuat definisi bahwa amal saleh adalah suatu cara/metode untuk setiap manusia yang mengharap perjumpaan dengan Tuhan. Melalui perjumpaan itulah kemudian ar-ruh dapat mengenal Sang Maha Ruh, yaitu Tuhan Allah SWT.

Maka, iman dicapai melalui makrifat dan amal saleh adalah satu-satunya metode untuk menggapai makrifat. Ar-ruh ketika masih berada di alam azalinya, yakni di alam ruhaniyah dahulu telah bermakrifat dalam arti menyaksikan Tuhan, sehingga dia disebut sebagai mahluq yang mulia, maka ketika ar-ruh telah berada di dalam al-basyar kemudian dapat kembali bermakrifat dalam arti menyaksikan Tuhan, dengan sendirinya dia – yaitu ar-ruh itu – akan kembali kepada kemuliannya. Dan itu hanya dicapai melalui iman yakni makrifat, sedang makrifat itu digapainya dengan metode yang disebut amal saleh.

Setiap ar-ruh – manusia ruhani – yang sudah mampu bermakrifat kepada Tuhan yang digapai melalui amal saleh, maka hakikatnya dia sudah mencapai derajat kesempurnaan manusia. Rasulullah Muhammad SAW, disebut sebagai manusia sempurna karena dialah yang paling mengetahui dan paling mengenal Allah di antara manusia yang lain. Sehingga layak kiranya jika Muhammad SAW dijadikan suri teladan, dijadikan panutan untuk umat manusia. Allah sendiri yang mengabarkan hal itu kepada kita. ‘Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap pertemuan dengan Allah sehingga setelah pertemuan itu dia akan banyak mengingat Allah.’ ( QS 33 : 21) Dalam ayat itu kita jumpai kata yarju’ yang seakar dengan kata roji’un dengan makna kembali atau bertemu, dan kata zakaro yang seakar dengan kata zikir dengan makna mengingat. Kata zikir lebih tepat dimaknai dengan mengingat, bukan menyebut, karena menyebut adalah aktivitas lisan atau mulut, sedang mengingat adalah aktivitas qolbu. Sedangkan kata yaumil akhir lebih dapat dirasakan maknanya jika diartikan dengan hari esok, yaitu, hari setelah hari ini. Hari setelah hari pertemuan dengan Allah, itulah hari esok, atau yaumil akhir.

Paling tidak begitulah yang saya rasakan dan saya jumpai sebagai pengalaman saya merambah jalan spiritual tentang zikir dan yaumil akhir. Sebelum liqo’allah (bertemu dengan Allah), sungguh – dengan sejujurnya saya mengatakan – saya sulit sekali atau bahkan tidak dapat mengingat Allah, sehingga setiap kali saya salat, yang terbayang hanya segala sesuatu selain Allah. Dia bisa berupa pekerjaan saya, anak saya, isteri saya, rumah saya, dan lain-lain. Tetapi bukan Allah. Jadi ternyata – berdasarkan pengalaman spiritual saya – untuk dapat mengingat sesuatu, kita harus terlebih dahulu mengenal pada yang harus kita ingat. Sedangkan untuk mengenal, harus didahului dengan pertemuan.

Manusia memiliki potensi untuk mengenal Tuhan melalui pertemuan denganNya, karena dalam dirinya ada dua potensi, yakni potensi Ilahiyah dan potensi Basyariyah. Potensi basyariyah harus dimanfaatkan untuk melakukan sesuatu yang disebut sebagai hablumminan-nas, bersosialisasi dengan sesama manusia, mengelola kekayaan alam, mengatur negara dan pemerintahan dan aktivitas-aktivitas lain yang memerlukan potensi basyariyah. Sedangkan potensi Ilahiyah, adalah potensi ruhaniyah atau potensi spiritual. Potensi ini harus dimanfaatkan untuk melakukan sesuatu yang disebut sebagai hablumminallah, atau berkomunikasi dengan Tuhan Allah SWT. Kedua potensi itu harus dimanfaatkan semaksimal mungkin.

Tetapi fakta yang saya jumpai ternyata sangat sedikit (minoritas) saja orang yang tertarik untuk merambah jalan spiritual, karena persangkaan yang keliru terhadap suluk dan salik, yang dianggapnya sebagai orang-orang yang frustrasi atau putus asa, orang-orang yang memandang dunia dengan pandangan pesimistis.

Setelah saya sampai pada pemahaman dan pengalaman menggapai makrifat dengan amal saleh, sungguh saya tidak berani untuk berbicara sembarangan tentang amal saleh. Tetapi saya justru semakin senang melaksanakan atau memraktekkan amal saleh dalam hidup saya. Amal saleh bukan untuk dibicarakan, melainkan untuk dipraktekkan. Dan praktek amal saleh itulah yang disebut sebagai merambah perjalanan spiritual. Di masa lalu dalam khasanah Islam perambah jalan spiritual disebut sebagai salik, sedang perjalanan spiritual disebut suluk.

Tetapi yang ingin saya berikan penekanan lebih di sini adalah pentingnya kesadaran kita, bahwa dalam diri manusia ada bagian yang hidup (ar-ruh) dan ada pula bagian yang mati (al-basyar). Tadi sudah saya sodorkan kepada Anda ayat-ayat yang menunjukkan bahwa bagian yang hidup (ar-ruh) itu lebih mulia dan lebih sempurna dibandingkan yang mati (al-basyar). Mahluk hidup, hakikatnya juga memiliki tiga tingkatan yaitu tingkatan malaikat, tingkatan manusia dan tingkatan hewan. Hewan menempati tingkatan yang paling bawah. Al-Ghazali dalam kitabnya Al-Maqshad Al-Asma fi Syarh Asma’Allah Al-Husna menyatakan, yang membedakan tingkatan-tingkatan itu karena kehidupan terletak dalam persepsi dan aktivitas. Hewan berada dalam tingkatan paling bawah karena persepsi dan aktivitas hewan kurang sempurna. Kurang sempurnanya persepsi hewan disebabkan karena yang mempersepsi hanyalah indera-inderanya, sedangkan persepsi indera itu terbatas, karena indera hanya mempersepsi benda-benda lewat kontak dan kedekatan. Tanpa adanya kontak atau kedekatan, fakultas indera tidak dapat mempersepsi. Karena untuk dapat merasakan dan menyentuh, dibutuhkan adanya kontak, sedangkan untuk dapat mendengar, melihat dan mencium, dibutuhkan kedekatan. Indera hewan senantiasa tidak dapat mempersepsi apa pun benda yang ada yang tidak dapat berhubungan atau berdekatan dengannya. Selanjutnya, aktivitas hewan terbatas pada apa yang didiktekan oleh nafsu dan amarah, dan tak dapat digerakkan oleh yang lainnya, karena hewan tidak memiliki akal yang dapat menyuruhnya melakukan kegiatan yang berbeda dengan tuntutan nafsu dan amarah.

Sedangkan malaikat, kedudukan mereka paling tinggi, karena malaikat adalah wujud yang persepsinya tidak dipengaruhi oleh kedekatan atau kejauhan. Persepsinya juga tidak terbatas pada apa yang dekat dan yang jauh, karena dekat dan jauh hanya berlaku untuk tubuh atau jasad, sedangkan jasad adalah wujud yang paling rendah. Malaikat terlalu suci untuk nafsu atau amarah, maka aktivitasnya tidak didikte oleh nafsu dan amarah. Yang menggerakkan malaikat untuk beraktivitas adalah sesuatu yang lebih tinggi dan lebih mulia dibanding nafsu dan amarah, yaitu mencari kedekatan dengan Allah Ta’ala.

Derajat manusia ada di tengah, yaitu antara dua derajat lainnya, seakan-akan dia tersusun dari alam hewani dan alam malaikati. Alam hewani adalah alam al-basyar yang bersifat jasad, dan alam malaikati adalah alam ar-ruh yang bersifat immateri. Pada awal hidup manusia, alam hewani yang mendominasi, karena pada mulanya manusia hanya mempersepsi melalui panca inderanya yang mengharuskan dia berupaya mendekati sesuatu yang diinderai dengan cara mencari dan bergerak. Dominasi alam hewani akan berkurang sesuai dengan usia perkembangan manusia. Sehingga kualitas hidup manusia harus mengalami peningkatan selaras dengan tingkat kedewasaannya. Semakin dewasa, seharusnya dominasi alam hewani makin berkurang dan habis sama sekali, digantikan oleh dominasi alam malaikati. Tetapi dalam kenyataannya, tingkat kedewasaan manusia secara fisik, tidak selalu selaras dengan pertumbuhan kedewasaan secara psikologis maupun secara ruhaniyah. Untuk itulah, Allah mengisyaratkan : ‘Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai qolbu (hati), tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.’ (QS 7 : 179 ). Dalam ayat ini, Allah menegaskan tiga hal, yaitu qolbu, mata dan telinga yang diberikan kepada manusia sebagai anugerah besar, yang dengan anugerah besar itu seharusnya manusia bergegas mencari kebahagiaan negeri akhirat. ‘Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi’. ( QS 28 : 77 ).

Qolbu, mata dan telinga, adalah sebagian dari apa yang telah dianugerahkan Allah kepada manusia. Masih banyak anugerah-anugerah lainnya, seperti tangan, mulut, kaki, kepala dan anggota tubuh lain. Tetapi, Allah memberi penekanan kepada qolbu, mata dan telinga yang akan menjadi sebab manusia menjadi penghuni neraka jahanam. Manusia wajib mencari tahu, karena Rasulullah SAW sudah mengisyaratkan bahwa ‘qolbul mu’minin baitullah’ – qolbunya orang beriman adalah baitullah atau rumah Allah – tempat Allah bersemayam. Itulah sebabnya, manusia wajib memperhatikan isi qolbunya. Itulah pula sebabnya, manusia wajib berhaji, menjadi tamu Allah dengan berkunjung ke baitullah. Sehingga siapa pun yang tidak pernah menjadi tamu Allah, berkunjung ke baitullah dan bertemu Allah, maka Allah menetapkannya sebagai penghuni neraka.

Setelah itu, mata yang disebutnya sebagai penyebab manusia menjadi penghuni neraka. Mengapa ? Karena mata adalah alat untuk menyaksikan, alat untuk bersaksi, alat untuk bersyahadat. Sehingga mata yang tidak pernah menyaksikan, dengan sendirinya mata itu belum pernah bersaksi, dan dengan sendirinya pula belum bersyahadat. Padahal syahadat adalah rukun Islam yang pertama, sehingga layak kiranya jika manusia yang belum pernah bersyahadat itu menjadi penghuni neraka.

Kemudian telinga yang disebutnya juga sebagai penyebab manusia menjadi penghuni neraka. Mengapa ? Karena telinga adalah alat untuk mendengar berbagai informasi, wa bil khusus informasi yang berkaitan dengan keberadaan al-Haq. Informasi yang ditangkap oleh telinga, kemudian diolah di dalam qolbu supaya manusia menjadi mahluk yang mulia, yakni tidak sekedar beraktivitas atas dorongan nafsu dan amarah belaka. Ketika pertama kali Rasulullah SAW melancarkan dakwahnya, beliau tidak serta merta melakukannya secara terbuka. Melainkan terlebih dahulu kepada orang-orang terdekat, isterinya. Setelah itu mulai melebar ke tetangga-tetangga, sehingga akhirnya gerakan dakwah Rasulullah SAW terdengar oleh kaum Quraisy. Mereka yang mendengar dakwah Rasulullah, kemudian ada yang tergerak qolbunya, tetapi ada juga yang tidak tergerak. Yang tergerak qolbunya, lalu dengan kemerdekaan akal dan kehendaknya, mereka mendatangi Rasulullah SAW untuk mendapat pekabaran yang benar dari tangan pertama. Barulah setelah mereka diberi penjelasan oleh Rasulullah SAW tentang kekeliruan mereka dalam peribadatan kepada Tuhan, mereka menyadari kebodohannya. Ketika itulah Rasulullah memperkenalkan mereka kepada Tuhan, sehingga mereka yang datang kepada Rasulullah SAW pun menyatakan keislaman mereka dengan bersaksi, karena mereka sudah menyaksikan dengan bimbingan dan tuntunan Rasulullah SAW. Sehingga pada akhirnya cahaya akal mencerahkannya, dan cahaya ini mengatur dirinya melalui alam langit dan bumi, dengan tidak memerlukan gerakan jasadi dan dengan tidak memerlukan kedekatan atau kontak. Obyek-obyek yang dipersepsinya bebas dari dekatnya atau jauhnya tempat.

Manusia yang sudah mengalami pencerahan cahaya akal melalui penyaksian, akan muncul dalam dirinya keinginan untuk mencari kesempurnaan. Kemudian mulailah dia mempertimbangkan konsekuensi-konsekuensi serta mulai menolak tuntutan nafsu dan amarah. Segala sesuatu yang dilakukannya benar-benar karena bimbingan dari Al-Haq, Tuhan Yang Maha Kuasa. Jika dia menaklukan nafsu dan amarah sampai mengendalikannya, sehingga nafsu dan amarah menjadi terlalu lemah untuk menggerakkan atau menenangkan dirinya, maka manusia yang demikian berarti sudah sama dengan malaikat.

Kedudukan yang sama dengan malaikat itu adalah kedudukan ruhaniyah, karena malaikat selalu berada dekat dengan Yang Maha Tinggi – al ‘Aliy – maka dia yang dekat dengan yang dekat, berarti dia pun dekat. Aktivitas malaikat adalah aktivitas ruhaniyah yang digerakkan oleh Al’Aliy, bukan digerakkan oleh nafsu dan amarah, sebagaimana hewan. Maka manusia yang kualitas ruhaniyahnya sudah sederajat dengan malaikat, dalam aktivitas ruhaniyahnya pun didasarkan pada perintah dari Al’Aliy, dengan meninggalkan segala sesuatu yang bersifat nafsu dan amarah. (Insya Allah, untuk hal ini akan saya bicarakan nanti ketika membicarakan Hakikat Malaikat).
Manusia yang demikian itulah yang telah bebas dari sebab-sebab dirinya menjadi penghuni neraka, karena qolbu, mata dan telinganya sudah menjalankan fungsi kekhalifahannya. Manusia dengan tingkat kedewasaan ruhaniyah yang seimbang dengan tingkat kedewasaan jasmaniahnya, kedewasaan intelektual, emosional dan kedewasaan spiritualnya, seiring sejalan. Dan inilah yang disebut manusia sempurna, atau, insan kamil yang berada di tengah-tengah kumpulan manusia, karena dirinya sudah tidak lagi dapat diombang-ambingkan oleh pasang surut kehidupan dunia. Karena yang menjadi sandaran aktivitasnya bukanlah diri dan sesamanya, melainkan Tuhan, sehingga segala ketetapan yang berlaku untuk dirinya yang berasal dari Tuhan, diyakininya sebagai sesuatu yang paling baik.

Hakikat dari manusia adalah ar-ruh, yang dalam al Quran disebut dengan istilah ar-ruhiy, yaitu ruhKu. Ar-ruh ditiupkan ke dalam al-basyar atau jasad, ketika jasad sudah sempurna kejadiannya. Sempurnanya jasad meliputi perlengkapan luar, seperti kepala berikut dua mata, dua telinga, hidung, mulut, lalu badan, dua tangan, dua kaki berikut jari jemarinya. Selain itu manusia juga diberi perlengkapan dalam seperti otak besar, otak kecil, jantung, paru-paru, limpa, usus dan lain-lain. Kesemua perlengkapan yang disebutkan itu, karena bersifad jasadi, maka hakikatnya dia belum dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Nah, setelah semuanya tersedia, baru Allah meniupkan ruhNya, sehingga semua perlengkapan tadi hidup dan berfungsi.

Mata, adalah organ yang ada pada jasad untuk melihat. Tetapi tanpa ada ar-ruh, mata itu tidak berfungsi. Ar-ruh pada mata menjadi penglihatan, yaitu kemampuan untuk melihat. Telinga, adalah organ yang ada pada jasad untuk mendengar. Tetapi tanpa ada ar-ruh, telinga tidak berfungsi. Ar-ruh pada telinga menjadi pendengaran. Hidung, adalah organ jasad untuk membaui. Tetapi tanpa ada ar-ruh, hidung tidak berfungsi. Ar-ruh pada hidung menjadi penciuman. Dan secara singkat dapat dikatakan bahwa panca indera yang dikaruniakan Allah kepada manusia itu sesungguhnya merupakan salah satu bukti keberadaan ruh, atau bukti berfungsinya ar-ruh pada jasad.
Bagaimana dengan kenyataan adanya manusia yang tidak dapat melihat, tidak dapat mendengar, meskipun ada padanya mata dan telinga ? Itu adalah bagian dari keganjilan yang disodorkan Allah. Nabi Muhammad SAW pada suatu kesempatan menyatakan, ‘Allah itu ganjil, dan menyukai keganjilan’, sehingga hal-hal yang ‘menyimpang’ dari sesuatu yang ‘semestinya’ adalah bagian dari keganjilan itu, sekaligus untuk menjadi bukti bahwa kemampuan-kemampuan apa pun yang dapat dilakukan oleh manusia adalah karena Allah menakdirkannya. Kalau bukan karena takdirNya, maka manusia tidak akan dapat melakukannya. Begitu juga kalau Allah sudah menakdirkan tidak berfungsinya sebuah organ jasad, maka organ itu pun tidak akan berfungsi.

Kesadaran atas hal-hal seperti itulah yang akan menyebabkan manusia menjadi runduk, atau dalam bahasa agama disebut tawadlu’. Sehingga dapatlah dipahami, jika ada manusia yang takabur, sesungguhnya ketakaburannya itu lahir dari kesadaran spiritualnya yang masih rendah, sehingga dia berani merampas kemegahan Allah. Bukankah dalam satu hadis Qudsi Allah berfirman : ‘Kesombongan adalah jubahKu, barangsiapa merampasnya, maka murkaKu akan menimpanya’. Kita wajib menjauhi manusia yang sombong atau takabur, karena kita khawatir terkena imbas murka Allah.[*]

One response to “Hakikat Manusia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s