Memelihara Diri


Allah berfirman :

Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan kepadamu; dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafa’at yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kamu. Sungguh telah terputuslah (pertalian) antara kamu dan telah lenyap daripada kamu apa yang dahulu kamu anggap (sebagai sekutu Allah). ( QS 6 : 94 ).

Melalui ayat tersebut, sesungguhnya Allah menyuruh kita untuk melakukan muhasabah terhadap diri kita sendiri tentang dari mana asal kita, sedang di mana kita saat ini, lalu ke mana kita setelah ini. Tetapi, Allah justru memulainya dari sesuatu yang amat jauh, yaitu dengan ungkapan “sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya”. Di sini, Allah berbicara tentang masa depan dan masa lalu, dengan titik tolak masa hidup kita sekarang.

Pernyataan tersebut menyadarkan kita tentang dua hal, yaitu :

Pertama, kelak kita akan datang menghadap Allah sendiri-sendiri. Tidak ada yang menemani, sehingga nasib kita di hadapan Allah kelak, ditentukan oleh diri kita sendiri. Tidak ada yang dapat kita andalkan selain diri kita sendiri. Isteri/suami, anak, saudara, kerabat dan sahabat karib kita pun tidak dapat kita andalkan, manakala kita sudah berada di depan sidang pengadilan Tuhan. Masing-masing kita menjadi terdakwa di depan Allah.

Kedua, kita diingatkan bahwa dulu pun – ketika kita datang ke dunia melalui rahim ibu – kita datang sendiri. Walaupun ada manusia yang lahir kembar, tetapi tetap saja mereka masing-masing keluar dari rahim ibu sendiri-sendiri, karena memang sejak nenek moyang manusia – Adam – diciptakan pun, hanya seorang diri, tanpa teman. Menyusul kemudian diciptakanlah Hawa. Penciptaan Adam seorang diri adalah untuk menegaskan bahwa sejatinya, manusia adalah mahluk individual, yang kelak akan menyandang kewajiban individual di hadapan Tuhan. Ini yang disebut hablumminallah. Lalu dengan penciptaan Hawa ditegaskanlah tentang kedudukan manusia sebagai mahluk sosial yang wajib mengembangkan hablumminannas.

Semua itu adalah penegasan bahwa manusia mengemban amanah untuk menjaga keseimbangan hidup dalam segala hal. Keseimbangan hidup dunia dan akhirat, materi dan energi, individu dan masyarakat. Maka umat manusia disebut sebagai ummatan wasathan, umat pertengahan, atau umat yang berada di perbatasan.

Selanjutnya, pada bagian lain ayat ini, Allah menegaskan “dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan kepadamu”. Penegasan ini mengandung dua peringatan, yaitu :

Pertama, peringatan bahwa apa saja yang diperoleh oleh manusia melalui usahanya – entah dia berupa kekayaan, kemasyhuran, kedudukan politik dll – semuanya merupakan karunia Allah. Artinya, jika Allah tidak memberikan karunia itu, maka walaupun manusia berusaha sekeras apa pun, dia tidak akan mendapatkannya. Maka, melalui peringatan ini manusia diminta supaya menyeimbangkan antara ikhtiar dan doa.

Kedua, peringatan bahwa apa saja yang diperoleh oleh manusia itu semuanya akan ditinggalkan, ketika ajal datang menjemput. Manusia yang mampu memahami peringatan ini akan mengaktualisasikannya dengan hidup qonaah, hidup sederhana dan mampu menindas keinginan menumpuk harta benda. Sebaliknya, manusia bodoh adalah mereka yang tidak mampu memahami peringatan ini dan terus menerus mengumbar nafsu untuk menumpuk kekayaan, mempertahankan kedudukan selama mungkin dengan berbagai upaya.

Oleh karena itu, Allah memperingatkan manusia “terputuslah (pertalian) antara kamu dan telah lenyap daripada kamu apa yang dahulu kamu anggap (sebagai sekutu Allah)”. Sungguh manusia layak merenungkan hal ini berulang-ulang, supaya kita makin sadar, apa saja yang kita upayakan dengan berbagai cara, jika tidak disandarkan pada ketentuan Allah, maka hasilnya hanya akan berguna bagi hidup kita di dunia. Begitu ajal datang menjemput, semuanya pun terputus. Tali persaudaraan, tali kekerabatan, tali persahabatan, dan bahkan tali kepemilikan pun putus sudah. Lenyap sudah dari sisi kita. Bahkan sangat boleh jadi, diri kita pun tidak akan dikenang lagi, dilupakan begitu saja betapa pun besar jasa dan pengabdian yang telah diberikan.

Ketika manusia masih hidup, maka anak-isteri, harta-benda, jabatan, kedudukan dan kemasyhuran menjadi sekutu-sekutu Allah. Mereka lebih dicintai daripada Allah. Tetapi kita diingatkan, semuanya itu – pada saatnya nanti – akan terputus, akan musnah, akan lenyap. Maka sungguh tidak pantas jika kita menggantungkan segala harapan kepada yang akan kita tinggalkan.

Marilah kita hanya menggantungkan diri dan harapan kita kepada Allah saja. Dia Yang Maha Hidup dan Dia Yang Maha Kekal, adalah satu-satunya sandaran kita.[*].

2 responses to “Memelihara Diri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s