Fenomena Keteraturan (1)


Tuhan berfirman :

” Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. dan masing-masing beredar pada garis edarnya”. ( QS 36:40 ).

Sebelum matahari terbit, fajar lebih dulu menyingsing seakan-akan memberikan pertanda bahwa malam segera berakhir. Bulan pun (jika tampak), sudah mulai memudar cahayanya. Dia berada di ufuk barat. Sedangkan di ufuk timur, akan tampak terlihat tanda-tanda bahwa matahari akan muncul. Ada semburat warna merah memancar lebih ke arah atas yang makin lama makin bertambah terang bersamaan dengan munculnya matahari. Gelap pun sirna, dan manusia, binatang, tetumbuhan mulai beraktivitas. Burung meninggalkan sarangnya terbang mencari karunia rejeki Tuhan. Kerbau dan sapi di hela ke sawah oleh Pak tani yang harus bekerja mengolah sawah. Tidak ada yang diam terpaku – tentu saja selain manusia malas – berpangku tangan. Semuanya bergerak melakukan aktivitas menjalani hidup di tempatnya masing-masing.

Itulah gambaran sepintas perubahan waktu, dari malam ke siang, yang selalu terjadi setiap hari dari sejak jutaan tahun yang lalu. Tidak ada yang berubah. Semuanya berjalan serupa. Semua manusia di mana pun dan kapan pun akan melihat fenomena itu setiap hari. Kalau pun ada sekelompok manusia yang tinggal di kutub, yang konon, tidak dapat menikmati pergantian hari seperti manusia lain di tempat lain, itu sama sekali bukan pengecualian, melainkan lebih menyangkut soal panjang dan pendeknya waktu saja.

Ada negara-negara yang mendapati waktu malam lebih panjang daripada waktu siangnya dan sebaliknya. Sehingga pada bulan tertentu, penduduk di negara itu harus memundurkan jamnya pada bulan tertentu, dan memajukan lagi jamnya pada bulan tertentu pula. Tetapi ada negara-negara yang perbedaan waktu malam dan siangnya tidak begitu mencolok. Semua itu hanya soal panjang dan pendeknya waktu belaka.

Tetapi, di setiap tempat, manusia akan menyaksikan fenomena alam yang serupa. Matahari terbit di pagi hari dan tenggelam di malam hari. Terkadang kita menyangka bahwa matahari ”benar-benar tenggelam”. Padahal, matahari tidak pernah tenggelam, ia tetap berada di tempatnya, sementara planet yang lain berputar mengelilingi matahari. Planet-planet yang berputar mengelilingi matahari pun berputar pada porosnya sendiri, agar masing-masing memperoleh siraman sinar matahari. Ketika sebagian belahan bumi memunggungi matahari, maka belahan bumi itu berada dalam kegelapan. Manusia menyebutnya malam. Tetapi belahan bumi yang lain mendapatkan siraman sinar matahari sehingga manusia menyebutnya sebagai siang.

Keteraturan ini terus terjaga, dan itulah yang disebutkan dengan sebuah kalimat simbolis : Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. dan masing-masing beredar pada garis edarnya. Bahkan, kalimat simbolis ini, sama sekali bukan hanya sekedar bacaan, namun ia merupakan ungkapan yang nyata dari kehidupan nyata yang sudah berlangsung berjuta-juta tahun lamanya.

Keteraturan ini, pada awalnya, tentu kita anggap sebagai kejadian yang lumrah-lumrah saja, karena memang begitulah semestinya alam ini berjalan. Sehingga banyak di antara manusia yang tidak tergerak hatinya untuk memperhatikan keteraturan alam itu. Hal ini sekaligus menjadi pembuktian yang nyata, bahwa segala sesuatu yang terjadi terus menerus, ( umumnya manusia menyebut sebagai sebuah kebiasaan, maka ia menjadi hal yang biasa ) sehingga akhirnya manusia cenderung tidak memberikan penghargaan yang semestinya.

Walaupun Tuhan sudah memberitahukan : ”Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal” ( QS 3:190 ). Ayat ini, ditujukan bukan untuk sembarang manusia, ia khusus ditujukan bagi manusia yang berakal dan mau memberdayakan akalnya semaksimal mungkin. Karena sebelum ayat itu ditulis di dalam Kitabullah Al Quran, ia sudah diwartakan oleh Tuhan sejak berjuta-juta tahun sebelumnya. Hal ini sebenarnya memberikan indikasi atau petunjuk, bahwa memang sejak dahulu kala, mayoritas manusia adalah bebal, dalam pengertian, mereka tidak mau memberdayakan akalnya secara total, sehingga fenomena keteraturan alam semesta ini tidak menggugah hati dan fikiran mereka untuk mencari informasi lebih mendalam, tentang kemurahan Tuhan tersebut.

Memang ayat yang kita sebut itu, QS 3:190, banyak dibaca orang. Bahkan tidak sedikit yang hafal luar kepala. Tetapi mereka melakukannya karena mitos tertentu, misalnya, ayat tersebut dibaca ketika bangun tidur di sepertiga malam terakhir, sebelum melakukan salat tahajud untuk mengusir kantuk. Walaupun Nabi Muhammad saw memberikan contoh itu, pasti bukan hanya sekedar pengusir kantuk, melainkan ada pesan lebih dalam, yakni supaya manusia tergugah hatinya, merenungkan makna hakikat dari ayat tersebut.(ada sambungannya)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s