Fenomena Keteraturan (2)


Meskipun Al Quran adalah Kitabsuci yang paling banyak dihafal orang di muka bumi, tampaknya hal tersebut tidak cukup membanggakan, jika hanya sebatas pada upaya-upaya mekanis seperti itu. Bahkan, kebiasaan itu sangat berpotensi untuk menimbulkan sikap arogan bagi para penghafal itu, yaitu merasa sudah melakukan hal yang terbaik untuk dirinya dan umat manusia.

Kembali pada fenomena keteraturan alam yang disebut oleh Tuhan menjadi bukti tentang keberadaan Tuhan bagi orang yang memberdayakan akalnya (QS 3:190), sebenarnya merupakan indikasi bahwa untuk memahami kandungan isi Al Quran, manusia harus lebih dulu menemukan apa yang disebut sebagai induk Kitabullah, atau yang dalam bahasa Arab disebut sebagai lauh-mahfudz. Bagi mayoritas manusia, lauh mahfudz adalah ”benda” atau tempat yang tidak kasatmata. Tetapi bagi manusia yang mau memberdayakan akalnya, lauh mahfudz adalah kitab yang tergelar di alam semesta. Jadi, induk Kitabullah adalah alam semesta.

” Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata ” (QS 36:12) adalah pernyataan Tuhan yang paling sahih bahwa lauh mahfudz bukanlah berada di alam ”sana”, melainkan ia digelar dihadapan manusia, bahkan manusia berada di dalam Kitab Induk itu. Perhatikan ungkapan segala sesuatu pada ayat tersebut. Tidakkah tergerak fikiran kita untuk merenungkannya. Segala sesuatu bermakna apa pun, apa saja, atau semua ciptaan Tuhan. Sehingga ayat tersebut dapat dipahami, semua ciptaan Tuhan dikumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata. Lalu, perhatikan frase : yang nyata, dalam ayat itu. Tidakkah tergerak dalam fikiran Anda, bahwa sesuatu yang nyata dia senantiasa dapat dilihat, dapat diraba dan dapat dirasakan. Nyata berarti riil. Lawannya adalah abstrak. Sehingga Kitab Induk yang nyata itu pun dapat dilihat, dapat diraba dan dapat dirasakan. Alam semesta dapat kita lihat, karena kita manusia merupakan bagian dari penduduk alam semesta. Manusia juga dapat meraba, bahkan tidak hanya meraba, tetapi mengolah alam semesta, karena alam semesta adalah wujud yang riil, tidak abstrak. Alam semesta juga dapat dirasakan, bahkan dinikmati.

Perhatikan pula frasa Kami kumpulkan sebagai sebuah penjelasan yang sahih bahwa semua mahluk ciptaan Tuhan memang dikumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata, yakni alam semesta. Sungguh indah Tuhan menggambarkannya.

Lalu, jika kita cukup cermat, maka Kitab Induk itulah yang harus dibaca oleh Nabi Muhammad saw, ketika ia menerima perintah : iqra’ di Gua Hira’. Perintah pertama kepada Sang Rasul itulah yang kemudian mengantarkannya mampu memahami firman Tuhan yang disampaikan kepadanya. Mungkin, lantaran selama ini kita lebih banyak terbelenggu oleh dongeng-dongen tentang bagaimana Nabi Muhammad saw menerima wahyu, akibatnya kita menganggap bahwa hanya seorang Nabi saja yang mampu memahami firman Tuhan.

Perintah iqra’ secara formal memang diberikan kepada Muhammad ibnu Abdillah yang kemudian diangkat menjadi utusan Tuhan atau Rasul. Tetapi, perintah itu tidak hanya untuk Muhammad, melainkan untuk seluruh umat manusia, karena Kitab Induk itu hanya ada satu yang kemudian kita sebut sebagai alam semesta atau lauh mahfudz. Semua kejadian yang kita lihat sekarang, pernah terjadi di masa lalu. Salah satu buktinya adalah pergantian malam dan siang yang selalu terjadi berulang-ulang. Itulah yang dikehendaki oleh Tuhan ketika Dia menyatakan : ”dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata”. (QS 6:59). Sekali lagi, kita menemukan ungkapan kitab yang nyata. Kitab yang nyata, yang ada sejak jutaan tahun yang lalu adalah alam semesta. Semua kejadian yang terjadi hari ini, pernah terjadi jutaan tahun yang lalu. Dan semua itu diketahui oleh Tuhan.

Jika sekarang kita melihat selembar daun gugur dari tangkainya, maka sejuta tahun yang lalu, kejadian serupa itu ada. Jika kita melihat ada daun yang basah karena hujan, maka sejuta tahun yang lalu juga ada kejadian serupa. Jika sekarang kita melihat ada sungai yang banjir, maka sejuta tahun yang lalu, kejadian serupa pun pernah terjadi.

Jaman boleh berubah, tetapi ayat-ayat Tuhan tidak akan pernah berubah. Tidak akan terjadi misalnya, matahari terbit dari utara. Itulah yang disebut sebagai keabadian ayat-ayat Tuhan. Ayat-ayat seperti itulah yang oleh Tuhan diajukan sebagai tantangan agar manusia membuat satu ayat saja yang serupa dengan itu. ”Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal dengan itu, jika mereka orang-orang yang benar” (QS 52:34). Manusia ditantang untuk membuat ayat yang tergelar di alam semesta itu sama artinya dengan sebuah tantangan supaya manusia menerbitkan matahari dari barat, ketika Tuhan menerbitkannya dari timur. Ia bukan sekedar kalimat-kalimat yang tertulis dalam kitab yang oleh orang Islam disebut sebagai mushaf, karena jika hanya sebuah rangkaian kata-kata, tentu banyak manusia dapat melakukannya. Begitu pun, belum tentu ada manusia yang mampu membuat, karena kandungan hikmah dan hakikat yang begitu dalam.

Keteraturan, sebenarnya bukan sebuah fenomena tanpa makna, tetapi ia adalah ayat Tuhan Yang Maha Abadi. Ini sungguh sebuah arena perenungan yang sangat dalam. Jadi, berbeda dengan anggapan orang selama ini, bahwa merenung, bertafakur, bermeditasi, berarti manusia harus menjauh dari masyarakat ramai. Pergi ke gunung, berdiam diri di sebuah gua, lalu duduk memejamkan mata berharap mendapat bisikan gaib. Itu adalah pandangan yang menyesatkan.*(masih bersambung)

3 responses to “Fenomena Keteraturan (2)

  1. Assalamu ‘alaikum Wr Wb..

    Terima kasih Pa Fatchur, subhanalloh.. Alhamdulillah.. Jazakalloh.. Note yang telah menjadi reminder/ rizki pembacanya (termasuk akyuu hehe)… Saya haturkan Jempol atas note ini.

    Berkaitan dengan masalah Iqro, orang-orang beriman tak kan lah mampu mengingkari segala keteraturan yang telah diciptakan Tuhan yang dianugerahkan kepada semua mahlukNya demi menunjang keberlangsungan hidupnya .. Sebagaimana IA berfirman (QS. 32: 4-5);
    4. Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi & apa-apa diantaranya dalam enam (hari/tahap/masa). Kemudian Dia berkuasa atas ‘Arasy. Tiada bagi kamu pelindung selain dari Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?

    5. Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian naik (kembali) kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya seribu tahun menurut hitungan kamu.

    dan ayat lainnya dapat kita simak pula..(QS. 13:2) ;

    Allah yang meninggikan langit tanpa tiang sebagaimana kamu melihatnya, kemudian Dia menuju ‘arasy, dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing beedar, hingga waktu yang ditentukan (kiamat). Allah mengatur urusan (mahluknya), menjelaskan ayat-ayat-Nya supaya kamu meyakini”pertemuan” dengan Tuhan kamu…

    Semoga dapat dimaafkan bila respon saya keliru atau belum memadai…(Hehe) Pada dasarnya hanya karena ungkapan kegembiraan saya atas hadirnya room ini yang dapat mengakomodir sharing ilmu yang bersifat religi..

    Well, pa Fatchur semoga dianugrahi energi yang banyak tuk selalu semangat n exist to share each other.. Salam Nur!

    Wassalam…

  2. Assalamu ‘alaikum Wr Wb..

    Terima kasih Pa Fatchur, subhanalloh.. Alhamdulillah.. Jazakalloh.. Note yang telah menjadi reminder/ rizki pembacanya (termasuk akyuu hehe)… Saya haturkan Jempol atas note ini.

    Berkaitan dengan masalah Iqro, orang-orang beriman tak kan lah mampu mengingkari segala keteraturan yang telah diciptakan Tuhan yang dianugerahkan kepada semua mahlukNya demi menunjang keberlangsungan hidupnya .. Sebagaimana IA berfirman (QS. 32: 4-5);

    4. Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi & apa-apa diantaranya dalam enam (hari/tahap/masa). Kemudian Dia berkuasa atas ‘Arasy. Tiada bagi kamu pelindung selain dari Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?

    5. Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian naik (kembali) kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya seribu tahun menurut hitungan kamu.

    dan ayat lainnya dapat kita simak pula..(QS. 13:2) ;

    Allah yang meninggikan langit tanpa tiang sebagaimana kamu melihatnya, kemudian Dia menuju ‘arasy, dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing beedar, hingga waktu yang ditentukan (kiamat). Allah mengatur urusan (mahluknya), menjelaskan ayat-ayat-Nya supaya kamu meyakini”pertemuan” dengan Tuhan kamu…

    Semoga dapat dimaafkan bila respon saya keliru atau belum memadai…(Hehe) Pada dasarnya hanya karena ungkapan kegembiraan saya atas hadirnya room ini yang dapat mengakomodir sharing ilmu yang bersifat religi..

    Well, pa Fatchur semoga dianugrahi energi yang banyak tuk selalu semangat n exist to share each other.. Salam Nur!

    Wassalam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s