Kekhalifahan Manusia


Firman Allah :

‘ Dan sesungguhnya kamu telah mengetahui penciptaan yang pertama, maka mengapakah kamu tidak mengambil pelajaran ?’ ( QS 56 : 62 ).

Melalui ayat ini, Allah ingin memberitahukan kepada kita tentang pentingnya kita mengambil pelajaran dari proses penciptaan mahluk-mahluk Allah, terutama proses penciptaan manusia. Semua proses terciptanya alam semesta dan mahluk-mahluk Allah mengandung pelajaran yang sangat mendalam, yang manakala kita renungkan, akan menyebabkan kita dapat mengambil peringatan dan memikirkannya. Dan inilah yang disebut sebagai proses kreatif manusia sebagai mahluk Allah yang paling mulia di antara mahluk-mahlukNya yang lain.

Dalam ayat tersebut Allah menggunakan istilah atau frase kamu telah mengetahui penciptaan pertama, untuk menegaskan bahwa sesungguhnya manusia telah mendapat informasi jauh hari sebelum penciptaan pertama itu terjadi. Tetapi, dengan pengabaran ini juga bermakna, Allah menghendaki supaya kita melakukan flash-back atau kilas balik terhadap penciptaan pertama yang telah dilakukan oleh Allah SWT, dan dengan kilas balik itu, kita akan mendapatkan pelajaran yang amat berharga dalam perjalanan hidup kita. Dengan kilas balik itu pula Allah meminta supaya kita mencari informasi, apa sesungguhnya tujuan Allah menciptakan manusia, alam semesta dan seluruh isinya serta menciptakan mahluk-mahluk lain yang tidak dapat dihitung banyaknya itu.

Manusia diciptakan setelah Allah terlebih dahulu menciptakan mahlukNya yang lain seperti malaikat, iblis, alam semesta dan binatang. Informasi ini kita peroleh dari firman Allah kepada malaikat : ‘ sesungguhnya Aku hendak menciptakan manusia sebagai khalifah di bumi’ ( QS 2 : 30 ). Di sini, Allah memberitahukan kepada malaikat tentang mahlukNya yang akan mengemban tugas kekhalifahan, yakni manusia. Khalifah mengemban tugas dan wewenang sebagai penguasa jagad dan sekaligus juga pemegang amanah Allah atas kelangsungan hidup alam semesta.

Ini jelas bukan tugas yang mudah, apalagi karena sebelumnya, amanat yang harus dipikul oleh manusia itu telah ditawarkan kepada matahari, gunung dan mahluk Allah lain. Semuanya menolak, dan hanya manusia yang kemudian menerima tanggungjawab itu. ‘Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.’ ( QS 33 : 72 ).

Walaupun demikian, jika kita cermat membaca al Quran, maka akan kita dapati, sesungguhnya tugas kekhalifahan, yang berarti tugas mengemban amanat itu, sudah inheren, sudah melekat kepada diri manusia, karena memang untuk tujuan itulah Allah menciptakan manusia.

Allah berfirman : ‘Tidak Aku ciptakan jin manusia, melainkan untuk mengabdi kepadaKu’. Itulah tugas utama manusia, yakni mengabdi kepada Allah. Tugas pengabdian ini wajib dilaksanakan oleh manusia dengan memanfaatkan potensi yang telah dikaruniakan Allah kepadanya. Pertama, manusia mesti menyelaraskan diri dengan kehendak Allah dalam nama dan sifat-sifatNya. Allah disebut Ar-Rahman dan Ar-Rahim atau Maha Pengasih dan Maha Penyayang, sehingga manusia pun wajib menaburkan kasih sayang. Tidak saja kepada sesama manusia, namun juga kepada binatang, tetumbuhan dan alam semesta. Bahkan dalam menaburkan kasih sayang itu pun, manusia hendaknya tidak membeda-bedakan manusia menurut kelompok agama, suku, ras maupun bangsa, namun manusia secara universal.

Allah juga disebut As-Shobur, Yang Maha Sabar, maka manusia pun wajib menjabarkan sifat sabar dalam perilaku hidupnya berinteraksi dengan sesama dan alam semesta. Allah pun disebut Al-Lathif, Yang Maha Lembut, maka manusia pun wajib menjabarkan sifat lemah lembut dalam kehidupannya.

Kedua, manusia mesti memanfaatkan kuasa Allah yang diberikan kepadanya sesuai dengan tujuan Allah. Artinya, manusia harus menyerahkan dirinya kepada Allah untuk dimanfaatkan oleh Allah untuk mencapai tujuan-tujuan Allah. Manusia harus menyiapkan diri untuk menerima perintah dan melaksanakannya, karena di dalam perintah itu terkandung tujuan-tujuan yang hendak dicapai oleh Allah.

Kedua langkah itulah yang disebut sebagai hablum-minallah dan hablum-minan-nas yang berjalan beriringan. Hablum-minallah, dilaksanakan dengan rajin melakukan ikhtiar dan amaliah rohaniah atau spiritual, sedangkan hablum-minan-nas dilakukan dengan rajin dan taat melaksanakan syariat yang telah ditetapkan oleh Allah dan RasulNya. Ada kalanya, hablum-minallah dilaksanakan terpisah dengan hablum-minan-nas, yakni manakala manusia melaksanakan ketaatan yang bersifat individual, seperti melakukan tafakur, munajat, mujahadah, mukhasabah, musyahadah dan mukasyafah. Adakalanya juga hablum-minan-nas dilaksanakan terpisah dengan hablum-minallah, yakni manakala manusia melaksanakan ketaatan yang bersifat kolektif, seperti bertakziah, bermusyawarah membicarakan kepentingan-kepentingan umum, bergotongroyong dan lain-lain. Tetapi ada juga saatnya hablum-minallah dan hablum-minan-nas dilaksanakan secara bersama-sama, yakni ketika melaksanakan ketaatan ibadah seperti salat berjamaah, menunaikan ibadah haji, membayar zakat dan lain-lain.

Meskipun demikian harus tetap disadari, bahwa baik hablum-minallah dan hablum-minan-nas itu adalah sebuah paket ketaatan yang harus dilaksanakan secara utuh oleh manusia dalam segala kondisi, karena disitulah letak tugas dan fungsi kekhalifahan manusia di muka bumi ini.

Wallohua’lam.[*]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s