Kemenangan Sejati


Allah berfirman :

“ Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang- orang yang mendapat kemenangan.” ( QS 24 : 52 )

Melalui ayat ini Allah memberikan informasi kepada kita mengenai kemenangan yang sejati. Berbeda dengan pandangan kita tentang kemenangan, maka Allah menginformasikan bahwa kemenangan itu sesungguhnya bukan berapa banyak musuh yang dapat kita kalahkan, atau berapa banyak negara yang dapat kita taklukan. Perbedaan persepsi kita dengan informasi Allah itu menunjukkan tentang kecenderungan kita untuk mengikuti gejolak nafsu daripada menggunakan akal sehat.

Manusia selalu beranggapan bahwa kemenangan itu karena kita dapat mengalahkan orang lain dalam hal apa saja. Para pedagang, mengklaim dapat memenangkan persaingan jika dia mampu menundukkan pesaingnya sampai bangkrut. Para politikus mengklaim mampu memenangkan pesaingnya, jika ia telah dapat merebut kekuasaan politik dengan menjadi Presiden, Gubernur, Bupati atau Walikota. Para pendekar mengklaim dapat memenangkan pertarungan jika dia mampu membunuh lawannya.

Persepsi kita – manusia – jika berbicara tentang apa saja, termasuk jika hendak merumuskan apa arti kemenangan, selalu mengarahkan pandangannya ke luar dirinya. Tetapi, Allah menginformasikan hal yang berbeda. Melalui ayat yang kita cuplik Allah menyebut orang-orang yang mendapat kemenangan adalah mereka yang (1) taat kepada Allah, (2) taat kepada Rasul, (3) takut kepada Allah dan (4) bertakwa kepada Allah. Tidak ada satu pun keterangan yang menginformasikan kepada kita bahwa kemenangan itu berhubungan dengan manusia lain.

Pertama, taat kepada Allah, mengandung pengertian kesediaan untuk melaksanakan perintah tanpa membantah dan mencari-cari alasan pembenaran. Apa yang Allah perintahkan, maka sikap manusia yang mendapat kemenangan adalah jawaban “sami’na wa atho’na”, saya mendengar perintahMu ya Tuhan, dan saya siap melaksanakan dengan taat. Meskipun demikian, marilah kita sadari, bahwa ucapan seperti itu adalah ucapan yang lahir dari pola jiwa orang yang sudah tahu dan mengenal eksistensi Allah dalam dirinya. Orang yang telah sadar tentang posisi dirinya dan posisi Allah, bukan hanya dari hasil membaca buku-buku atau kitab-kitab, melainkan dari suatu pengalaman rohaniah yang mengesankan. Ibarat orang yang sudah bangun dari tidur nyenyaknya sehingga dia tahu di mana dia berada dan untuk apa keberadaannya.

Ketaatan juga hanya akan muncul pada orang yang sudah mampu melepaskan diri dari berbagai kepentingan dirinya dan siap menjadi pelayan Allah dan pelayan manusia. Melayani Allah, itu yang dinamakan hablum-minal-lah, dan melayani manusia, itu yang disebut hablum-minan-nas. Sehingga kemenangan menurut Allah, hanya dimiliki oleh orang-orang yang mampu menjalin hubungan baik dengan Allah dan dengan sesama manusia. Ingat : sesama manusia. Artinya, manusia siapa saja, baik yang sebangsa maupun tidak, seagama maupun tidak, sesuku maupun tidak, tetapi semua manusia tanpa membeda-bedakan asal usul, kebangsaan dan keagamaan seseorang, karena Allah menyebutnya dengan istilah hablum-minan-nas, hubungan dengan sesama manusia.

Kedua, taat kepada Rasul, mengandung pengertian kesediaan untuk meneladani Rasul dalam segala hal, tanpa mencari-cari alasan untuk mentaati atau menolak. Seringkali manusia terjebak oleh suatu kondisi yang penuh pertentangan, yang dibuatnya sendiri. Misalnya, dengan senantiasa menanyakan dasar hukumnya. Pertanyaan ini sebenarnya merupakan jebakan yang kita buat sendiri. Karena, begitu pertanyaan itu kita lemparkan, maka sesungguhnya kita telah melemparkan diri dalam perdebatan yang sengit, panjang dan melelahkan. Habis energi kita hanya untuk membicarakan hal itu tanpa kita pernah berbuat sesuatu yang dapat dirasakan manfaatnya oleh sesama manusia. Kita sibuk berdebat, bukan sibuk melayani.

Jika kita berbicara mengenai keteladanan Rasul, marilah kita sadari bersama, bahwa keteladanan Rasul adalah keteladanan yang paripurna, meliputi keteladanan laku jasmani dan keteladanan dalam laku rohani. Laku jasmani menyangkut keteladanan Rasul dalam habulum-minan-nas, dan laku rohani menyangkut keteladanan Rasul dalam hablum-minal-lah. Dan selama ini, kita lebih banyak mengarahkan pandangan kita kepada laku jasmani, sehingga tiap kali berbicara tentang keteladanan Rasul, yang muncul kemudian adalah bagaimana hubungan Rasul dengan isteri-isterinya, hubungannya dengan anak dan cucunya, bagaimana Rasul makan, bagaimana Rasul tidur, dan seterusnya. Itu baru sebagian dari keteladanan Rasul yang paripurna.

Ada keteladanan lain yang tentu harus kita ikuti juga, yaitu keteladanan dalam hal laku rohani. Marilah kita sibuk mencari tahu, apa yang dilakukan Rasul selama lebih dari 15 tahun bertafakur di Gua Hira ? Bagaimana Rasul melakukan tafakur ? Seperti apa metode Rasul dalam bertafakur, sampai-sampai beliau menyatakan bahwa “tafakur satu menit lebih baik daripada salat 50 tahun”. Marilah kita menyadari, ada sesuatu yang disimpan rapi oleh Rasul mengenai tafakur ini. Sesuatu yang disimpan rapi itu pasti sesuatu yang sangat penting dan tidak boleh diperlakukan sembarangan, sehingga layak kiranya jika kita bertanya, jangan-jangan kemampuan tafakur dengan metode Rasul itulah yang menyebabkan manusia dapat salat khusyuk. Tetapi, kita justru mencari-cari buku metode salat khusyuk yang dikarang oleh manusia, bukan dengan mengikuti teladan Rasul.

Ketiga, bertaqwa kepada Allah, dan keempat, takut kepadaNya. Antara taqwa dan takut memang saling berdampingan, dan hampir-hampir sulit dibedakan. Taqwa adalah kesadaran tentang eksistensi Allah pada diri manusia, sehingga siapa pun yang memiliki kesadaran ini, akan takut untuk melakukan tindakan tercela. Allah itu disebut al-Ghaib, sehingga orang yang bertaqwa adalah dia yang beriman kepada al-Ghaib. Allah adalah Zat yang wajib disembah, maka orang yang bertaqwa adalah dia yang dengan sungguh-sungguh mendirikan salat. Allah adalah ar-Rozaq, Sang Maha Pemberi Rezeki, maka orang yang bertaqwa kepada Allah adalah dia yang mau berbagi rezeki dengan orang lain. Allah adalah al-Munzil, Yang Maha Menurunkan Segala Sesuatu, maka orang yang bertaqwa adalah orang yang beriman kepada apa-apa yang diturunkan Allah kepadanya dan kepada orang-orang sebelum mereka. Allah disebut al-Akhir, yang paling penghabisan. Secara lengkap sering disebut Huwal awwalu wal akhiru, Dialah Yang Mahaawal dan Yang Mahaakhir. Maka orang yang bertaqwa adalah dia yang meyakini bahwa setiap sesuatu akan berakhir, kecuali Allah. Sehingga orang yang taqwa tidak akan pernah mengeluh ketika sulit dan ditimpa musibah, sebaliknya, tidak akan terlalu bergembira ketika lapang dan mendapatkan kegembiraan. Orang yang bertaqwa adalah golongan ummatan wasathon, umat pertengahan, umat yang senantiasa menjaga keseimbangan.

Demikianlah arti manusia yang mendapat kemenangan menurut Allah, sehingga kalau mau disimpulkan juga maka orang-orang yang mendapat kemenangan adalah orang yang telah mengenal Allah secara kaffah, secara paripurna.

Wallohua’lam.[*]

4 responses to “Kemenangan Sejati

  1. kemenangan lahiriah sperti itu yg dilihat oleh kebanyakan orang dan kemenangan sejati hanya dpt dilihat oleh segelintir orang dan semoga bapa adalah salah satunya dr segelintir itu (Allah memberi karunia kpd yg Dia Kehendaki). Ketika ruhani kita dibangunkan kembali dengan hakNya maka kita sperti dilahirkan kembali, dan kita akan mendapat “ilmu langsung dr sisiNya” bukan dari kitab2 yg “disusun” oleh manusia. Smoga kita menjadi yg segelintir itu dan mendapatkan pengalaman yg mengesankan hingga kita (dengan rahmatNya) menatap terus IndahNYa..Wallahualam, mohon do’akan sy..

  2. jalan telah tebentang..
    penuh onak, semak belukar dan binatang buas..
    tak mungkin bisa terlewati….
    tanpa petunjuk dan alat untuk menebas rintangan
    tanpa tahu akan dapat apa di sebrang sana….
    kecuali berusaha terus dan terus…
    hanya berharap Ridho-Nya…..
    tuk bisa kembali ke Haribaan-Nya dengan sempurna….dan inilah KEMENANGAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s