Fenomena Keteraturan (4)


Tetapi sebelum kita membahasnya lebih mendalam, ada baiknya kita melihat hal ini dari sisi kun terlebih dahulu. Tuhan menginformasikan ”apabila Dia menghendaki sesuatu, Dia hanya berkata : kun, maka jadilah” (QS 36:82). Sengaja kata kun tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, karena kun adalah Bahasa Tuhan ketika Dia hendak menciptakan sesuatu.

Selama ini, pemahaman manusia atas kun memang terlalu sederhana sehingga manusia menyangka bahwa Tuhan – dalam menciptakan sesuatu – tidak membutuhkan proses, sebagaimana manusia harus menempuh serangkaian proses sebelum membuat sesuatu.

Ayat yang menjelaskan bahwa Tuhan menciptakan bumi dan langit – yang berarti alam semesta – dalam enam masa, membantah pemahaman klasik manusia tentang kun itu. Sehingga pemahaman tentang kun memang sudah seharusnya direkonstruksi. Karena, enam masa itu menunjukkan tentang adanya proses terciptanya alam semesta. Semuanya itu melalui kun.

Ketika Tuhan berkehendak untuk menciptakan alam semesta, Dia memang tinggal mengucapkan kun, lalu terciptalah anasir-anasir atau unsur dari alam semesta. Inilah masa pertama penciptaan alam semesta, dalam bentuk unsur dan sama sekali belum berbentuk materi. Unsur atau anasir-anasir yang dimaksud itu adalah anasir air, api, angin dan tanah yang semuanya berbentuk (tentu saja jika bisa disebut bentuk) cahaya yang berbeda-beda. Unsur atau anasir-anasir itu dapatlah disebut sebagai mahluk pertama yang Dia ciptakan. Kemudian dari mahluk pertama itulah diciptakannya segala sesuatu, sebagai pertanda bahwa kun sudah mulai berproses.

Kemudian pada masa kedua, dari unsur atau anasir-anasir itu diciptakanlah materi atau benda, yang berwujud benda padat, benda cair dan gas yang merupakan kristalisasi dari anasir-anasir yang telah Dia ciptakan pada masa pertama. Penciptaan benda-benda ini pada dasarnya adalah merupakan bahan dasar dari semua mahluk Tuhan berikutnya. Ini dapat dibuktikan, bahwa semua ciptaan Tuhan yang berwujud, ia mengandung atau merupakan kesatuan dari benda padat, benda cair dan gas.

Masa ketiga, dari benda-benda itu, Tuhan menciptakan matahari, bulan, bintang dan bumi. Manusia modern menyebutnya sebagai planet. Matahari, bulan, bintang dan bumi masing-masing tentu mengandung atau merupakan kesatuan benda padat, benda cair dan gas. Bumi – yang didiami oleh manusia – telah memberikan bukti tentang hal tersebut. Itulah sebabnya, manusia senantiasa tertantang untuk mencari tahu atau mencari jawaban, apakah di planet lain ada kehidupan atau tidak. Planet lain adalah matahari, bulan dan bintang. Sampai saat ini, manusia terus melakukan berbagai macam percobaan dan eksplorasi yang tidak kenal henti, terutama dilakukan oleh para ilmuwan di negara-negara maju.

Setelah Tuhan menciptakan planet pada masa ketiga, masa penciptaan berikutnya, yaitu masa keempat, Tuhan menciptakan neraca, mizan yaitu keseimbangan. Dalam bahasa yang sederhana, Tuhan menyebut : ”dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu selalu ingat” (QS 51:49). Ada dua tujuan, mengapa Tuhan menciptakan segala sesuatu berpasangan, misalnya, ada siang dan malam, ada lelaki dan perempuan, ada langit dan bumi, ada akhirat dan dunia dan seterusnya. Pertama, Tuhan ingin memberitahu bahwa hanya Dia Yang Tunggal, dan selain Dia selalu ada pasangannya. Dia Yang Tunggal, tidak membutuhkan bantuan siapa pun, sedang mereka yang berpasangan selalu membutuhkan pertolongan pihak lain, baik pertolongan dari pasangannya maupun pertolongan dari Tuhan. Kedua, Tuhan ingin memberitahukan kepada mahlukNya bahwa mereka semua membutuhkan kendali dari pasangannya, agar tercipta keseimbangan yang saling menguntungkan. Maka, jika Tuhan menciptakan penyakit, Dia pun menciptakan pengendalinya, yaitu obat.

Pada masa berikutnya, yaitu masa kelima, Tuhan menciptakan sistem, yang akan mengatur dan menggerakkan planet-planet tersebut dalam satu kesatuan dan pengendalian keseimbangan. Sistem yang diciptakan oleh Tuhan ini dapat disebut sebagai sistem Tuhan, atau dalam Bahasa Arab disebut dinullah. Semua mahluk ciptaan Tuhan yang ada di planet mana pun harus masuk ke dalam sistem atau dinullah itu baik karena suka atau terpaksa. ”Maka apakah mencari sistem yang lain dari sistem yang telah dibuat oleh Tuhan, padahal kepadaNya-lah tunduk semua yang ada di langit dan di bumi baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Tuhanlah mereka dikembalikan (QS 3:83). Semua tunduk patuh, masuk ke dalam sistem Tuhan, sehingga sistem Tuhan atau dinullah itu disebutNya sebagai Islam yang bermakna tunduk-patuh atau pasrah-total masuk ke dalam sistem Tuhan dan bergerak di dalam sistem sebagai sub sistem. Semua mahluk ciptaanNya – kecuali manusia – telah berada di dalam sistem itu sejak awalnya. Manusia menjadi pengecualian, sehingga perlu dibahas lebih mendalam dalam bagian yang lain.

Di sini dapatlah dipahami benar, bahwa Tuhan tidak mungkin memiliki lebih dari satu sistem. Hanya ada satu sistem, atau hanya ada satu din, yaitu dinullah. Semua ciptaan Tuhan berada – suka atau tidak suka – dalam sistem ciptaanNya.

Pada masa berikutnya, yaitu masa keenam, barulah Tuhan menciptakan kehidupan, sehingga semua mahluk ciptaanNya yang ada di alam semesta ini hidup dan bergerak menurut sistem yang sudah Dia ciptakan. Misalnya, matahari sebagai pusat planet, dia dikelilingi oleh bulan, bintang dan bumi yang selalu berputar mengelilingi matahari. Pada saat yang bersamaan, mereka pun berputar pada porosnya masing-masing. Semua itu menunjukkan bahwa bulan itu hidup, bintang itu hidup dan bumi pun hidup. Artinya mereka tidak statis, mereka terus bergerak, dan pergerakan mereka menghasilkan energi. Masing-masing energi saling memengaruhi. Akibatnya terjadilah pergantian musim, misalnya. Semua itu terjadi karena ada kehidupan yang diciptakan oleh Yang Maha Hidup, yaitu Tuhan.(mohon bersabar menunggu sambungannya)

2 responses to “Fenomena Keteraturan (4)

  1. Bismillahirrohmanirrohiim

    K U N = KAF & NUN

    menurut esensinya terhadap manusia :
    1) bagi manusia yang beriman, KUN merupakan gabungan antara Kaf Kamaliyah ( kesempurnaan) dan Nun Ma’rifah ( pengetahuan tentang Tuhan).
    QS. Al. Maidah (5) : 3
    “Pada hari itu telah KU sempurnakan untukmu agamamu,dan telah Ku-cukupkan nikmat-Ku dan telah Ku- ridhoi Islam itu menjadi agama bagimu.”

    2) bagi manusia yang kafir ( masih terhijab), KUN merupakan gabungan antara Kaf Kufriyyah (kekufuran) dan Nun Nakirah (ketidak tahuan)
    QS. Al Baqoroh : 253
    “Maka diantara mereka ada yang beriman dan ada yang kafir (terhijab)”

    Bagi manusia yang BERIMAN, dengan adanya keinginan yang kuat (taubatan nashuha) dengan ditambahkan Hidayah dari Allah SWT maka akan menjadi manusia yang sempurna. QS. Ali Imron : 110
    “kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah.”

    sedangkan bagi manusia yang KAFIR (terhijab), apabila tdak mendapat hidayah dari Allah SWT maka akan sulit dalam menterjemahkan ayat-ayat Tuhan, karena mereka menafsikannya berdasarkan persangkaan mereka juga karena hati mereka telah ditutup oleh Allah SWT. QS> Az Zumar : 22
    “Maka apakah sama orang2 yang dibukakan hatinya oleh Allah untuk (menerima) agama Islam (berserah diri secara total) lalu dia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang MEMBATU HATINYA)?
    Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah SWT. Mereka itu dalam kesuliatan yang nyata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s