Membangkang pada Allah (4)


Takdir dan perlakuan Allah berbicara kepada Manusia. Allah menggerakkan lisan manusia di dunia sebagaimana anggota-anggota tubuh mereka akan berbicara kelak pada Hari Kiamat. Allah berbicara dengan manusia sebagaimana setiap penutur berbicara dan sebagaimana setiap materi berbicara. Allah memudahkan bagi mereka sebab-sebab pembicaraan sehingga mereka bisa berbicara. Apabila Allah menghendaki sesuatu, Dia akan memudahkan mereka untuk DiriNya. Dia berkehendak untuk menyampaikan kepada manusia peringatan dan berita gembira agar keduanya menjadi hujjah atas mereka. Kemudian berbicaralah para Nabi dan para Rasul Allah. Lalu, tatkala Allah memanggil mereka keharibaanNya, para ulama ganti melakukan tugas-tugas para nabi dan rasul dengan ilmu mereka. Rasulullah saw bersabda, “Ulama adalah pewaris para nabi.”

Engkau juga sudah selayaknya bersyukur kepada Allah atas segala nikmat-Nya, dan selalu menaruh perhatian pada nikmat-nikmat itu. Allah berfirman :

Nikmat apa pun yang ada padamu adalah dari sisi Allah. (QS 16:53).

Di manakah sikap syukurmu, jika engkau mengabaikan nikmat-nikmat Allah dan menganggap bahwa nikmat itu bukan berasal dariNya ? Sekali waktu kau melihat nikmat itu bukan berasal dari sisiNya ; sekali waktu kau melepaskannya dan malah melihat sesuatu yang tidak ada pada dirimu; sekali waktu pula kau menuntut nikmat itu kembali untuk kemudian digunakan dalam kemaksiatan kepadaNya.

Khalwatmu memerlukan sikap wara’ untuk mengeluarkanmu dari berbagai kemaksiatan dan kesia-siaan. Sementara sikap muraqabah (merasa diawasi Allah) akan mengingatkanmu untuk selalu memperhatikan Allah. Engkau benar-benar membutuhkan semua itu ada bersamamu. Engkau pun membutuhkan upaya memerangi diri, hawa nafsu, dan setan. Sebab, jatuhnya kebanyakan manusia adalah karena kesia-siaan; jatuhnya orang-orang zuhud adalah karena syahwat; jatuhnya pada abdal (wali) adalah karena bayangan pemikiran dan berbagai keinginan nafsunya di dalam khalwat; sementara jatuhnya para shiddiqin adalah karena berbagai kenikmatan.

Oleh karena itu, mereka sibuk memelihara hatinya. Mereka tidur di depan pintu Allah dan berdiri terjaga di atas maqam dakwah. Mereka menyeru manusia untuk mengenal Allah. Mereka senantiasa menyeru hati-hati manusia. Mereka berseru “wahai segenap hati, wahai semua arwah, wahai manusia, wahai jin, wahai yang menghendaki Allah; matilah kita menuju pintu Allah, kita pergi berjalan menujuNya dengan kaki hati kita; dengan kaki ketakwaan kita, tauhid kita, makrifat kita, wara’ kita, dan dengan kezuhudan kita di dunia dan akhirat serta segala sesuatu selain Allah”.

Demikianlah kesibukan mereka. Perhatian mereka tertumpah pada upaya memperbaiki manusia. Perhatian mereka meliputi langit dan bumi. Oleh karena itu, hendaklah engkau juga meninggalkan diri dan hawa nafsumu.

Jadilah bumi di bawah telapak kaki mereka dan jadilah tanah di hadapan mereka. Allah mengeluarkan kehidupan dari kematian dan mengeluarkan kematian dari kehidupan (QS 30:19). Dia mengeluarkan Ibrahim dari bapaknya yang mati dalam kekafiran.
(masih bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s