Menyikapi Ujian Allah


Allah swt berfirman :

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. ( QS 2 : 155 ).

Ayat ini termasuk ayat yang amat sering disampaikan oleh para juru dakwah, para mubaligh dan para guru dalam konteks untuk memberikan ketenteraman dan kedamaian kepada orang-orang yang sedang menghadapi kesulitan hidup. Maksud mereka tentu untuk menanamkan kembali harapan bahwa semua itu memang merupakan bagian dari perjalanan hidup manusia.

Tetapi tidak jarang juga ayat ini dipakai sebagai pembenaran atas sikap putus asa yang muncul akibat kesulitan hidup manusia. Terutama setelah berbagai upaya dilakukan untuk mengatasi kesulitan tersebut tidak kunjung membawa hasil. Lalu dipakailah ayat ini untuk menghibur diri sendiri.

Sesungguhnya, ayat yang sedang kita bicarakan ini merupakan sumpah Allah bahwa manusia tidak akan dapat lepas dari rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dalam ayat ini, Allah menggunakan kata ganti Kami sebagai subyek kalimat, bukan Aku. Penggunaan kata ganti Kami tentu mengandung makna mendalam dan tersembunyi yang harus mampu dipecahkan, sehingga manusia akan dapat mengetahui arah datangnya rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan itu. Penggunaan kata ganti orang ketiga jamak Kami mengandung pengertian adanya kebersamaan atau kesatuan.

Mari kita bandingkan dengan ayat ini :

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. ( QS 14 : 7 ).

Pada ayat ini, Allah mengingatkan “sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”, dengan memakai kata ganti orang pertama tunggal, yaitu Aku. Penggunaan kata ganti orang pertama tunggal, mengandung makna kesendirian atau kemutlakan, yakni dalam pemberian atau penjatuhan hukuman berupa azab. Dan dalam ayat ini pula, pertama kali dimaklumatkan supaya manusia bersyukur, lalu diikuti pernyataan “pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu”. Makna, kesyukuran manusia akan berimplikasi pada melimpahnya tambahan nikmat dari segala penjuru, bahkan termasuk alam, bumi, laut, langit pun melipatkan hasilnya. Karena rasa syukur yang dimaksud adalah : memelihara fasilitas hidup yang dikaruniakan Allah berupa kekayaan alam, sehingga tidak terjadi kerusakan. Karena alam terpelihara, maka hasilnya pun akan terus meningkat.

Alam semesta, bumi dan air dan seluruh isinya adalah pemberian Allah kepada manusia. Semua itu adalah mahluk Allah yang dikuasakan pengelolaannya kepada manusia. Jika manusia memelihara, maka alam semesta, bumi dan air serta seluruh isinya pun akan berterimakasih kepada manusia dengan memberikan hasil yang meningkat.

Oleh karena itu, dalam surat Al Baqarah ayat 155, Allah menggunakan kata ganti orang ketiga jamak yaitu Kami, ketika Dia hendak bersumpah “akan Kami berikan cobaan” dengan maksud supaya manusia peduli terhadap lingkungan hidup berupa alam semesta, bumi dan air serta seluruh isinya.

Lalu, cobaan yang diberikan itu pun berupa : “sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan”. Perhatikanlah. Di situ Allah menyebut berbagai bentuk cobaan dalam kata keadaan atau kata sifat, yaitu ketakutan, yang bermakna keadaan atau sifat takut, atau juga rasa takut. Lalu kelaparan, dalam arti keadaan lapar atau sifat lapar, atau juga rasa lapar. Kemudian kekurangan, dalam arti keadaan kurang atau sifat kurang, atau juga rasa kurang. Sehingga dapat dipahami bahwa cobaan itu tidak selalu dalam bentuk kebendaan, melainkan juga dalam bentuk keadaan merasa takut, merasa lapar dan merasa kurang.

Merasa takut itu pun implikasinya sangat luas, yaitu merasa takut jabatannya hilang, merasa takut pengaruhnya hilang, merasa takut hartanya berkurang. Pada intinya perasaan tersebut menyebabkan munculnya perasaan tidak tenang, selalu gelisah, penuh rasa curiga kepada orang lain, maupun bangkitnya nafsu untuk mempertahankan apa yang ada di dalam genggaman tangannya, karena merasa bahwa semua itu adalah hak dan miliknya. Padahal, semua itu adalah milik Allah dan hak Allah.

Begitu pun merasa lapar, jangan diartikan semata-mata lapar karena perut tidak diisi atau karena tidak makan. Rasa lapar ini hakikatnya merupakan gejolak kuasa nafsu yang ingin selalu dipenuhi. Kata lapar di sini adalah simbolisasi dari kuasa nafsu yang ingin selalu dimanja.

Sedangkan merasa kurang hartanya, jiwanya dan buah-buahannya itu juga merupakan simbolisasi sifat rakus, seberapa banyak pun harta yang dimiliki, dia tetap masih merasa kurang, seberapa banyak pun buah-buahan – hasil bumi – yang dimiliki masih tetap dirasa kurang. Maka, acapkali Allah menyindir manusia dengan simbol binatang kera, yang dengan dua tangan dan dua kakinya memegang makanan, kantong dimulutnya dipenuhi makanan pun masih terus berusaha meraih yang lain.

Maka, dapatlah dimengerti di sini bahwa cobaan yang diberikan oleh Allah itu sejatinya berupa gejolak dan intimidasi dari nafsu-nafsu yang bersarang di dalam diri manusia. Itulah sebabnya Allah menyatakan : “berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar”, yakni orang-orang yang tetap menyadari bahwa segala sesuatu itu berasal dari Allah, dan keberadaannya ditentukan oleh Allah. Orang yang tidak pernah merasa memiliki apa pun, kecuali merasa bahwa apa pun yang ada di tangannya itu adalah amanat atau titipan dari Allah. Orang yang jiwanya tidak terikat kepada gemerlap dunia dan isinya. Orang yang senantiasa berharap hanya ingin menemui Allah yang dicintainya.

Dan, hanya Allah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu.[*].

2 responses to “Menyikapi Ujian Allah

  1. Indah sekali uraian ini ….. sangat insfiratif … sering sekali para juru dakwah yang hanya menakut-nakuti dalam dakwahnya sehingga orang takut akan ujian dari Allah … karena ada anggapan bahwa semakin tinggi ilmu seseorang akan semakin berat juga ujian …. sehingga tidak sedikit orang yang berhenti dalam perjalanan karena takut diuji dengan yang lebih berat ….. cukuplah sampai disini !!. Kebanyakan orang tak mau lagi menyelam lebih dalam karena takut ….. !!

    • terimakasih atas tanggapan dan tambahan catatannya. Memang sejatinya, ujian lebih menyentuh pada sisi dalam diri manusia, yakni perasaan yang meliputi qolbu kita. Sebenarnya tidak ada hal yang patut ditakutkan, tetapi perasaan kitalah yang menyatakan adanya ancaman, rasa takut kehilangan sesuatu yang ada di dalam genggaman kita, entah itu harta, jiwa dan bahan makanan. Padahal semuanya milik Allah, berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s