Para Penghalang Jalan Allah


Firman Allah : “Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Allah menyesatkan perbuatan-perbuatan mereka”. ( QS 47 : 1 ).

Melalui firmanNya itu, Allah memberikan informasi tentang adanya segolongan manusia yang berpenyakit, yaitu kafir dan menjadi penghalang jalan Allah. Mereka adalah kelompok manusia yang paling berbahaya, bukan karena mereka adalah kelompok pembunuh melainkan karena mereka adholla a’maluhum atau Allah menyesatkan perbuatan-perbuatan mereka. Padahal, jika Allah sudah menyesatkan, maka mereka tidak akan pernah akan memperoleh petunjuk. Oleh karena itu, Allah memperingatkan manusia tentang adanya kelompok berbahaya ini, supaya manusia tetap sabar dan teguh hati jika bertemu dengan mereka.

Kelompok manusia ini banyak disebut dalam Al Quran, sebagai indikasi tentang begitu berbahayanya mereka. Sebab, selain Allah menyesatkan perbuatan-perbuatan mereka, yang bermakna bahwa mereka tidak akan pernah menapaki jalan Allah, sehingga betapa pun tingginya ilmu yang mereka miliki, mereka tetap saja akan tersesat. Bahkan, Allah akan menghapus semua amal mereka sebagaimana firmanNya : “Sesungguhnya orang-orang kafir dan (yang) menghalangi manusia dari jalan Allah serta memusuhi Rasul setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, mereka tidak dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun. dan Allah akan menghapuskan (pahala) amal-amal mereka. ( QS 47 : 32 ).

Pada ayat tersebut Allah bahkan telah menabuh genderang perang terhadap para penghalang jalan Allah melalui pernyataan mereka tidak dapat memberi mudarat kepada Allah sedikit pun. Pernyataan ini menjelaskan dengan terang bahwa para penghalang jalan itu tidak akan pernah menang sedikit pun. Apalagi karena Allah sudah memberikan petunjukNya dengan sangat jelas melalui para RasulNya. Kebencian para penghalang itu tidak berhenti sampai di situ, karena mereka pun memusuhi Rasul.

Meskipun demikian, kita tidak seharusnya bersikap a-priori, apalagi dengan serta merta menunjuk hidung menuduh orang yang tidak sejalan dengan keyakinan dan sikap kita sebagai para penghalang jalan Allah. Sebaliknya, saya justru ingin mengajak, marilah kita melakukan introspeksi, mawasdiri, apakah dalam diri kita ada sifat yang mengarah pada perilaku sebagai penghalang jalan Allah atau tidak.

Nah, untuk melakukan introspeksi ini diperlukan sikap yang jelas dari diri kita. Pertama, kita harus bersikap jujur, terutama jujur pada diri sendiri. Artinya, ada keberanian pada diri kita untuk mengakui kesalahan kita dan pada saat yang bersamaan mengakui kebenaran orang lain. Kedua, kita harus bersikap tawadlu, rendah hati dengan usaha keras menundukkan ego kita. Artinya, ada keberanian pada diri kita untuk tidak membanggakan asal usul keturunan kita, kepandaian kita, kekayaan kita, jabatan kita dan segala atribut duniawiah kita. Ketiga, kita harus berani memerdekakan diri kita, memerdekakan akal fikiran dan kehendak kita dari ruang sempit pemahaman mazhab, kelompok sektarian. Artinya kita harus memberdayakan ruang kreatif dan ruang kritis yang dianugerahkan Allah kepada kita. Sehingga jika kita kemudian meyakini sesuatu, maka keyakinan itu kita miliki setelah kita melakukan eksplorasi yang mendalam atas segala ajaran. Keempat, kita harus berani untuk melakukan perjuangan keras atau berusaha keras melakukan tiga hal tersebut. Artinya kejujuran, sikap tawadlu dan kemerdekaan itu hanya akan kita peroleh melalui perjuangan dan usaha yang sungguh-rungguh.

Itulah perangkat introspeksi dan penataan diri kita. Kemudian dengan perangkat itu, mari kita menyimak ayat-ayat Allah ini.

Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam. ( QS 20 : 53 ).

Kemudian : “Yang menjadikan bumi untuk kamu sebagai tempat menetap dan Dia membuat jalan-jalan di atas bumi untuk kamu supaya kamu mendapat petunjuk. ( QS 43 : 10 ).

Dua ayat di atas menyajikan kepada kita fakta bahwa Allah menjadikan bumi dan Dia menjadikan atau membuat jalan-jalan di atas bumi. Ayat ini – kendati pun sudah cukup jelas – ternyata juga mensyaratkan kecermatan berfikir dan merenung agar kita tidak terjebak oleh daya nalar yang sempit dan tergesa-gesa. Sebab memang, begitu jelassnya ayat tersebut sampai-sampai kita lalai mencermatinya dengan sungguh-sungguh.

Di sinilah letak perlunya kita memerdekakan akal, fikiran dan kehendak kita dalam memahami bahasa Tuhan. Harus kita sadari benar bahwa tidak ada satu pun tafsir dan pemahaman yang paling benar, sehingga tentu saja tidak layak bagi kita untuk menerima bulat-bulat apa yang dilontarkan sebagai buah pemahaman orang lain tanpa memberdayakan akal fikiran kita sendiri secara merdeka dan dengan kehendak kita yang merdeka pula.

Dalam kaitan dengan dua ayat di atas, ada dua hal yang harus kita cermati. Pertama tentang bumi. Jika disebutkan di sana Allah yang menjadikan bumi sebagai hamparan dan tempat menetap, maka itu adalah kebenaran yang sudah sangat jelas dan mutlak. Kedua, tentang jalan. Di sana disebutkan Dia membuat jalan-jalan di atas bumi, maka tidakkah kita terusik untuk merenungkannya dengan seksama dengan memperhatikan kenyataan di sekeliling kita ?

Apa yang dikehendaki oleh Allah dengan jalan yang dimaksudkanNya ? Apakah jalan yang biasa dilalui oleh mobil, sepeda motor, delman dan lain-lain – atau – jalan apa lagi ? Tetapi dapat dipastikan bahwa jalan yang dimaksud tentulah bukan jalan yang biasa dilalui kendaraan, karena jalan itu bukan Allah yang membuat, melainkan manusia.

Kalau begitu, salahkah pernyataan Allah pada ayat tersebut ? Pasti tidak. Allah tidak akan pernah salah. Semua ayatNya adalah kebenaran mutlak yang harus kita yakini. Jika toh kita menghadapi kenyataan sepeti yang kita temukan pada pemaknaan jalan dalam ayat yang sedang kita cermati, maka kita harus menyimak Sabda Nabi Muhammad SAW : “Sesungguhnya Al-Quran itu mempunyai makna lahir dan makna bathin. Mempunyai makna yang nyata dan makna kiasan”. Maka, jalan yang dimaksudkan di sini pun memiliki makna yang nyata dan makna kiasan. Sehingga jelas di sini bahwa jalan yang dimaksudkan oleh Allah bukanlah jalan yang biasa dilalui oleh kendaraan, melainkan jalan yang akan menyebabkan kamu mendapatkan petunjuk. Inilah yang disebut jalan Allah yang senantiasa ditempuh oleh para salik, yaitu para perambah jalan Allah. Maka, setiap salik semestinya mengerti jalan itu. Seorang yang mengaku salik tetapi tidak mengerti jalan Allah, maka pengakuannya perlu dipertanyakan.

Sampai titik ini, kita mulai dapat memperoleh gambaran tentang para penghalang jalan Allah, yakni mereka yang menafikan metode yang ditempuh para salik, baik karena kebencian maupun karena ketidakmengertiannya. Itulah sebabnya, kita harus mengembangkan sikap dan persangkaan baik kepada siapa pun, dengan menjauhkan diri dari kecurigaan yang berlebih-lebihan terhadap siapa pun. Mengapa ? Jawabannya amat jelas, yaitu karena setiap manusia hakikatnya sedang berjalan mencari jalan Allah agar mereka dapat memenuhi ayat :

“Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali ). ( QS 2 : 156 ).

Bagaimana kita dapat kembali kepada Allah, kalau kita tidak tahu jalan Allah ? Kesadaran ini – terus terang – masih sangat jarang dijadikan tema sentral kajian kita selama ini, yakni kesadaran untuk menemukan jalan Allah dan kemudian menempuh jalan itu. Jika seseorang menempuh jalan Allah, maka dia akan bertemu dengan Allah.

Maka layak kiranya jika setiap orang memiliki kesadaran untuk menemukan jalan Allah, selagi Allah masih memberikan kesempatan pada kita hidup di alam dunia ini.

Wallohua’lam.[fat].

One response to “Para Penghalang Jalan Allah

  1. Assalamualaikum pa Fat, apa kbr ? bbrapa harini ini sy tdk “turun” ke warnet dan baru hr ini membaca tulisan pa Fat lg yg tentu sngt bermanfaat. mengenai jalan menuju Allah (al sair ila Allah) spertinya terbagi dua ada yg maknawi dan ada yg hakiki. yg maknawi adlh dengan meninggalkan perbuatan buruk dan mengisinya dengan perbuatan baik dan etika, maka semakin kita mengisinya dgn yg baik maka kita semakin dekat pula kpd Allah, utk yg hakiki tentu saja tdk dapat dijelaskan dengan gamblang dimuka publik kecuali tanda2nya saja, nah hanya mursyid yg hak lah yg bisa menunjukan jln yg hakiki ini..wallahualam……..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s