Fenomena keteraturan awal wahyu


Wahyu yang pertama kali turun, yaitu perintah membaca yang diekspresikan dengan ungkapan Iqra’ pun sudah menggambarkan sebuah fenomena keteraturan, sekaligus menggambarkan bahwa setiap perintah Tuhan itu selalu diawali dengan adanya fasilitas untuk melaksanakan perintah. Atau dengan kata lain, Tuhan tidak akan memberi perintah tanpa menyediakan fasilitas atau jalan untuk melaksanakan perintah itu. Sehingga tidak tersedia alasan bagi manusia untuk mengelak atau meminta dispensasi tidak melaksanakan perintah Tuhan.

Mari kita perhatikan wahyu pertama yang sangat fenomenal ini, yaitu Iqra’. Perintah ini secara tekstual berarti : bacalah. Perintah ini mengharuskan adanya dua syarat, yaitu (1) adanya materi atau bahan bacaan untuk dibaca dan (2) si penerima perintah mempunyai kemampuan untuk membaca. Tanpa salah satu dari dua syarat itu, perintah tersebut dapat dipastikan tidak akan dapat dilaksanakan. Sehingga layak kita bertanya : mungkinkah Tuhan memberikan perintah kepada manusia yang tidak mungkin dapat dilaksanakan ? Jawabannya sudah pasti : tidak mungkin.

Dalam kurun waktu yang cukup lama jarang sekali muncul pemikiran kritis terhadap ayat-ayat Tuhan. Salah satu penyebabnya adalah dogma yang melarang manusia untuk tidak gegabah menafsirkan ayat-ayat Tuhan. Atau dogma bahwa untuk menafsirkan ayat-ayat Tuhan, manusia harus terlebih dahulu memiliki bekal ilmu alat seperti nahwu sharaf, balaghah, mantiq, asbabun nuzul dan ilmu-ilmu lain, sehingga yang terjadi di kalangan umat adalah sikap membeo dan cara berfikir linear.

Keadaan tersebut masih ditambah lagi dengan kuatnya fenomena tuduhan ajaran sesat jika ada upaya untuk memahami ayat-ayat Tuhan yang sedikit keluar dari arus utama pemikiran yang ada. Tuduhan ini sungguh menakutkan, apalagi jika disertai dengan sikap dan perilaku brutal di sebagian kalangan dalam menanggapi munculnya pemikiran-pemikiran kritis.

Padahal untuk memahami ayat-ayat Tuhan diperlukan pemikiran yang merdeka dan kritis. Banyak indikasi dalam Al Qur’an tentang hal tersebut. Misalnya : ”Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal. (QS 2:197). Ayat tersebut mengindikasikan bahwa hanya manusia yang memiliki pemikiran merdeka, kritis dengan memberdayakan akal saja yang dapat mencapai derajat takwa.

Atau : ”dan tidak dapat mengambil pelajaran melainkan orang-orang yang berakal”. (QS 3: 7) sebagai argumentasi yang sahih bahwa hanya manusia yang memiliki pemikiran merdeka, kritis dengan memberdayakan akalnya yang dapat mengambil pelajaran dari ayat-ayat Tuhan.

Kemudian : ”maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS 5:100) sebagai penjelasan Tuhan yang tidak diragukan lagi bahwa hanya manusia yang memiliki pemikiran merdeka, kritis dengan memberdayakan akalnya yang dapat meraih keberuntungan dalam hidup.

Maka perintah Iqra’ sejatinya adalah perintah yang membuka cakrawala pencerahan hidup manusia. Di sini, tersimpan sebuah rahasia besar Ketuhanan sebagai jawaban atas pemikiran dan perilaku jahiliyah manusia yang berlaku universal dan sepanjang masa.

Mari kita selisik dengan menggunakan fenomena keteraturan pada setiap perbuatan Tuhan.(menyelisiknya besok saja ya …)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s