Fenomena Keteraturan awal wahyu-b


Sekarang waktunya menyelisik.

Mari kita selisik dengan menggunakan fenomena keteraturan pada setiap perbuatan Tuhan. Bahwa setiap perintah Tuhan senantiasa diawali dengan ketersediaan fasilitas sehingga manusia dipastikan mampu melaksanakannya. Dalam kaitannya dengan perintah bacalah atau Iqra’, maka sebelum perintah itu disampaikan, Tuhan sudah lebih dahulu menyediakan fasilitas berupa bacaan, yaitu Kitab yang ditulis sendiri oleh Tuhan sehingga disebut dia dengan : Kitabullah yang memuat satu-satunya kebenaran sejati.

”Kitab ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”, (QS 2:2).

Mari kita perhatikan ayat tersebut dengan pemikiran yang merdeka melalui pemberdayaan akal. Lihat dulu teks bahasa Arabnya, di sana hanya disebut al-kitab, tanpa menyebut nama. Tetapi biasanya, dalam berbagai kitab terjemah dan tafsir Al Quran selalu disertai dengan kata yang diletakkan di antara tanda kurung (Al Qur’an). Tampaknya memang sederhana, tetapi dengan meletakkan kata tersebut (sebagai tafsir kata al-kitab) menyebabkan pikiran kebanyakan manusia terkunci untuk melakukan eksplorasi. Padahal, banyak sekali bahan renungan yang muncul mengenai al-kitab yang dimaksudkan dalam ayat tersebut.

Maka saya lebih cenderung menyebutnya hanya dengan Kitabullah, tanpa memberi nama kepada kitab tersebut untuk memperluas ruang lingkup pemikiran dan pemahaman. Selain itu, kata kitab yang dapat dimaknai sebagai kumpulan tulisan atau karya tulis memberi rujukan pada af’al Allah berupa alam semesta dan diri manusia serta ciptaan-ciptaanNya yang lain. Penambahan artikel al di depan kitab, juga memberi pengertian satu-satunya kitab. Dan satu-satunya Kitab itulah yang disebut sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Sedangkan derajat takwa hanya dapat diraih melalui sikap kritis, pemikiran yang merdeka dan usaha untuk selalu memberdayakan akal secara sempurna.

Alam semesta dan diri manusia dapat disebut sebagai Kitabullah berdasarkan pernyataan Tuhan sendiri bahwa : ”di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan ?” ( QS 51:20-21). Dalam teks bahasa Arabnya disebut dengan kata âyât yang kemudian diterjemahkan menjadi tanda-tanda. Seperti kita ketahui, ayat adalah bagian dari surat, dan surat adalah bagian dari al-kitab. Semua itu terdapat dalam bumi yang merupakan representasi dari alam semesta dan dirimu sendiri sebagai representasi dari manusia. Jelas bahwa alam semesta dan diri manusia adalah al kitab yang harus dibaca dengan seksama oleh setiap manusia.

Maka pada wahyu pertama, yaitu lima ayat surat ke-96 pun menunjukkan kepada kita tentang hal tersebut. Pada ayat pertama disebutkan Tuhanmu Yang Menciptakan, yaitu menciptakan alam semesta dan diri manusia. Lalu lebih dipertegas lagi dengan ayat kedua, menciptakan manusia dari segumpal darah. Semua itu dijelaskan setelah perintah Iqra’ atau bacalah, sehingga manusia wajib membaca – dalam pengertian : memperhatikan – alam semesta dan dirinya sendiri, karena di sana (alam semesta dan dirinya) terdapat rahasia ayat-ayat Tuhan.

Begitu pentingnya membaca alam semesta dan diri manusia, sehingga Allah menegaskan dengan penekanan kepada sifatNya pada ayat berikutnya, ayat ketiga, yaitu bacalah, dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Sebenarnya kata Pemurah itu dipakai untuk menerjemahkan kata al-akrom sebuah kata yang memiliki kesamaan akar dengan kata karim yang umumnya diterjemahkan menjadi Maha Mulia, atau Kemuliaan. Hal ini merupakan penegasan yang sempurna, bahwa Kemahamurahan Tuhan itu merupakan pengejawantahan dari KemuliaanNya, atau Kemuliaan Tuhan itu terletak pada KemahamurahanNya.

Menarik sekali fenomena keteraturan yang diciptakan oleh Tuhan, karena ayat ketiga itu menjadi pengantar pada pernyataan tentang Kemahamuliaan dan Kemahamurahan Tuhan, sebelum Dia membeberkan keduanya dalam bentuk tindakan nyata, yaitu (pada ayat keempat) yang mengajar manusia dengan (melalui) pena untuk menjelaskan tentang adanya al-Kitab atau tulisan Allah yang harus dibaca oleh setiap manusia, karena setiap manusia ”dipastikan” dapat membaca, karena Kemahamuliaan dan Kemahamurahan Tuhan. Siapa pun yang mampu membaca (seperti Nabi Muhammad saw) al-kitab, maka dia akan mendapatkan pengetahuan atau pemahaman yang senantiasa baru yang tidak diketahui sebelumnya, karena Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya, seperti yang disampaikan pada ayat kelima surat ke-96.

Lima ayat wahyu pertama yang sampai kepada Nabi Muhammad saw itu sebenarnya merupakan sebuah cakrawala pemikiran dan penghayatan spiritual yang amat luas, sehingga Tuhan tidak segan-segan untuk senantiasa mengulang-ulang ayat itu, ”demikianlah kami mengulang-ulangi ayat-ayat Kami …” (QS 6:105). Atau dengan bahasa yang lebih simbolik ”sesungguhnya Kami telah mengulang-ulang kepada manusia dalam Al Quran ini tiap-tiap macam perumpamaan” (QS 17:89).

Begitu pentingnya pelajaran Tuhan melalui al-Kitab, sehingga pelajaran itu selalu diulang-ulang. Pengulangan ini dimaksudkan supaya manusia (1) menjadi semakin paham dan (2) menjadi semakin yakin atau tidak ragu-ragu terhadap kebenaran pelajaran Tuhan melalui ayat-ayat yang ditulis sendiri oleh Tuhan dalam KitabNya.

Penjelasan atau penempatan kata al Kitab di awal surat dalam mushaf Al Quran pun menunjukkan betapa fenomena keteraturan itu tetap dijaga. (dan akan diuraikan dalam tulisan berikutnya)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s