Fenomena keteraturan awal wahyu (c)


Penjelasan atau penempatan kata al Kitab di awal surat dalam mushaf Al Quran pun menunjukkan betapa fenomena keteraturan itu tetap dijaga. Banyak sekali surat-surat yang diawali dengan pernyataan tentang al kitab. Lihat saja misalnya surat ke-2 ayat 2, surat ke-3 ayat 3, surat ke-7 ayat 2, surat ke-10 ayat 1, surat ke-11 ayat 1, surat ke-12 ayat 1 dan beberapa surat lain yang menunjukkan kepada manusia tentang begitu pentingnya kedudukan al kitab atau Kitabullah, yaitu kitab yang ditulis sendiri oleh Allah untuk dibaca. Sehingga dapat difahami, jika mayoritas surat dalam mushaf diawali dengan menyebutkan al Kitab itu merupakan penegasan tentang betapa pentingnya manusia membaca (dalam pengertian yang lebih luas yaitu memperhatikan) Kitabullah, yaitu kitab yang ditulis sendiri oleh Tuhan yang berupa alam semesta dan diri manusia.

Maka, kata Iqra’ memang semestinya tidak semata-mata diterjemahkan dengan bacalah, melainkan harus menjangkau pada cakrawala yang lebih luas, yaitu : perhatikanlah, lakukanlah observasi, lakukanlah penelitian, galilah rahasia yang ada pada ciptaan Tuhan, yaitu alam semesta berikut segala isinya dan diri manusia. Sebab pada kenyataannya, berbagai temuan, ilmu dan pengetahuan selalu berkaitan dengan manusia dan alam semesta. Atau dengan perkataan lain, ilmu dan pengetahuan diperoleh oleh para penemunya setelah mereka melakukan observasi terhadap alam semesta dan diri manusia. Bahkan teori gravitasi ditemukan oleh Newton tidak lama setelah kepalanya tertimpa sebiji buah yang jatuh dari pohonnya. Bedanya Newton dengan manusia lain terletak pada kemauannya untuk memperhatikan peristiwa itu, kemudian melakukan observasi, lalu melakukan penelitian, setelah itu, dia berusaha keras menggali rahasia mengapa benda yang dilempar ke atas kemudian pada titik tertentu akan jatuh kembali ke bumi. Padahal jauh sebelum itu, tidak terhitung banyaknya orang yang melempar sesuatu ke atas dan jatuh kembali ke bumi. Mengapa hanya Newton yang menemukan teori gravitasi ?

Sama halnya dengan orang-orang yang membaca mushaf al Quran. Tidak sedikit di antaranya yang hafal al Quran tiga puluh juz. Tetapi hanya sedikit orang yang terusik memperhatikan ayat-ayat yang tampaknya sederhana dan acapkali dianggap tidak terlalu penting oleh mayoritas pembaca lainnya. ”Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, Maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” ( QS 54:17 ). Ayat ini diulang-ulang dalam surat yang sama. Pesan komunikasi yang selalu diulang-ulang merupakan indikasi bahwa pesan tersebut sangat penting untuk diperhatikan. Tetapi pada sisi lain, manusia cenderung mengabaikannya, karena begitu seringnya sehingga menumbuhkan rasa jenuh yang berujung pada sikap mengabaikan pesan itu.

Sejatinya, banyak sekali hal yang harus menjadi perhatian manusia, tidak saja ketika sedang membaca teks dalam mushaf, melainkan juga ketika sedang memperhatikan kejadian-kejadian alam yang ada di sekitarnya. Tetapi, sekali lagi, manusia cenderung mengabaikan hal-hal yang disebutnya sebagai rutinitas. Karena kejadian itu berlangsung secara rutin – contohnya matahari yang terbit dari arah timur dan tenggelam di barat – manusia merasa hal tersebut bukanlah sesuatu yang istimewa. Sehingga mereka mengabaikannya. Begitu juga ketika melihat selembar daun kering tanggal dari tangkainya dan jatuh ke tanah. Itu bukan peristiwa luarbiasa. Bahkan ketika dirinya sakit pun dianggapnya sebagai hal yang biasa. Padahal, ketika seseorang jatuh sakit, terganggu kesehatannya, dapat dipastikan ada sesuatu yang tidak beres dalam tubuhnya atau pada lingkungan sekitarnya. Dia merasa cukup pergi ke dokter dan memakan obat yang diberikan sesuai dengan anjuran dokter. Dia tidak berfikir untuk mengubah perilaku hidup yang menyebabkannya sakit, atau, dia tidak berfikir untuk menata ulang lingkungan sekitarnya yang telah menjadi sarang bakteri atau virus penyebar penyakit.

Apapun yang terjadi di alam semesta dan pada diri manusia, besar atau kecil, sejatinya mewajibkan manusia untuk memperhatikannya dengan seksama. Dia bukan sekedar peristiwa alam biasa yang secara rutin terjadi. Semua itu adalah ayat atau peringatan dari Tuhan yang harus diperhatikan oleh siapa pun. Siapa pun yang gagal memerhatikan, dalam arti kata, mengabaikan atau mendustakan peringatan tersebut, Tuhan tidak akan membiarkannya begitu saja.

” Maka, perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu.” (QS 37:73).

Semua fenomena alam semesta dan segala isinya mengandung pembelajaran yang sangat luarbiasa. (Pembelajaran apa ? Akan dijawab dalam tulisan berikutnya).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s