Air tuba dibalas susu


Allah berfirman : “ Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” ( QS 25 : 63 ).

Firman Allah tersebut mengingat kita pada peribahasa : air susu dibalas dengan air tuba, yang mengandung makna, kebaikan dibalas dengan kejahatan. Tetapi dalam ayat tersebut Allah menggambarkan sifat hamba-hamba Allah, yang justru merupakan kebalikan dari makna peribahasa tadi. Di sini, Allah menerangkan hamba-hambaNya yang baik adalah (1) orang yang rendah hati, dan (2) orang yang membalas keburukan orang dengan kebaikan.

Contoh riil dari hamba Allah yang seperti ini, sejauh pengamatan kita, baru dapat kita temukan pada para Nabi utusan Allah. Semakin jauh dari masa-masa kenabian, semakin sulit kita menemukan hamba Allah yang seperti itu. Dengan berbagai alasan, seringkali orang lebih senang melakukan sesuatu yang merugikan orang lain. Kalau tidak merugikan secara materi, mereka melakukan perbuatan yang merugikan orang lain secara moral dan bahkan secara spiritual.

Coba mari kita perhatikan dengan seksama, mengapa Allah dalam susunan redaksional ayat tadi, menyebut rendah hati sebelum menyebut membalas kejahilan dengan kebaikan. Rendah hati, adalah sifat para nabi utusan Allah yang mengikuti sifat-sifat wajib mereka, yaitu sidiq, amanah, fatonah dan tabligh. Setiap nabi utusan Allah sadar bahwa dia adalah manusia biasa yang dituntut selalu berkata dan berlaku benar, jujur memegang amanah, cerdas dalam menyikapi hidup dan meneruskan apa-apa yang diamanatkan kepada orang yang berhak. Keempat sifat itu, hanya mungkin dapat dikerjakan oleh orang yang rendah hati, yang mau menerima koreksi, yang rela disakiti, yang rela dikhianati dan yang rela dikucilkan. Setiap nabi utusan Allah pernah merasakan dikoreksi atau dikritik oleh umatnya. Mereka juga pernah disakiti oleh umatnya. Mereka pun pernah dikhianati oleh umatnya dan bahkan mereka dikucilkan oleh umatnya. Sehingga dapat dikatakan, itu semua adalah makanan pokok para nabi utusan Allah.

Tetapi, pernahkah kita melihat ada nabi utusan Allah yang membalas perlakuan seperti itu dengan perlakuan yang serupa ? Rasanya tidak pernah. Mereka, para nabi utusan Tuhan, adalah orang yang senantiasa sadar terhadap kedudukan dirinya, yang telah dipilih oleh Allah untuk mengabarkan ayat-ayat Allah kepada manusia. Kesadaran terhadap kedudukannya yang terhormat itu menyebabkan mereka juga menyadari tanggungjawab yang harus diembannya. Mereka sadar, ayat-ayat Allah yang harus dikabarkan kepada manusia, tidak mungkin akan dapat sampai kepada umatnya, kalau mereka – para nabi utusan Allah – tidak turun kepada mereka yang tidak memiliki kedudukan apa pun. Begitu juga mereka sadar, untuk berkomunikasi dengan umat, mereka harus berada dalam posisi yang setara, yang egaliter. Hanya ada satu cara untuk itu, yaitu bersikap rendah hati, agar mereka dapat melayani umat dengan baik.

Ini sungguh pelajaran hidup yang sangat berharga, bahwa seseorang diangkat untuk menempati kedudukan yang terhormat itu sesungguhnya mengemban kewajiban untuk melayani. Dan dalam setiap pelayanan, maka sikap seorang pelayan yang baik adalah mengutamakan kepentingan orang-orang yang dilayani, dengan sikap yang ramah dan sabar. Setiap pelayan, wajib menyadari bahwa mereka harus memberikan yang terbaik. Jika ada keluhan maka, dia harus melayani sampai tidak ada lagi keluhan. Jika mereka menghadapi sikap yang tidak bersahabat dari orang-orang yang dilayani, maka dia harus mampu memberikan pelayanan yang lebih baik sampai tumbuh sikap bersahabat pada mereka. Jika mereka mencemooh pelayanan yang diterima, maka dia harus mampu mengubah cemoohan menjadi ungkapan terimakasih.

Demikianlah yang dimaksud dengan kata-kata Allah : “ apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” Tidak ada umpatan, apalagi dendam, seperti ketika Nabi Muhammad SAW diperlakukan dengan lemparan batu oleh penduduk Thoif, sampai Jibril menawarkan bantuan untuk menghukum mereka, Muhammad menjawab : “mereka berbuat begitu, karena mereka belum mengerti”, sama sekali bukan umpatan, bahkan mendoakan mereka agar Allah menurunkan kesadaran kepada mereka untuk menerima dakwahnya.

Begitulah, air tuba, dibalas dengan susu.

Wallohua’lam.[fat]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s