Pembelajaran dari Allah


Masih membicarakan fenomena keteraturan awal wahyu, mari kita memperhatikan ayat ini : ” Maka, perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu.” (QS 37:73).

Semua fenomena alam semesta dan segala isinya mengandung pembelajaran yang sangat luarbiasa. Entah mengapa, hal tersebut kurang mendapat perhatian yang semestinya dari manusia. Pada umumnya, manusia menganggapnya sebagai sesuatu yang memang sudah seharusnya begitu.

Sehingga ketika Tuhan memerintahkan : “Berjalanlah di bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS 29:20), jarang mendapat tanggapan yang semestinya dari manusia karena pada umumnya orang merasa hal itu tidak mungkin. Bagaimana mungkin aku harus menghabiskan waktu dengan berkelana di bumi hanya untuk memperhatikan ciptaan Tuhan ? Atau, kalau toh ada yang memerhatikan perintah itu, kemudian berusaha untuk melaksanakannya, maka yang dilakukan pun hanya sekedar memenuhi perintah tekstual belaka. Mereka benar-benar melakukan perjalanan di bumi, meninggalkan rumah, keluarga dan kampung halaman dan hidup dari belas kasihan orang.

Semua itu terjadi, karena manusia hanya memahami perintah iqra’ secara tekstual. Padahal, pemahaman iqra’ jauh lebih luas dari sekedar membaca tulisan dan kalimat dalam berbagai kitab. Jika manusia berhasil memahami perintah substantif  iqra’ maka dia akan dapat memahami pula apa hakikat atau substansi dari perintah berjalanlah.

Memang Kitabullah harus difahami dari berbagai sisi, tekstual maupun kontekstual, secara syariat dan hakikat. Jika dipahami hanya dari satu sisi saja, manusia akan kehilangan begitu banyak momentum untuk menggali keutuhan makna.

Untuk menggali keutuhan makna itulah, manusia diperintah untuk memberdayakan akal pikirannya secara sempurna. Allah sangat menghargai manusia yang berjuang keras memberdayakan akalnya. Hal ini dapat dilihat dari begitu seringnya Allah melontarkan pertanyaan seperti “mengapa kamu tidak mau berfikir”, “apakah kamu tidak memperhatikan”. Atau pun melalui penegasan yang lebih keras seperti “perhatikanlah …” atau “mengapa kamu tidak mau mengambil pelajaran …”. Dan masih banyak ungkapan lain yang menunjukkan betapa pentingnya memberdayakan akal kita, karena pemberdayaan akal itulah perintah substantif iqra’ yang kini nyaris punah.

Wallohua’lam.[fat]*****

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s