Amal Yang Ikhlas


Allah berfirman : Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. kami hidupkan bumi itu dan kami keluarkan dari padanya biji-bijian, Maka daripadanya mereka makan. ( QS 36 : 33 ).

Ayat tersebut – meskipun pendek dan sederhana – bercerita tentang hal yang amat luarbiasa agung dan besarnya. Banyak sekali orang-orang Islam yang hafal ayat 33 surat Yâsîn tersebut, terutama mereka yang suka mendawamkan pembacaannya pada kurun waktu tertentu. Tetapi, karena begitu seringnya dibaca dan dihafal, sampai-sampai keagungan ajaran ayat tersebut tidak mampu menyentuh kedalam jiwa para penghafal dan pembacanya. Sama seperti ketika manusia menghirup udara yang mengandung oksigen ketika bernafas. Jarang sekali manusia yang berfikir bahwa udara segar itu menyehatkan paru-paru dan diperoleh secara gratis. Manusia baru merasa begitu berharganya oksigen ketika dia terkapar sakit dan harus ditolong dengan bantuan oksigen yang tidak gratis.

Artinya, manusia cenderung tidak menghargai sesuatu yang melimpah-limpah dan mudah diperoleh. Kenyataan itulah yang menyebabkan para ahli ekonomi menyimpulkan teori supplay and demand, hukum penawaran dan permintaan. Jika barang tersedia melimpah di pasar dan permintaan sedikit, maka harga akan turun. Sebaliknya, harga akan naik, jika permintaan naik dan persediaan sedikit.

Ayat yang kita bahas ini pun bercerita tentang hal yang sangat agung, sangat luarbiasa dan sangat penting. Begitu pentingnya, sehingga Allah menyimpannya dengan perumpamaan atau simbolisasi yang sangat lembut, yang ada di sekitar kita bahkan ada pada diri kita.

Allah mengawalinya dengan kata : wa âyatu lahum al-ardl, yang berarti dan suatu tanda atau ayat bagi mereka adalah bumi. Di sini, Allah memberitahukan kepada kita bahwa bumi adalah ayat-Nya yang harus diperhatikan oleh manusia. Lalu dilanjutkan dengan pernyataan berikutnya, yaitu al maytâtu ahyainâha wa akhrojnâ minha habban yang diterjemahkan menjadi bumi itu diciptakan mati, lalu Kami menghidupkannya dan Kami keluarkan daripadanya biji-bijian. Itu adalah sebuah pernyataan bahwa bumi itu pada dasarnya tidak dapat menghasilkan apa-apa. Bumi boleh saja hijau royo-royo tetapi tidak menjadi jaminan bahwa karena ijo royo-royo lalu dapat memberikan manfaat kepada manusia. Tidak. Ada kuasa yang tidak terbantahkan, yakni jika Allah tidak menjadikan bumi itu hidup, maka dia tidak bermanfaat.

Sebaliknya, ada bumi yang kering kerontang, orang Jawa mengatakan lemahe cengkar, tandus, tetapi tidak secara otomatis bahwa bumi yang tandus itu tidak memberikan manfaat. Banyak bumi tandus yang hanya berupa padang pasir dan nyaris tidak pernah tersentuh hujan. Tetapi karena Allah berhendak menghidupkan bumi itu, maka bumi itu pun memberi manfaat kepada manusia.

Itu adalah fenomena alam yang berada di luar kita. Semua gambaran itu tidak akan memberikan manfaat apa-apa, jika pandangan dan perhatian kita hanya tertuju kepada fenomena itu. Paling-paling, manusia hanya akan mengatakan “Maha Besar Allah” atau “Maha Suci Allah”. Walaupun ucapan itu penting dan harus, tetapi jika hanya berupa ucapan saja, maka ia akan menguap tanpa memberikan bekas berupa perubahan tingkah laku manusia.

Dalam dunia pendidikan proses memahami fenomena di luar diri, disebut sebagai outside in. Sehingga apa saja yang masuk ke dalam diri kita baik ayat Allah yang tertulis maupun yang tidak tertulis, dia baru berupa informasi. Baru berupa wacana, belum menjadi perilaku.

Maka jika kita ingin menjadikan ayat itu memberikan perubahan tingkah laku, kita harus melihatnya di kedalaman diri kita. Ini yang disebut sebagai proses inside out, yaitu memampukan diri untuk berbuat sesuatu atau melakukan sesuatu melalui amaliah. Nah, dalam proses melihat kedalam diri, mari kita lihat, apa yang dimaksud oleh Allah dengan bumi. Allah sedang mengingatkan kita, bahwa unsur jasadiah kita adalah unsur kebumian karena jasad ini berasal dari bumi atau unsur-unsur bumi yang disebut tanah. Tanah yang subur, bumi yang ijo royo-royo, itu adalah jasad manusia yang sehat, gemuk, perkasa, berkuasa, pandai. Tetapi, unsur-unsur jasad yang seperti itu, tidak secara otomatis mampu memberikan manfaat. Begitu pula, tanah yang tandus, lemah cengkar itu adalah jasad manusia yang kurus kering, tampak lemah, miskin, tidak punya kekuasaan. Tetapi, unsur-unsur jasad yang seperti itu tidak secara otomatis tidak bermanfaat.

Jika Allah menghidupkan, atau menjadikan jasad itu hidup, maka barulah dia dapat memberi manfaat. Artinya, Allahlah yang memasukkan unsur kehidupan, yaitu roh, sehingga jasad dapat berbuat sesuatu.

Lalu Allah melanjutkan wa akhrojna minha habban faminhu ya’qulûn, lalu keluarkan daripadanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan. Di bagian ini, Allah menyebut biji-bijian. Ini adalah sebuah perumpamaan yang halus. Allah memakai istilah biji-bijian. Kita tahu, bahwa biji-bijian itu baru akan tumbuh dan mengeluarkan hasil bila ditanam di dalam tanah. Pengertian ditanam, adalah dimasukkan ke dalam tanah sehingga tersembunyi atau tidak kelihatan, tidak tampak oleh mata.

Biji yang menghasilkan buah adalah biji yang ditanam. Biji di sini adalah amal atau perbuatan manusia. Sedangkan buah itu adalah perumpamaan dari manfaat, atau sebutlah pahala. Maka, amal atau perbuatan manusia baru akan memberikan manfaat atau berbuah pahala, jika ia dilakukan dengan diam-diam, tidak dinampakkan. Amal yang dipamer-pamerkan itu yang disebut riya’.

Banyak sekali nasehat supaya manusia beramal dengan ihlas. Rasulullah saw menyatakan dengan bahasa “jika tangan kananmu memberi, jangan sampai tangan kirimu tahu”, maknanya, manusia harus menyimpan rapat-rapat amalnya jangan sampai ada orang yang tahu. Syeikh Ibnu ‘Athoillah asy-Syakandari dalam karyanya yang trersohor Al-Hikam memberi nasehat : “pendamlah dirimu di dalam tanah kerendahan. Sebab segala benih yang tidak ditanam di dalam tanah, tidak akan membuahkan hasil yang sempurna”. Maknanya, manusia harus menyembunyikan amalnya seperti menanam biji dikedalam tanah supaya amal itu berbuah sempurna. Kemudian, Sri Mangkunegara IV dalam karyanya Serat Wulangreh dalam pupuh Sinom mengatakan : “Laku utama adalah beramal tapi disembunyikan, tidak ditunjuk-tunjukkan, tujuan bathin disembunyikan, tetapi perbuatannya dikerjakan dengan sungguh-sungguh”. Maknanya, manusia yang ingin menjadi utama tingkah lakunya adalah bekerja sungguh-sungguh tanpa keinginan untuk dikenal.

Ayat 33 surat Yâsîn memberitahukan kepada kita, bahwa Allah yang melakukan semuanya tanpa bantuan siapa pun. Dia mengajarkan kepada manusia bahwa eksistensi atau keberadaan siapa pun akan diakui jika ada karya yang dirasakan manfaatnya oleh orang lain. Allah rela tidak disembah, rela tidak dikenal, tetapi Dia tidak berhenti berbuat. Menghidupkan bumi, menumbuhkan biji-biji yang ada di dalam tanah, menurunkan hujan dari langit dan semuanya. Bahkan Dia tidak keberatan dengan manusia yang mengingkari Nya. Dia tetap menyediakan rejeki kepada semua mahlukNya.

Maka, ayat itu pun mengajarkan kepada manusia untuk terus bekerja dan berkarya, karena eksistensi manusia itu pun akan diakui jika karyanya atau hasil pekerjaannya bermanfaat untuk manusia lain dan alam sekitarnya. Tetapi manusia pun harus rela tidak dikenal, rela diingkari, rela dicemooh dan direndahkan. Paling tidak, karya manusia itu bermanfaat bagi dirinya. Kemudian jika benar niat dan amalnya, maka Allah pasti mengetahui.

Wa Allahu a’lam bi al shawab. [fat].

2 responses to “Amal Yang Ikhlas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s