Perhatikanlah yang terpenting.


Hendaklah engkau tidak terlalu peduli pada apa yang kau makan, yang kamu minum, dan yang kau pakai; terhadap siapa yang kau nikahi, apa yang kau tinggali, dan apa yang kau kumpulkan. Demikian, Syeikh Abdul Qadir Jailani melanjutkan nasihatnya, seraya melemparkan sebuah pertanyaan untuk direnungkan, yaitu : di manakah, letak pentingnya hati dan ruhani, padahal ia amat membutuhkan Allah. Perhatianmu haruslah pada apa yang kau anggap paling penting. Oleh karena itu, jadikanlah perhatian utamamu itu hanya Tuhan dan apa yang ada di sisiNya.

Di belakang dunia ini ada akhirat. Di belakang mahluk pun ada Khalik. Setiap kau meninggalkan sesuatu di dunia ini, ia akan diganti dengan sesuatu yang baru dan lebih baik di akhirat. Anggapsaja sisa umurmu hanya sampai hari ini, dan kau bersiap-siap menuju akhirat, karena akan segera datang malaikat maut. Dunia ibarat masakan bagi manusia, sementara akhirat seperti wanita tua. Apabila datang kehendak Allah, terpisahlah dunia dari mereka, dan kedudukannya akan digantikan oleh akhirat. Kau tidaklagi membutuhkan dunia, tidak juga akhirat.

Wahai pendusta ! Engkau mencintai Allah ketika keadaan serba nikmat. Akan tetapi, jika datang cobaan, engkau lari dan Allah dan tidak lagi kau cintai. Sesungguhnya seorang hamba Allah itu dapat diketahui ketika datang berbagai cobaan dari Allah kepadanya, dan dia tetap teguh dan mencintai Allah. Jika dia berubah sikap, berarti berdusta, dan cintanya yang pertama itu tercerabut dan hilang.

Alkisah, ada seorang laki-laki datang kepada Nabi Saw dan berkata, “Ya Rasulullah, saya mencintai Anda.” Rasulullah menjawab, ” Bersiaplah untuk menjadikan kefakiran sebagai jilbabmu”.

Datang pula seorang laki-laki lain kepada Nabi saw, dan berakata, “Sungguh saya mencintai Allah ‘Azza wa Jalla“. Rasulullah menjawab, ” Terimalah datangnya cobaan.”

Mencintai Allah terkait erat dengan kefakiran dan cobaan. Oleh karena itu, ada orang salih yang berkata, ” Cinta dan ketaatan diukur dengan cobaan, agar tidak ada yang mengklaim, ‘kalau saja begini dan begitu …’. Jika tidak, niscaya setiap orang mengklaim mencintai Allah. Karena itu, Allah menjadikan keteguhan dalam menghadapi cobaan dan kefakiran untuk menunjukkan adanya rasa cinta kepada Allah”.

Ya Tuhan kami, limpahkanlah kepada kami kebaikan di dunia dan di akhirat, serta jauhkanlah kami dari api neraka. (QS 2:201)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s