Masih tentang kefakiran


Syeikh Abdul Qadir Jailani melanjutkan nasihatnya dengan mengatakan : gembirakanlah orang-orang yang fakir dengan sebagian hartamu. Janganlah menolak peminta-minta, sedangkan kau mampu memberi mereka sesuatu, baik sedikit ataupun banyak. Ikutilah Allah di dalam kesukaanNya memberi. Bersyukurlah padaNya sebagaimana Allah telah menjadikanmu mampu untuk memberi. Apabila si peminta-minta adalah “hadiah” dari Allah SWT, sementara engkau mampu memberinya sesuatu, lantas bagaimana mungkin kau menolaknya dan mengembalikannya kepada si pemberi ?

Di hadapan saya engkau mendengarkan dan menangis. Apabila datang seorang fakir dan hatimu menjadi keras, niscaya dia akan bisa menunjukkan bahwa tangisan dan perhatianmu tidaklah murni karena Allah. Sama’ (mendengarkan) bersama saya pertama kali adalah dengan hati, kemudian dengan jiwa, lalu dengan anggota tubuh, yakni dengan melakukan amal-amal kebajikan. Apabila engkau datang kepada saya, masuklah. Sungguh engkau telah melepaskan ilmumu, amalan, lisan, asal-usul dan pekerjaanmu, dan lupa terhadap apa yang kau miliki serta keluargamu. Cukuplah bagimu di hadapan saya dengan memiliki hati yang “telanjang” dari sesuatu selain Allah, hingga Allah menutupinya dengan pakaian kedekatan kepadaNya, keutamaanNya dan anugerahNya. Apabila engkau melakukan hal itu pada saat datang kepada saya, berarti engkau telah menjadi seperti burung yang pergi pagi dalam keadaan lapar, dan pulang malam dalam keadan kenyang.

Cahaya hati adalah bagian dari cahaya Allah SWT. Oleh karena itu, Nabi saw bersabda, hati-hatilah terhadap firasat orang Mukmin, sesungguhnya dia melihat dengan cahaya Allah SWT.

Khusus kepada orang-orang fasik, takutlah kepada orang Mukmin. Janganlah mendatanginya sementara dirimu pekat dengan najis kemaksiatan. Sebab sesungguhnya orang Mukmin itu melihat dengan cahaya Allah. Dia melihat kemusyrikan dan kemunfasikanmu. Dia melihat uang yang tersembunyi di balik bajumu. Dia melihat aib dan rahasiamu. Siapa saja yang tidak melihat orang yang bahagia, dia tidak akan bahagia.

Engkau seorang pandir, dan kekacauan pikiranlah yang menyebabkanmu menjadi demikian. Seorang bertanya, sampai kapan kebutaan ini berlangsung ? Jawabannya, sampai kau menemui dokter, menyerahkan urusan kepadanya, dan berprasangka baik terhadapnya, hingga hilang dari hatimu keraguan kepadanya, sampai engkau mengajak anak-anak dan berdiri di depan pintunya, dan kau bersabar atas pahitnya obat. Dalam keadaan demikian, akan hilanglah kebutaan dari matamu. (bersambung).

(dipetik dari kitab Al-Fath ar-Rabbani wa al-Faidh ar-Rahmani karya Syaikh Sidi ‘Abdul Qadir al-Jailani.)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s