Salat dan Tazkiyatun-nafs


Keajaiban alam Salat adalah sarana terbesar dalam tazkiyatun-nafs, dan pada waktu yang sama merupakan bukti dan ukuran dalam tazkiyah. Ia adalah sarana sekaligus tujuan. Ia mempertajam makna-makna ‘ubudiyah, tauhid dan syukur. Ia adalah dzikir, gerakan berdiri, ruku’, sujud dan duduk. Ia menegakkan ibadah dalam berbagai bentuk utama bagi kondisi fisik. Penegakannya dapat memusnahkan bibit-bibit kesombongan dan pembangkangan kepada Allah, di samping merupakan pengakuan terhadap rububiyah dan hak pengaturan. Penegakannya secara sempurna juga akan dapat memusnahkan bibit-bibit ‘ujub dan ghurur bahkan semua bentuk kemungkaran dan kekejian. “Sesungguhnya salat dapat mencegah kekejian dan kemungkaran”(QS 41:29).

Salat akan berfungsi sedemikian rupa apabila ditegakkan dengan semua rukun, sunnah dan adab zhahir dan batin yang harus direalisasikan oleh orang yang salat. Di antara adab zhahir ialah menunaikannya secara sempurna dengan anggota badan, dan di antara adab batin ialah khusyu’ dalam melaksanakannya. Khusyu’ inilah yang menjadikan salat memiliki peran yang lebih besar dalam thath-hir (penyucian),peran yang lebih besar dalam tahaqquqdan takhalluq (merealisasikan nilai-nilai dan sifat-sifat yang mulia). Tazkiyatun-nafs berkisar seputar hal ini.

Karena amalan-amalan salat yang bersifat lahiriyah masih tetap dilaksanakan dengan baik oleh orang Muslim yang hidup di lingkungan Islam, maka di sini kami akan membatasinya dengan menyebutkan adab-adab bathin yang disebut sebagai ilmul khusyu’.

Nabi Muhammad saw bersabda : “Ilmu yang pertama kali diangkat dari muka bumi ialah kekhusyu’an”. (Diriwayatkan oleh Thabrani dengan sanad hasan).

Karena khusyu’ merupakan tanda pertama orang yang beruntung. “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyu’ dalam salatnya” (QS 23:1-2). Juga karena orang yang khusyu’lah yang berhak mendapatkan kabar gembira dari Allah : “Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh, yaitu orang-orang yang apabila disebut nama Allah bergetarlah hati mereka, yang sabat terhadap apa yang menimpa mereka, yang mendirikan salat dan yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami anugerahkan kepad mereka” (QS 22:34-35).

Jika sedemikian penting kedudukan khusyu’ maka salat yang didalamnya tidak ada kekhusyukan menjadi bukti keadaan hati yang rusak. Baik dan rusaknya hati tergantung kepada ada dan tidaknya khusyuk ini.

Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya di dalam jasad ada suatu gumpalan; bila gumpalan itu baik maka baik pula seluruh jasad dan apabila rusak maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa gumpalan itu adalah hati” (diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim).**** (Dari kitab Al-Mustakhlash fii Tazkiyatil Anfus karya Sa’id bin Muhammad Daib Hawwa).

(tunggu lanjutannya)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s