Lagi : Tentang Kefakiran


keajaiban Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, melanjutkan kembali nasihatnya dengan suaranya yang lembut namun berwibawa. Dia berkata : Hinakan dirimu di hadapan Allah dan ajukanlah berbagai kebutuhanmu kepadaNya. Janganlah menghitung-hitung amal sendiri, sebab kau akan menemuiNya dengan membawa kebangkrutan. Tutuplah pintu-pintu mahluk dan bukalah pintu di antara dirimu dengan DiriNya. Akuilah dosa-dosamu dan kemukakan kepadaNya kekurangan-kekuranganmu. Yakinlah bahwa tidak ada madharat ataupun manfaat, pemberian atau pun penolakan, kecuali karena Allah. Pada saat itu, akan hilanglah kebutaan matahatimu, dan mata serta penglihatanmu akan berfungsi.

Kedudukanmu bukan terletak pada bersahajanya pakaian dan sederhananya makananmu. Kedudukan terletak pada kezuhudan hatimu. Yang pertama kali dikenakan orang jujur adalah kesucian dalam batinnya, kemudian baru pada lahirnya. Oleh karena itu, dia mengenakan pakaian pada batinnya, kemudian pada kalbunya, lalu pada ruhnya, dan selanjutnya pada anggota tubuhnya. Oleh karena itu, apabila seluruh keadaannya sangat bersahaja, akan datang kasih sayang, rahmat, dan anugerah yang akan mengubah keadaannya; yang akan melepaskan dari dirinya pakaian kemuraman dan menggantinya dengan pakaian kebahagiaan; yang akan mengganti penderitaan dengan kenikmatan, mengganti kebencian dengan kegembiraan, mengganti ketakutan dengan rasa aman, mengganti kejauhan dengan kedekatan, dan mengganti kefakiran dengan kekayaan.

Engkau sudah selayaknya mengambil bagian rezeki dari dunia ini dengan tangan zuhud, bukan dengan tangan hasrat. Tidaklah sama orang yang makan sambil menangis dengan orang yang makan sambil tertawa. Makanlah setiap bagian rezeki dari dunia ini sementara hatimu senantiasa bersama Allah. Dengan itu, sungguh engkau akan selamat dari keburukannya. Apabila kau makan sesuatu dari tangan dokter, maka itu lebih baik daripada makan sendiri sesuatu yang tidak kau ketahui asal usulnya.

Alangkah keras hatimu. Amanat telah hilang dari dirimu,rahmat pun telah lepas dari milikmu. Ingatlah bahwa hukum-hukum syariat adalah amanat.Engkau telah meninggalkan dan telah mengkhianatinya. Celakalah jika engkau tidak memegang teguh amanat ini. Jika tidak, akan turun air pada kedua matamu, kemudian terus mengalir pada kedua tangan dan kakimu. Sementara itu, Allah akan menutup pintu rahmatNya untukmu, mengeraskan hatimu, dan mencegah manusia untuk memberi sesuatu kepadamu.

Oleh karena itu, jagalah kepalamu di hadapan Tuhanmu. Berhati-hatilah terhadapNya. Sebab, siksaanNya sungguh amat keras. Dia akan menyiksamu karena ketenangan, kesejahteraan, kegembiraan, dan kesombonganmu. Oleh karena itu, takutlah kepadaNya, sebab Dia adalah Tuhan langit dan bumi. Peliharalah nikmatNya dengan selalu bersyukur. Terimalah perintah dan laranganNya dengan cara mendengar dan menaatiNya. Terimalah kesulitan dengan kesabaran dan terimalah kemudahan dengan rasa syukur. Semua itu selalu dilakukan oleh para nabi, rasul, dan orang-orang saleh di masa lalu. Mereka bersyukur atas nikmat dan bersabar atas penderitaan.Tetap teguhlah dari pengaruh untuk maksiat kepadaNya dan makanlah dari hidangan ketaatan kepadaNya. Jagalah rambu-rambuNya. Apabila datang kepadamu kemudahan, bersyukurlah. Apabila datang kepadamu kesulitan, bertobatlah dari dosa-dosamu, dan hiasilah dirimu. Sebab, sesungguhnya Allah tidak akan bersikap zalim kepada hamba-hambaNya.

(dari kitab : Al-Fath ar-Rabbani wa al-Faidh ar-Rahmani karya : Syaikh Sidi’Abdul Qadir al-Jailani).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s