Sekali lagi : kefakiran


Ingatlah kematian dan apa yang akan terjadi setelahnya, demikian Syaikh Abdul Qadir al-Jailani membuka nasihatnya. Ingatlah Allah serta perhitungan dan pengawasanNya kepadamu. Ingatlah, sampai kapan kita tidur; sampai kapan kebodohan dan kebimbangan dalam kebatilan berlangsung; sampai kapan kita berdiri bersama diri, nafsu dan adat kebiasaan. Mengapa kau tidak mendidik diri sendiri dengan beribadah kepada Allah dan menjalani syariatNya ? Ibadah adalah meninggalkan kebiasaan. Mengapa engkau tidak mendidik diri sendiri dengan adab al Quran dan hadis-hadis Nabi ?

Engkau seharusnya tidak mempergauli manusia dengan mata buta, kebodohan, kelalaian, dan ketidaksadaran. Engkau seharusnya mempergauli mereka dengan bashirah (pengamatan), ilmu, dan kesadaran. Apabila kau melihat pada diri mereka sesuatu yang terpuji, ikutilah mereka. Sebaliknya, bila melihat pada diri mereka sesuatu yang tercela, jauhi dan tentanglah mereka. Engkau benar-benar sedang melalaikan Allah SWT. Engkau mesti sadar, mesti banyak memakmurkan masjid dan memperbanyak salawat kepada Nabi saw, sebab beliau pernah bersabda, “Seandainya ada api turun dari langit, tidak akan selamat dari sambaran api itu kecuali orang-orang yang memakmurkan masjid”.

Apabila engkau malas menunaikan salat, berarti salatmu terputus dengan Allah SWT. Untuk itulah Nabi saw bersabda : “Keadaan yang paling bisa mendekatkan seorang hamba dan Tuhannya adalah ketika dia bersujud kepadaNya”.

Betapa sering engkau merekayasa dan menganggap enteng agama, sementara yang demikian adalah sikap seorang pengkhianat. Oleh karena itu, semoga kita tidak termasuk orang seperti itu. Apabila kita dapat menjalani kewajiban, mengikatkan diri pada ijma’, dan mengikhlaskan amal hanya semata-mata untuk Allah, lantas untuk apa kita merekayasa dan menganggap enteng agama.

Zaman ini memang zaman orang menganggap enteng sesuatu, bukan zaman orang berlomba-lomba menegakkan kewajiban. Zaman ini adalah zaman riya dan kemunafikan, serta zaman banyak orang mengambil harta tanpa hak. Sungguh banyak orang yang menunaikan salat, puasa, haji, zakat dan mengerjakan perbuatan-perbuatan baik demi mahluk, bukan untuk Khalik. Sebagian besar orang yang berilmu menjadi mahluk yang berada dalam pangkuan mahluk, bukan dalam pangkuan Khalik. Kalian mematikan hati, menghidupkan diri dan nafsu dengan mencari dunia. Padahal hidupnya hati adalah dengan cara keluar dari kedudukan mahluk dan tegak bersama Allah secara maknawi. Sebab, dalam konteks ini, hal tersebut tidakmungkin bisa digambarkan (secara lahiriah). Hidupnya hati adalah melaksanakan semua perintah Allah dan menghindari seluruh laranganNya; juga bersabar bersamaNya atas bencana, qadha’, dan takdirNya.

Engkau sudah semestinya menerima apa yang telah ditakdirkanNya, lalu berdiri tegak bersamaNya. Setiap perkara membutuhkan fondasi dan bangunan, serta terus seperti itu pada setiap saat, baik di malam maupun di siang hari. Hendaklah memikirkan setiap urusanmu, sebab berpikir adalah bagian dari aktivitas hati. Apabila engkau melihat kebaikan pada dirimu, hendaklah bersyukur kepada Allah SWT. Sebaliknya, apabila melihat keburukan pada dirimu, hendaklah segera bertobat. Dengan bertafakur, agamamu akan hidup, dan setan-setan di sekelilingmu akan mati. Oleh karena itu, sering dikatakan : “Berfikir sesaat lebih baik daripada menegakkan salat sepanjang malam”.

Sebagai umat Muhammad, sudah selayaknya engkau senantiasa bersyukur kepad Allah. Sebab, sesungguhnya Allah akan merasa cukup puas dengan sedikit amalmu. Sebagai kaum yang terakhir maupun yang termasuk kaum yang awal pada Hari Kiamat, kalian semestinya menyadari bahwa apabila sesuatu dari dirimu baik, maka tidak ada kebaikan lain yang serupa dengannya.Kalian pada dasarnya adalah pemerintah, sementara yang selain kalian adalah yang diperintah. Selama kalian masih menjadi pemimpin syahwat, hawa nafsu dan tabiatmu sendiri, kalian tidak akan menjadi baik. Selama kalian masih berselisih dengan orang lain tentang apa-apa yang mereka miliki, menarik hati mereka dengan sikap riya dan kemunafikan, maka hal demikian tidak akan menjadi kebaikan bagi kalian. Selama kalian merindukan keduniaan, ia tidak akan pernah mendatangkan kebaikan untuk kalian. Demikian pula selama hati kalian percaya kepada apa-apa yang selain Allah, tidak akan ada kebaikan bagi diri kalian.

Ya Allah, anugerahilah kami kebaikan di dunia dan akhirat, dan jauhkanlah kami dari api neraka.


2 responses to “Sekali lagi : kefakiran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s