Jangan sakiti kekasih Allah


Balasan Allah SWT bagi orang yang menyakiti para waliNya tidak selalu ditimpakan di dunia karena umur dunia di sisi Allah sangatlah pendek. Selain itu, Allah tidak mau menjadikan dunia sebagai tempat hukuman bagi musuh-musuhNya sebagaimana Dia tidak mau menjadikannya sebagai tempat ganjaran bagi para kekasihNya. Sekalipun ada hukuman yang disegerakan di dunia, bentuknya bisa jadi berupa hati yang keras, pandangan yang kelam, terhalang untuk menaatiNya, terjebak dalam dosa, tekad yang lemah, serta tidak merasakan kenikmatan beribadah.

Dikisahkan bahwa ada seorang Bani Israil yang taat kepada Allah, namun kemudian berpaling. Ia berkata : ” Ya Tuhan, betapa aku sering melakukan dosa kepadaMu, tetapi Engkau tidak menghukumku.” Lalu Allah SWT mewahyukan kepada nabi pada masa itu untuk menyampaikan kepada orang itu, ” Betapa Aku sering menghukummu tetapi kau tidak menyadarinya. Bukankah telah Kulenyapkan darimu kenikmatan zikir kepadaKu dan manisnya munajat kepadaKu ?”

Begitulah, Allah SWT tidak akan memberikan keselamatan kepada orang yang menyakiti waliNya. Apabila tidak ada hukuman yang menimpa dirinya, hartanya, dan anaknya, mungkin hukumannya itu terlampau besar sehingga ia tidak menyadarinya.

Dalam hadis qudsi, Allah berfirman “Semakin hambaKu mendekat kepadaku dengan sesuatu yang lebih Kucintai daripada kewajiban-kewajiban yang Kubebankan atas dirinya …”. Penggalan hadis itu berbicara tentang kewajiban manusia. Ada dua macam kewajiban dari Allah atas hamba, yaitu kewajiban lahiriah dan batiniah. Kewajiban lahiriah adalah seperti salat lima waktu, zakat, puasa Ramadhan, haji, amar makruf nahi ,imgkar, berbakti kepada orangtua dsbnya. Sedangkan kewajiban batiniah adalah mengenal Allah, mencintaiNya, bersandar kepadaNya, percaya pada janjiNya, takut dan berharap kepadaNya dll. Kewajiban batiniah terbagi dua, yaitu melakukan dan meninggalkan. Allah menuntutmu untuk mengerjakan dan untuk meninggalkan sesuatu. Bentuk-bentuk kewajiban itu terhimpun dalam ayat Al Quran “Allah memerintahkanmu untuk berbuat adil, bersikap ihsan dan menyambung tali silaturahmi” (QS 16:90).

Dan dalam ayat yang lain, Allah menyebutkan kewajiban untuk meninggalkan :“Dia juga melarang untuk berbuat keji, mungkar dan melampaui batas”. (QS 16:90).

Semua perintah Allah kepada manusia yang bersifat wajib maupun sunnah mengimplikasikan kemaslahatan bagi mereka. Sama halnya, semua larangan Allah, yang haram maupun makruh, mengandung kemaslahatan bagi mereka.

Kami tidak sepakat dengan mereka yang menyimpang dari jalan hidayah, yang mengatakan bahwa Allah wajib melindungi kemaslahatan hambaNya. Menurut kami, hal itu telah menjadi sunatullah dan ketentuannya yang berlaku untuk selamanya. Allah melindungi kemaslahatan para hambaNya sebagai bentuk kebaikan. Pandangan bahwa Allah wajib melindungi kemaslahatan para hambaNya sangatlah keliru, karena siapakah yang mewajibkan kepada Allah ?

Selain itu, perlu juga dikemukakan bahwa semua perintah Allah, yang wajib maupun yang sunnah, akan mendekatkan (al-jam’u) hamba dengan Allah. Sebaliknya,semua yang haram dan makruh akan menjauhkan (tafriqah) hamba dariNya. Allah menuntut hamba-hambaNya untuk mendekat kepadaNya. Sarana dan sebab untuk mencapai kedekatan dengan Allah adalah ketaatan. Karena itu Dia memerintahkan mereka untuk menaatiNya. Sebaliknya, maksiat merupakan sebab dan sarana yang menjauhkan manusia dari Allah. Karena itulah Dia melarang mereka melakukan maksiat.

Berbagai kewajiban lahiriah tidak bisa dilepaskan dari kewajiban batiniah. Kewajiban batiniah menjadi syarat dan pendukung kewajiban lahiriah. Tentang hal ini, kita mesti memahami sabda Nabi saw, “Niat seorang mukmin lebih baik daripada amal perbuatannya.” (HR al-Qudha’i dalam Musnad al-Syihab, juga oleh Ibn Asakir. Ia mengatakan bahwa hadis ini garib. Diriwayatkan pula oleh al-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir. Al-Haitami berkata : “Para perawinya bisa dipecaya kecuali Hatim ibn Ibad ibn Dinar. Aku belum mengetahuinya”. Dan banyak lagi catatan lainnya).

Sama halnya, dosa batiniah, kecil atau besar, lebih berbahaya daripada dosa lahiriah. Ketika Allah menuntut hambaNya untuk memenuhi berbagai kewajiban maka semua itu menjadi ketetapan Allah atas dirinya. Si hamba tidak dapat memasuki wilayah kewajiban itu kecuali melalui pilihan Allah untuk dirinya. Dengan demikian, kehendak hamba tidak berperan di sini, sebab Allah telah menetapkan persiapan bagi mereka berikut sebab-sebabnya. Ketika seseorang melaksanakan suatu kewajiban, ia tak punya pilihan dan harus mengikuti pilihan Allah untuk dirinya. Karena itulah setiapkewajiban akan mendekatkannya kepada Allah. Inilah makna sabda Nabi saw : “Tidaklah hambaKu mendekat kepadaKu dengan sesuatu yang lebih Kucintai daripada kewajiban-kewajiban yang Kubebankan atas dirinya”.

Firman Allah dalam kelanjutan hadis qudsi : “Semakin hambaKu mendekat kepadaku dengan amal sunnat, semakin Aku mencintainya.”. Perbincangannya akan disajikan dalam sambungan tulisan ini. Insya Allah, tidak lama lagi.

Dan hanya kepada Allah aku berserah diri.[fat]

SUMBER : Latha’if al-Minan karya Syekh al_imam Tajuddin Abu al-Fadhl Ahmad ibn al-Syekh al-Humam Fachruddin Abu Bakar Muhammad ibn al-Syekh al-Imam al-Allamah Rasyiduddin abu Muhammad Abdul Karim ibn Athaillah r.a.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s