Kekayaan yang didamba


Syekh Abdul Qodir al-Jailani membuka tausiahnya dengan berseru : Wahai fakir ! Janganlah terlalu mendambakan kekayaan, sebab mungkin hal itu akan membinasakanmu. Kepada yang sedang sakit, engkau pun tidak perlu terlalu mengangankan kesembuhan, sebab boleh jadi hal demikian tidak terlalu baik bagimu. Jadilah orang yang berakal. Jagalah perilakumu, pasti engkau akan menjadi orang yang terpuji. Puaslah atas qadar dirimu, dan jangan terlalu berharap lebih. Semua hal yang diberikan Allah kepadamu karena permintaanmu mungkin dapat memperkeruh suasana dan menimbulkan kebencian. Ini benar-benar batu ujian, keduali bagi hamba yang diperintah oleh hatinya untuk meminta.

Hendaklah sebagian besar permohonanmu adalah ampunan, kesehatan, serta keselamatan abadi dalam agama, dunia dan akhirat. Cukuplah permohonan itu saja. Engkau tidak perlu meminta banyak pilihan kepada Allah SWT, dan jangan bersikap sombong, karena Allah dapat membinasakanmu. Janganlah bersikap sombong kepada Allah, juga kepada mahlukNya karena kemudaan, kemampuan, dan harta yang kau miliki. Sebab, Allah dapat saja menghancurkan serta menyiksamu. Padahal, sesungguhnya siksaan Allah itu amat menyakitkan dan amat keras.

Engkau bisa celaka jika lisanmu Muslim, sementar hatimu tidak; perkataanmu Muslim, sementara perbuatanmu bukan; dan di tempat ramai engkau Muslim, sementara di tempat sepi tidak. Ketahuilah bahwa sesungguhnya jika kau salat, puasa, dan mengerjakan seluruh amal kebajikan – jika engkau tidak ikhlas semata-mata karena Allah – berarti kau telah bersikap munafik, jauh dari Allah SWT. Oleh karena itu, sudah semestinya sekarang engkau bertobat kepada Allah dari seluruh perkataan, perbuatan, dan tujuan keduniaanmu.

Kaum Mukmin, di dalam amal-amal mereka, tidak terkena bujuk rayu. Mereka adalah orang-orang yang berbahagia, yakin, bertauhid, ikhlas, serta sabar atas segala bencana dan penderitaan, bersyukur atas segenap nikmat dan kemuliaan yang diberikan olehNya; serta berzikir dengan lisan mereka, dengan hati mereka, dan dengan qolbu mereka. Apabila mereka disakiti oleh manusia, mereka tersenyum dan wajahnya tetap berseri. Raja-raja dunia dalam pandangan mereka adalah ma’zul (jauh, terusir); seluruh manusia yang ada di bumi dalam pandangan mereka adalah mati, lemah, sakit dan fakir. Surga dalam pandangan mereka seolah-olah runtuh, sementara neraka dalam pandangan mereka seolah-olah padam. Tidak langit, tidak bumi, tidak juga mahluk yang tertinggal dalam hati mereka.

Mereka bersama dunia dan penghuninya, lalu bersama akhirat dan ahlinya, dan kemudian bersama Tuhan dunia dan akhirat. Mereka senantiasa menghubungkan diri dengan Tuhannya dan para pencintaNya. Mereka berjalan bersama Allah dengan hati-hati mereka sehingga sampai kepadaNya. Mereka berhasil meraih anugerah sebelum menempuh perjalanan. Mereka berhasil membuka pintu yang ada di antara mereka dengan Allah SWT. Allah mengingat mereka selama mereka mengingatNya. Mereka senantiasa mendengar firman Allah SWT : Ingatlah kalian kepadaKu, niscaya Aku akan mengingat kalian. Bersyukurlah kalian kepadaKu dan jangan kalian menjadi orang-orang yang ingkar. (QS 2:152).

Oleh karena itu, mereka membiasakan diri untuk selalu berzikir kepadaNya dengan penuh antusias. Mereka mendengar pula firman Allah yang berbunyi, “Aku duduk bersama siapa saja yang selalu mengingatKu”.

Oleh karena itu pula, mereka meninggalkan majelis-majelis mahluk dan memuaskan diri dengan zikir kepadaNya hingga mereka dapat ber-mujalasah bersamaNya.

(Sumber : Kitab Al-Fath ar-Rabbani wa al-Faidh ar-Rahmani karya : Syekh Sidi ‘Abdul Qadir al-Jailani)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s