Salat khusyu’


Hilangnya khusyu’ merupakan tanda hilangnya kehidupan dan dinamika hati sehingga membuatnya tidak bisa menerima nasihat dan didominasi oleh hawa nafsu. Bayangkanlah bagaimana keadaannya setelah itu ? Pada saat nafsu mendominasi hati, dan nasihat atau peringatan tindak lagi bermanfaat baginya maka berbagai syahwat pun merajalela dan terjadilah perebutan kedudukan, kekuasaan, harta dan nasfu syahwat. Bila hal ini benar-benar mendominasi kehidupan, maka tidak akan terwujud kebaikan dunia dan agama.

Sudahkah Anda dapat menikmati kekhusyukan salat ?

Ketahuilah bahwa dalil-dalil tentang pentingnya khusyu’ dan kehadiran hati dalam salat sangat penting. Allah berfirman : ” … dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku” (QS 20:14). Lahiriahnya perintah adalah wajib, sedangkan lalai adalah lawan ingat. Siapa yang lalai dalam semua salatnya maka bagaimana mungkin dia bisa mendirikan salat untuk mengingatNya ?

FirmanNya juga : ” Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai”. (QS 7:205), larangan yang secara tegas menyatakan keharaman. FirmanNya lagi : “Sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan”. (QS 4:43), merupakan penjelasan kenapa mabuk-mabukan itu dilarang, yakni berketerusan dalam keadaan lalai dan tenggelam dalam pikiran yang tidak sehat dan lamunan dunia.

Nabi saw bersabda : “Sesungguhnya salat itu ketepatan hati dan ketundukan diri”. Pada teks bahasa Arab hadits ini kata salat disertai alif san lam yang memberi arti salat tertentu, bukan sembarang salat, kemudian disertai pula kata innama untuk mempertegas.

Nabi saw bersabda : “betapa banyak orang yang menegakkan salat hanya memperoleh letih dan payah”. Orang yang dimaksudkan tidak lain adalah orang yang lalai. Padahal orang yang salat adalah orang yang sedang bermunajat kepada Tuhannya sebagaimana ditegaskan hadis ini, sedangkan pembicaraan dengan orang yang lalai tidak bisa disebut munajat.

Penjelasannya, bahwa zakat jika -makna batinnya- dilalaikan manusia misalnya maka zakat itu sendiri sangat bertentangan dengan nafsu syahwat, dan sangat berat bagi jiwa. Demikian pula puasa, dapat melemahkan kekuatan dan menghancurkan kekuatan hawa nafsu yang merupakan alat syetan musuh Allah. Sehingga tidak terlalu jauh untuk bisa mencapai apa yang dimaksud dengan sikap lalai. Demikian pula haji; berbagai amalannya sangat berat dan memerlukan mujahadah atau penderitaan, baik disertai dengan kehadiran hati atau tidak. Sedangkan salat hanya terdiri dari zikir, bacaan, ruku’, sujud, berdiri dan duduk. Adapun zikir,ia merupakan dialog dan munajat kepada Allah, baik yang dimaksudkan sebagai pembicaraan dan dialog atau sebagai huruf-huruf dan suara yang menjadi ujian bagi amal lisan.

Bagian ini tak diragukan lagi adalah batil, karena betapa mudahnya bagi orang yang lalai untuk menggerak-gerakkan lisannya dengan bacaan-bacaan tanpa mengandung ujian dari segi amal perbuatan, tetapi yang dimaksudkannya sekedar huruf yang terucapkan. Sementara itu, ia tidak menjadi ucapan bila tidak mengekspresikan apa yang ada dalam hati,dan ia tidak menjadi ekspresi jika tidak disertai dengan kehadiran hati. Apa artinya permohonan dalam firmanNya, “tujukkanlah kami ke jalan yang lurus” (QS 1:6), jika hati tetap lalai ? Jika tidak dimaksudkan dengan tadharru’ (kerendahan hati) dan doa, maka betapa mudahnya diucapkan lesan dengan hati yang lalai, terutama bila telah menjadi kebiasaan ? Itulah hukum zikir.

Tidak diragukan bahwa maksud dari bacaan dan zikir adalah pujian, sanjungan, tadharru’ dan doa,sedangkan maksud dari ruku’ dan sujud adalah semata melakukan amalan tersebut sekalipun dengan hati yang lalai niscaya boleh pula mengangungkan dinding yang ada di hadapannya dengan hati yang lalai. Jika sudah tidak lagi bisa dilakukan sebagai ta’zhim maka tidak ada lagi kecuali gerakan punggung dan kepala sehingga tidak mengandung kesulitan yang merupakan tujuan ujian, di samping fungsinya sebagai tiang agama dan semua ibadah. Saya tidak melihat bahwa pengagungan yang demikian besar terhadap salat hanya karena amalan-amalan lahiriah semata, namun juga karena apa yang menjadi tujuannya adalah munajat. Karena itu, ia mendahului puasa, zakat, haji dan lainnya bahkan berbagai pengorbanan dan penyembelihan binatang qurban yang merupakan mujahadah terhadap nafsu dengan mengorbankan harta. Allah berfirman, “daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan mencapai (keridahaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapaiNya” (QS 22:37), yakni sifat yang mendominasi hati sehingga mendorongnya untuk melakukan perintah. Itulah yang menjadi tuntutan, maka bagaimana pula dengan salat ? Ini dari segi makna menunjukkan kepada syarat kehadiran hati.

Diriwayatkan dari Basyar bin al-Harits dalam apa yang diriwayatkan oleh Abu Thalib al-Makki dari Sufyan ats-Tsauri, ia berkata “barangsiapa tidak khusyu’ maka salatnya rusak”.

Diriwayatkan dari al-Hasan bahwa ia berkata “setiap salat yang tidak disertai dengan kehadiran hati maka ia lebih cepat kepada hukuman”.

Dari Mu’az bin Jabal, “barangsiapa yang di dalam salat masih mengetahui apa yang ada di sebelah kanan dan kirinya maka tidak ada salat baginya”.

Rasulullah bersabda : “sesungguhnya seorang hamba menunaikan salat tetapi tidak ditulis untuknya seperenamnya dan tidak pula sepersepuluhnya”. (diriwayatkan oleh Abu Dawud, Nasa’i dan Ibnu Hibban dari hadits Ammar bin Yasir).

Kesimupannya, bahwa kehadiran hati adalah ruh salat. Batas minimal keberadaan ruh ini ialah kehadiran hati pada saat takbiratul ihram. Bila kurang dari batas minimal ini berarti kebinasaan. Semakin bertambah kehadiran hati semakin bertambah pula ruh tersebut dalam bagian salat. Berapa banyak orang hidup yang tidak punya daya gerak sehingga mirip mayit. Demikian pula salat orang yang lalai dalam seluruh pelaksanaan salatnya, kecuali pada waktu takbiratul ihram, seperti orang hidup yang tidak punya daya gerak sama sekali.

Kita memohon pertolongan yang sebaik-baiknya dari Allah.

(Sumber : Ihya Ulumuddin karya Al Ghazali)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s