Salat yang hidup


Ketahuilah bahwa ketika seorang hamba sedang salat, ia sedang berkomunikasi dengan Allah, bukan sekedar menggerakkan anggota badan dan membaca doa-doa. Maka, salat yang bermakna dan memberi pengaruh pada perubahan perilaku adalah salat yang hidup, sedangkan kehidupan salat terangkum dalam enam pengertian, yaitu : kehadiran hati, tafahum, ta’zhim, haibah, raja’ dan haya’. Berikut ini penjelasannya :

Kehadiran hati yang kami maksudkan ialah mengosongkan hati dari hal-hal yang tidak boleh mencampuri dan mengajaknya berbicara, sehingga pengetahuan tentang perbuatan senantiasa menyertainya dan pikiran tidak berkeliaran kepada selainnya. Selagi pikiran tidak terpalingkan dari apa yang sedang ditekuninya sedangkan hatinya masih tetap mengingat apa yang sedang dihadapinya dan tidak ada kelalaian di dalamnya maka berarti telah tercapai kehadiran hati.

Tetapi, tafahhum (kefahaman) terhadap makna pembicaraan merupakan sesuatu di luar kehadiran hati. Bisa jadi hati hadir bersama lafazh atau bisa jadi juga tidak. Peliputan hati terhadap pengetahuan tentang makna lafazh itulah yang kami maksudkan dengan kefahaman. Berkenaan dengan maqam ini terjadi perbedaan di kalangan manusia, karena tidak semua orang sama dalam memahami al Quran dan berbagai kalimat tasbih. Betapa banyak makna-makna yang sangat halus yang difahami oleh orang yang sedang menunaikan salat, padahal tidak pernah terlintas dalam hatinya sebelum itu ? Dari sinilah kemudian salat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar, karena ia memahamkan banyak hal yang pada gilirannya dapat mencegah perbuatan maksiat.

Sedangkan ta’zhim (rasa hormat) juga merupakan perkara di luar kehadiran hati dan kefahaman; sebab bisa jadi seseorang berbicara kepada budaknya dengan hati yang penuh konsentrasi dan faham akan makna perkataannya tetapi ia tidak menaruh rasa hormat kepadanya. Dengan demikian, ta’zhim merupakan tambahan bagi kehadiran hati dan kefahaman.

Sedangkan haibah (rasa takut yang bersumber dari rasa hormat) merupakan tambahan bagi ta’zhim bahkan ia adalah ungkapan tentang rasa takut yang bersumber dari ta’zhim, karena orang yang tidak takut tidak bisa disebut ha’ib. Rasa takut dari kalajengking, atau dari keburukan perangai seseorang dan yang sejenisnya termasuk sebab-sebab yang rendah yang tidak disebut takut yang bersumber dari rasa hormat (mahabbah), sedangkan takut dari penguasa yang dihormati disebut takut yang bersumber dari rasa hormat (mahabbah). Habibah ialah rasa takut yang bersumber dari penghormatan dan pemuliaan.

Sedangkan raja’ (harap) tidak diragukan lagi merupakan tambahan. Betapa banyak orang yang menghormati seorang raja yang ditakuti tetapi tidak diharapkan balasannya. Sedangkan seorang hamba dengan salatnya harus mengharapkan ganjaran Allah, sebagaimana ia takut hukuman Allah bila melakukan pelanggaran.

Sedangkan haya’ (rasa malu) merupakan tambahan bagi semua hal di atas, karena landasannya adalah perasaan selalu kurang sempurna dan selalu berbuat dosa.

Penyebab timbulnya kehadiran hati adalah himmah (perhatian utama), karena sesungguhnya hatimu mengikuti perhatian utamamu, sehingga ia tidak akan ‘hadir’ kecuali berkaitan dengan hal-hal yang menjadi perhatian utamamu. Bila ada sesuatu yang menjadi perhatian utamamu, maka hati pasti akan ‘hadir’ suka atau tidak suka; karena hati terbentuk dan terkondisikan dengan perhatian utama tersebut. Apabila hati tidak ‘hadir’ dalam salat maka ia tidak akan pasif begitu saja tetapi pasti berkeliaran mengikuti urusan dunia yang menjadi perhatian utama Anda. Oleh karena itu, tidak ada kiat dan terapi untuk menghadirkan hati kecuali dengan memalingkan himmah (perhatian utama) kepada salat. Sementara itu, himmah tidak akan terarahkan kepada salat selagi belum jelas bahwa tujuan yang dicari tergantung kepadanya. Dan itulah keimanan dan pembenaran bahwa akhirat lebih baik dan lebih kekal, dan bahwa salat merupakan sarana kepadanya. Bila hal ini didukung oleh hakikat pengetahuan tenbtang betapa tidak berharganya dunia maka pasti akan melahirkan kehadiran hati dalam salat. Dengan sebab seperti itu hatimu akan ‘hadir’ bila Anda berada di hadapan sebagian orang besar yang tidak berkuasa menimpakan bahaya dan memberi manfaat kepadamu. Bila hati tidak ‘hadir’ pada waktu munajat kepada Maha Diraja yang ditanganNya segala kerajaan, kekuasaan, manfaat dan bahaya, maka janganlah Anda mengira bahwa hal tersebut memiliki sebab lain selain kelemahan iman. Karena itu, berjuanglah Anda untuk memperkuat keimanan dengan jalan tersebut.

(BERSAMBUNG)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s