Cabuti benalu di hatimu


Jika kamu mati dari mahluk ciptaan, maka diucapkanlah padamu “semoga Allah mengasihimu dan mematikanmu dari hawa kesenanganmu”. Lalu jika kamu mati dari hawa kesenanganmu, maka akan diucapkanlah kepadamu “semoga Allah mengasihimu dan mematikanmu dari kehendak dan cita pengharapanmu”. Lantas jika kamu mati dari kehendak diri, maka akan diucapkan kepadamu “semoga Allahj mengasihimu dan menghidupkanmu”. Pada tataran inilah, kamu akan hidup dalam kehidupan yang tak mengenal kematian lagi, juga dianugerahi kenikmatan yang tiada menyesakkan penderitaan lagi di belakangnya, dianugerahi kekayaan yang tiada menyisakan kefakiran setelahnya, dianugerahi pemberian yang tidak mengenal penolakan lagi setelahnya, dianugerasi keleluasaan istirahat yang tiada menyisakan beban berat lagi di belakangnya, dilimpahi ilmu yang tidak mengenal kejahilan setelahnya, dianugerahi ketenteraman yang tidak mengenal ketakutan lagi setelahnya. Kamu akan senantiasa gembira tanpa sengsara, mulia tanpa terhina, terdekatkan tanpa terjauhkan, terangkat derajat tanpa terhinakan, terhormati tanpa lecehan penghinaan, tersucikan tanpa kotoran. Terwujudlah segala cita pengharapan didalam dirimu. Ujaran-ujaranmu dipercaya dan dibenarkan. Lalu jadilah kamu orang terkenal yang nyaris tak terlihat, orang terhormat yang tak tertandingi, orang istimewa yang tak tersertai, orang satu-satunya yang tak terduai, satu untuk satu, ganjil untuk ganjil, gaib untuk gaib, rahasia untuk rahasia.

Jika sudah demikian hal dirimu, maka kau akan menjadi pewaris para Rasul, Nabi dan kaum Shiddiq. Olehmu kewalian ditutup. Kepadamu berkerumunlah para Wali Abdal. Lantaran dirimu segala kesulitan tersingkap, mendung-mendung menyirami, tanaman-tanaman tumbuh bersemi, segala petaka dan ujian terangkat (hilang) dari diri kaum Khas dan awam, penguasa dan rakyat, pemimpin dan umat serta seluruh mahluk melata.

Kamu menjadi pembangkit pusat energi bagi bangsa dan hamba. Orang-orang bergegas-gegas mendatangimu, membawa bingkisan dan hadiah, mengabdi kepadamu atas izin Sang Pencipta segala sesuatu dalam segala kondisi. Mulut-mulut mereka menyemai puji dan sanjungan kepadamu di segala tempat. Tiada dua orang Mukmin yang berselisih tentang dirimu, wahai penghuni terbaik belantara, pemukiman dan padang sahara.

Itulah anugerah Allah yang hanya dianugerahkan-Nya pada orang yang Dia kehendaki. Dan Allah-lah Pemilik segala anugerah dan pemberian.

(Nasihat Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Adab as-Suluk wa at-Tawasul ila Manazil Muluk).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s