Tentang Rindu


Syekh Abu al-Abbas mengatakan : “ada dua macam rindu : rindu karena tidak bersua yang terpuaskan ketika berjumpa sang kekasih. Itulah kerinduan nafs. Rindu yang kedua adalah kerinduan jiwa terhadap saat-saat kehadiran dan penyaksian. Apabila Allah mengangkatmu ke hadiratNya dan ke tempat penyaksian tanpa melalui sebab-sebab, maka kau mencapai maqam pengenalan iman yang hakiki. Itulah medan turunnya rahasia azali.

Apabila Dia menempatkanmu pada maqam mujahadah, berarti kau mendapatkan maqam taklif yang terikat dengan berbagai sebab. Itulah wujud Islam yang hakiki – medan terwujudnya hakikat keabadian”.

Ahli hakikat tidak memedulikan sifat apa pun. Sebab, sifatmulah yang condong, bukan dirimu. Sifat adalah yang terlihat mata. Sifat adalah apa yang kautampakkan. Nama adalah milik lisan. Nama adalah ucapanmu. Nama adalah hakikat sifat. Dan hakikat adalah inti wujud. Asrar turun dari alam wujud ke alam shiddiqiyah. Hakikat tampak dari sifat kewalian menuju pemilik ilmu lahirian dan dari nama yang disertai dalil menuju ahli mujahadahg. Hal ini ditunjukkan oleh sabda Nabi Saw. kepada Abu Juhaifah.

“Wahai Abu Juhaifah, bertanyalah kepada para ulama, bergaullah dengan para ahli hikmah, dan duduklah bersama para tokoh besar. Melalui pengetahuan, orang yang alim menunjukkanmu nama-nama yang berakhir pada surga. Ahli hikmat mengantarmu lewat keyakinan dan lewat berbagai hakikat sifat dan berakhir di tempat-tempat yang dekat denganNya. Inilah mana firman Allah “bertakwalah kepada Allah dan carilah sarana menujuNya”. Sementara tokoh besar mengantarmu lewat berbagai rahasia wujud di atas jalan bening dan kesucian serta berakhir pada Allah”

Ketiga fungsi itu berkumpul pada tokoh besar. Ia menuntun suatu kaum dengan ilmu pengetahuan, menuntun kaum yang lain dengan hakikat, dan kaum yang lain lagi dengan asrar yaitu rahasia Ilahi. Mereka adalah para penerus nabi dan pengganti rasul. Mereka adalah ahli bashirah.

“Katakan, ‘Ini adalah jalanku. Aku menyeru kepada Allah di atas landasan bashirah. Aku dan orang-orang yang mengikutiku’.”.

Maksudnya, di atas landasan penglihatan yang cermat. Ia melihat jalan yang tepat untuk setiap golongan dan mengantar mereka meniti jalan tersebut. Sementara, ia sendirian dalam ahwal yang tak diketahui karena kedekatannya yang demikian agung.

Syekh mengatakan, seorang hamba berada hanya pada satu dari empat kondisi : nikmat, cobaan, taat dan maksiat. Pada setiap kondisi itu kau harus melempatkan panah penghambaan seperti yang dituntut oleh Allah sesuai dengan rububiyahNya.

Dalam kondisi taat, saksikanlah anugerah Allah yang telah memberi petunjuk dan memberi taufiq sehingga kau bisa mengerjakan ketaatan.

Dalam kondisi maksiat, memintalah ampunan dan bertobatlah.

Dalam kondisi nikmat, bersyukurlah. Syukurmu adalah wujud kesenangan hatimu kepada Allah.

Dalam kondisi cobaan, rida dan sabarlah menerima ketentuanNya. Rida adalah hancurnya nafsu syahwat. Sementara sabar berasal dari kata al-ashbar yang berarti sasaran anak panah. Begitulah keadaan seorang yang sabar. Ia siap menjadikan dirinya sebagai sasaran anak panah ketentuan Tuhan. Jika istikamah, berarti ia sabar.

Sabar adalah keteguhan hati di hadapan Tuhan. Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang diberi lalu bersyukur, diuji lalu bersabar, dizalimi lalu memaafkan, menzalimi lalu meminta maaf ….” Rasulullah saw diam sejenak. Para sahabat bertanya : “Apa balasan buatnya wahai Rasulullah ?” Rasul menjawab : Mereka aman dan mendapat petunjuk”. (HR Ibn Mardawaih).

Maksudnya, mereka aman di akhirat dan mendapat petunjuk di dunia.*****[fat]
(Dikutip dari : Latha’if al-Minan karya Syekh Ibnu Athaillah).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s