Mengamalkan Al Quran


Hasan al-Bashri berkata : “Hendaklah engkau menghinakan dunia karena, demi Allah, engkau tidak menjadi baik kecuali setelah menghinakannya”.

Lalu, mari kita perhatikan nasihat Syeikh Abdul Qadir al-Jailani dalam karyanya Al-Fath ar-Rabbani wa al-Faidh ar-Rahmani.

Wahai anakku, ingatlah bahwa mengamalkan Al Quran mendudukanmu pada kedudukanNya. Sementara mengamalkan Sunnah akan mendudukanmu pada kedudukan Rasulullah, Muhammad saw. Rasulullah saw tidak akan meninggalkan hati dan semangatnya dari hati setiap Muslim. Dia adalah orang yang akan memperbaiki hati mereka. Dialah yang akan menyucikan dan menghiasi batin mereka. Dialah yang akan membuka pintu taqarrub untuk batin mereka. Dia adalah pelayan. Dia adalah mediator antara hati dan batin dengan Allah SWT. Setiap kali dia maju selangkah, bertambahlah kebahagiaannya. Bararangsiapa yang memperoleh anugerah atas keadaan ini, pantas dan layak baginya untuk bersyukur dan bertambah kesetiaannya. Sementara kebahagiaan tanpa hal itu adalah sebuah kepalsuan.

Orang-orang bodoh itu tidak jarang merasa berbahagia di dunia ini, sementara orang-orang yang berilmu merasa khawatir dan susah di dalamnya. Orang-orang bodoh menimbang-nimbang takdir dan menentangnya, sementara orang yang berilmu berusaha menyesuaikan diri dan bersikap rela.

Orang-orang miskin hendaklah tidak menimbang-nimbang takdir dan memecahkannya sehingga bisa membuat kalian celaka. Musibah bergantung pada keridhaan kalian atas perlakuan Allah dan upaya kalian untuk mengeluarkan mahluk dari dalam hati kalian, serta menjumpai Tuhan semua mahluk. Apabila senantiasa mengikuti Allah SWT, para rasulNya dan hamba-hambaNya yang saleh, sementara kalian berketetapan untuk untuk berhidmat pada orang-orang saleh, maka lakukanlah. Yang demikian adalah lebih baik bagi kalian di dunia maupun di akhirat. Seandainya seluruh dunia ini menjadi milik kalian, sementara hati kalian tidak seperti hati mereka, berarti kalian sesungguhnya tidak memilikinya sebesar atom pun. Setiap orang yang hatinya benar-benar semata-mata untuk Allah SWT sementara dunia dan akhirat bersamanya, dia akan menghukumi di antara orang-orang awam dan orang-orang khawwash dengan hukum Allah.

Celakalah engkau, sebab saya tahu kadarmu. Mengapa engkau menyandarkan diri pada manusia ? Seluruh keinginanmu hanya pada makanan, minuman, pakaian, perkawinan, dan dunia seluruhnya ; dan engkau benar-benar menjaga semua itu. Padahal, seluruh pekerjaan yang terkait dengan urusan-urusan dunia merupakan kebatilan bagi perkara-perkara akhirat, yang hanya akan mempersiapkan jasadmu dan menyerahkannya pada cacing-cacing dan serangga bumi. Rasulullah saw bersabda : “sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memiliki seorang malaikat yang akan menyeru setiap hari, pagi dan sore – wahai anak-anak Adam, lahirkanlah anak-anak demi kematian, membangun demi kehancuran, dan berkumpullah demi para musuh”.

Seorang Mukmin senantiasa memiliki niat yang baik dan lurus di dalam setiap perilakunya. Dia tidak bekerja di dunia ini demi dunia semata. Dia membangun di dunia demi akhirat. Dia senantiasa memakmurkan masjid-masjid Allah, jembatan-jembatan, sekolah-sekolah, dan berbagai ikatan dengan manusia. Dia pun memperbaiki jalan-jalan kaum Muslim. Apabila dia membangun semua itu, maka ia membangun demi sejumlah keluarga, para janda, orang-orang fakir, dan melakukan apa yang harus dilakukan. Dia melakukan semua itu sehingga Allag membangun baginya penggantinya di akhirat. Dia tidak membangun demi tabiat, hawa nafsu maupun dirinya.

Seandainya semua anak Adam telah benar-benar bersamaNya di dalam seluruh keadaan, maka kehancurannya dengan Allah, demikian pula keberadaannya. Sementara hatinya senantiasa terikat dengan para nabi dan para rasul. Dia menerima apa yang datang darinya, baik berupa perkataan, perbuatan, keimanan, maupun keyakinan mereka. Tidak ada apa pun yang terkait dengan mereka, baik dunia ataupun akhirat.

Seseorang yang senantiasa mengingat Allah akan senantiasa hidup. Dia akan selalu berpindah dari suatu kehidupan ke kehidupan yang lain. Dia tidak pernah mati kecuali sekejap. Apabila zikirnya kepada Allah telah menghunjam ke dalam hati, seorang hamba akan selalu berzikir kepada Allah meskipun dia tidak berzikir dengan lizannya. Setiap kali seorang hamba selalu mendawamkan zikir kepada Allah SWT, dia akan senantiasa menyesuaikan diri denganNya dan bersikap ridha dengan apa yang diperbuat olehNya. Demikianlah penerimaan diri atas berbagai musibah dan bencana telah menghilangkan kesusahan, kesempitan, rasa keberatan, kegelisahan.

Adakah yang lebih menakjubkan dari segenap perkara kaum Muslim dan adakah yang lebih baik dari harta-harta mereka ? *** (BERSAMBUNG).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s