Merenungkan rezeki


Syeikh Abdul Qadir al Jailani memberi nasehat :

Janganlah terlalu menaruh perhatian pada persoalan rezeki karena pencairan rezeki kepadamu adalah lebih kuat daripada pencarianmu akan rezeki tersebut. Apabila engkau memperoleh rezeki hari ini, maka tanggalkanlah dari dirimu perhatian yang berlebihan akan rezekimu esok hari sebagaimana kau meninggalkannya kemarin atau di waktu yang telah berlalu. Sebab, esok hari, engkau tidak mengetahui, apakah akan kau jumpai atau tidak. Oleh karena itu, sibukkanlah dirimu (dalam mencari rezeki) hanya untuk hari ini saja. Seandainya engkau mengenal Allah SWT engkau pasti lebih menyibukkan diri bersama Allah ketimbang mencari rezeki. Sebab, siapa saja yang mengenal Allah, niscaya tumpul lisannya. Seorang ‘arif (yang mengenal Allah) akan senantiasa diam membisu di hadapan Allah hingga Dia mengembalikannya untuk kemaslahatan mahluk. Apabila Allah mengembalikannya kepada mahluk, akan terangkatlah kalam dari lisannya dan dari kegagapan bicaranya. Musa a.s. tatkala terlalu memperhatikan harta kekayaan, lisannya sering salah bicara, tergesa-gesa, gagap dan gagu. Lalu, tatkala Allah SWT berkehendak untuk mengembalikannya, Dia mengilhamkan kepadanya. Allah berfirman : “Ya Allah, hilangkanlah kekeluan lisanku agar mereka memahami ucapanku”.(QS 20:27)

Seolah-olah dia berkata, “Tatkala aku ada dalam kegembiraan di saat menaruh perhatian pada kekayaan, aku tidak dapat berhujjah atas hal tersebut. Sekarang datanglah kesibukanku bersama mahluk dan berbicara dengan mereka. Hal ini berarti hilangnya kekeluan dari lidahku“.

Lalu diangkatlah kekeluan dari lidahnya, sehingga kemudian dia berkata dengan sembilan puluh kalimat fasih yang dipahami sebanding dengan apa yang dikatakan oleh orang lain berupa sejumlah banyak kalimat yang mudah di masa mudanya. Dia berkata ketika belum saatnya di hadapan Firaun dan Siti Asiyah, sehingga Allah SWT menyumbatkan bara api ke mulutnya.

Wahai anakku,saya melihat engkau sedikit sekali mengenal Allah dan RasulNya. Engkau pun sedikit sekali mengenal para wali Allah SWT, para abdal, para nabi, dan para khalifahNya di kalangan mahluk-mahlukNya. Dirimu kosong dari pengertian. Engkau seperti sangkar tanpa burung, rumah kosong yang rapuh, serta pohon yang segera runtuh dan daunnya berguguran.

Makmurnya hati seorang hamba Allah adalah dengan Islam, kemudian merealisasikannya di dalam hakikatnya, yakni bersikap pasrah. Karena itu pasrahkanlah seluruh kehidupanmu kepada Allah SWT, agar Dia memasrahkan jiwamu dan orang lain kepadamu. Dengan begitu, hatimu akan kosong dari hawa nafsu dan makhluk. Engkau akan berada di hadapanNya dengan telanjang dari nafsumu dan dari mahluk. Apabila Allah SWT menghendaki, Dia dapat saja memberimu pakaian yang menutupimu, dan mengembalikanmu kepada mahluk. Dengan demikian, tercerminlah perkaranya dalam dirimu dan dalam diri mereka, disertai ridha Rasulullah saw dan Yang mengutusnya. Selanjutnya engkau berhenti untuk menunggu ketika Dia memerintahkanmu untuk menyelaraskan diri dengan setiap aturan yang telah ditetapkan. Setiap orang yang kosong dari sesuatu selain Allah SWT dan berhenti di hadapanNya dengan hati dan batinnya, maka dia berkata dengan lisan al-hal sebagaimana Nabi Musa a.s. berkata dalam firmanNya : “Aku bersegera datang kepadaMu, ya Rabb, agar Engkau meridhaiku”. (QS 20:83)

Seolah-olah dia berkata, “Telah hilang dunia dan akhiratku serta seluruh mahluk; telah terputus berbagai sebab; telah terlepas berbagai sesembahan. Aku datang ke hadapanMu, ya Allah, dengan segera, agar Engkau ridha kepada diriku dan mau mengampuni dosa-dosaku atas kebersamaanku dengan semua selainMu sebelumnya.”

Orang yang tidak berpengetahuan semestinya bertanya, apa yang terjadi dengan dirimu dan mengapa ? Engkau adalah budak nafsumu, hamba dunia, dan budak keinginanmu. Engkau adalah hamba mahluk. Engkau bersekutu dengan mereka karena melihat segi kemadaratan dan kemanfaatan belaka. Engkau berharap dapat memasuki surga, dan merasa takut memasuki neraka. Lalu, di manakah kedudukanmu dari Zat Yang membolak-balikkan hati dan bola mata, Zat Yang berkata, “Jadilah!”Lalu terjadilah ? [fat]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s