ZIKIR


Allah berfirman : “Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan diminta pertanggungjawaban” (QS 43:44).

Dalam teks bahasa Arab dari ayat tersebut terdapat kata zikro, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Al Quran, karena memang secara tekstual Al Quran memiliki beberapa nama, salah satu di antaranya adalah al-zikro. Melalui penamaan ini manusia diarahkan untuk memahami dengan baik ayat-ayat yang terdapat di dalam Al Quran karena semuanya itu adalah peringatan Tuhan yang diperhatikan dengan sungguh-sungguh.

Makna tekstual al-zikro yang dipahami sebagai Al Quran, dalam ayat tersebut dijelaskan sebagai kemuliaan besar itu wujudnya adalah berupa karya kemanusiaan yang bermanfaat untuk meningkatkan kehidupan manusia baik jasmani maupun rohani melalui pengamalan ayat demi ayat. Maka dalam kaitan ini, al-zikro dimaknai sebagai olah pikir, yakni mendayagunakan akal semaksimal mungkin. Hasil dari olah pikir ini adalah ditemukannya berbagai macam ilmu dunia atau ilmu lahir yang dibelakang hari disebut sebagai ilmu pengetahuan yang meliputi bidang eksakta, sosial, bahasa, ekonomi, hukum dll.

Kata zikro juga memiliki makna hakikat, yaitu kemampuan manusia mengingat Allah karena telah mencapai puncak makrifat. Maka, jika dalam ayat tersebut al-zikro disebut sebagai kemuliaan manusia, wujudnya berupa ahlakul karimah, atau ahlak yang mulia, karena telah tercapai keselarasan – dapat juga disebut sebagai sinergi –zikir antara roh dan jasad. Roh dapat mengenal asal usulnya melalui jasad sebagai kendaraannya. Di sini, al-zikro disebut sebagai zikir atau olah rasa. Hasil dari olah rasa ini kemudian dikenal sebagai ilmu rohai atau ilmu batin atau yang secara umum disebut sebagai tasawuf.

Hasil olah pikir yang berupa ilmu lahir dan olah rasa yang berupa ilmu batin inilah yang menjadi jalan bagi manusia untuk mendapatkan predikat ulul albab, sebagaimana dinyatakan sendiri oleh Allah : (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan percuma. Maha Suci Engkau, maka peliharalah Kami dari siksa neraka (QS 3:191).

Sehingga dengan demikian, predikat ulul albab ini adalah predikat yang terbuka untuk siapa saja manusia yang selalu mendayagunakan akal mereka melalui olah pikir, maupun mendayagunakan batinnya atau qolbunya melalui olah rasa. Dari olah pikir yang tidak saja terbatas pada kemampuan membaca teks, melainkan juga ditambah dengan olah rasa berupa kemampuan membaca fenomena alam maupun fenomena dalam dirinya. Semuanya itu merupakan ciptaan Tuhan. Tidak mengherankan jika ulul albab itu kemudian sampai pada kesimpulannya sendiri dengan ucapan ketundukannya kepada Tuhan ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan percuma. Semuanya memiliki nilai dan manfaat yang berguna bagi kehidupan manusia maupun alam semesta.

Wallohua’lam.**(fat).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s