Tawakkal


Allah berfirman : “Dan siapa pun yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya”(QS 65:3).

Tawakal secara harafiah dapat dimaknai sebagai menyerahkan segala urusan kepada Allah, karena adanya informasi bahwa Allah adalah Zat yang mengatur segala urusan. Tetapi pemahaman menyerahkan segala urusan kepada Allah ini acapkali membuat manusia keblinger, karena kemudian menafikan adanya upaya manusia sendiri. Hal ini pernah dilakukan oleh sahabat Nabi Muhammad saw yang meninggalkan untanya di halaman masjid tanpa diikat, dengan alas an, ia hanya bertawakal kepada Allah, karena Allah yang akan menjaganya. Sikap ini kemudian ditegur dengan pernyataan : kamu ikat dulu ontamu, kemudian bertawakkallah.

Jadi, pengertian tawakkal yang tidak menyebabkan hilangnya semangat berusaha adalah : bekerja atau berusaha, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Di sini ada dua pihak dengan masing-masing memiliki wilayah dan kewenangannya sendiri-sendiri. Pihak pertama adalah manusia, yang memiliki wilayah dan kewenangan mutlak untuk berusaha dengan seluruh tenaga dan kemampuannya. Pihak kedua adalah Allah, yang memiliki wilayah dan kewenangan menentukan hasil dari setiap usaha manusia. Walaupun tampaknya masing-masing pihak memiliki wilayah dan kewenangan, namun demikian tetaplah harus disadari bahwa wilayah dan kewenangan Allah tidak terbatas. Manusia tidak berhak mencampuri wilayah dan kewenangan Allah, tetapi Allah berperan besar dalam wilayah dan kewenangan manusia. Atau dengan kata lain, manusia berada dalam keterbatasan, sedangkan Allah tidak. Maka di sini, sikap tawakkal menjadi amat penting.

Tawakkal juga sering dimaknai sebagai yakin terhadap apa yang ditakdirkan untuk manusia pasti akan sampai kepadanya, dan apa yang tidak ditakdirkan untuknya tidak akan pernah sampai kepadanya. Hal ini tercermin dalam doa : Allohumma la mani’a lima a’thoita wa la mu’tiya lima mana’ta wa la yanfa’u dzal jaddi minkaljaddu (Ya Allah, tidak ada yang menghalangi ketentuanMu, dan tidak ada yang dapat memberi apa yang telah Engkau tahan, dan tiadalah kesungguhan member manfaat kepada orang yang bersungguh-sungguh, karena dari Engkaulah segala keuntungan).

Di sini, kita diingatkan oleh Allah : Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman (QS 5:23), karena pemaknaan tawakkal dengan keyakinan terhadap setiap takdir Allah. Lihatlah, dalam ayat ini Allah menyebutkan bahwa tawakkal merupakan syarat bagi orang yang imannya benar dan lurus.

Maka, tingkatan kualitas iman yang paling awal adalah tawakkal, yakni bertawakkal terhadap janji Allah, tidak saja karena Allah selalu menepati janjiNya, melainkan karena tidak ada kekuatan lain yang dapat mewujudkan apa pun selain Allah. Tingkatan tawakkal berikutnya adalah taslim, yakni tawakkal terhadap ilmuNya Allah, karena segala sesuatu yang maujud ini berasal dari Allah yang menjabarkannya melalui ilmu atau pengetahuan Allah. Tidak ada yang luput dari area liputan Allah. Dengan keyakinan ini, maka ketawakkalan manusia akan meningkat kepada tingkatan yang lebih tinggi, yaitu tafwid, artinya tawakkal terhadap tarkdirNya Allah. Ketawakallan puncak ini menyebabkan manusia menjadi “pasif”, dalam pengertian, dia tidak akan pernah mencampuri hak-hak Allah, dan membiarkan hak Allah itu terjadi pada dirinya, karena sesuatu yang terjadi itu adalah yang terbaik baginya, maka Allah menentukannya atau menakdirkannya untuk dirinya.

Sehingga dapatlah dimengerti, bahwa tawakkal adalah permulaan, taslim adalah pertengahan, dan tafwid adalah ujungnya. Tingatan pertama, yaitu tawakkal adalah untuk orang awam, sedangkan taslim adalah untuk golongan khawwas, sedangkan tafwid adalah untuk golongan khawas al khawas. Atau dengan kata lain, tawakkal adalah sifatnya para Nabi, taslim adalah sifatnya Nabi Ibrahim as dan tafwid adalah sifatnya Nabi Muhammad saw.

Jadi, karena kita adalah golongan awam, maka marilah kita memulainya dengan tawakkal yang benar, supaya Allah mengangkat kita ke tingkatan yang lebih tinggi menuju taslim dan berakhir pada tafwid. Insya Allah.

Wallohu’alam.**(fat)

One response to “Tawakkal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s