Para Pemberi Peringatan


Sahabatku yang baik, apa kabar hari ini ? Saya berharap mudah-mudahan Allah melimpahkan rahmat serta karuniaNya kepada kalian semua hari ini, sehingga kita akan dapat menjadikan hari ini sebagai hari terbaik untuk merenungkan semua karunia Allah. Terlalu banyak nikmat dan karuniaNya sehingga kita tidak mungkin dapat menghitungnya. Maka sebenarnya tugas kita bukanlah untuk menghitung nikmat Allah, karena jelas kita tidak akan mampu melakukannya, melainkan untuk bersyukur atas karunia nikmatNya.

Salah satu cara untuk bersyukur adalah dengan memerhatikan peringatan-peringatan Allah kepada kita, karena Allah telah mengutus banyak pemberi peringatan kepada manusia. Perhatikan – misalnya – firman Allah SWT ini “Dan Kami tidak membinasakan satu negeri pun, melainkan sesudah ada baginya orang-orang yang memberi peringatan” (QS 26:208).

Dalam ayat ini, Allah member julukan para pemberi peringatan itu dengan sebutan mundzirin. Walaupun diterjemahkan menjadi orang-orang yang memberi peringatan, itu sama sekali tidak selalu berarti bahwa pemberi peringatan itu adalah manusia. Yang dimaksud dengan orang-orang dalam terjemah ayat tersebut adalah seluruh mahluk Allah, sehingga terjemahan yang lebih pas adalah pemberi peringatan.

Sehingga jika kita renungkan ayat QS 26:208 itu, sebenarnya merupakan janji – atau sebutlah – hukum Allah bahwa segala sesuatu yang akan terjadi itu selalu diawali dengan tanda-tanda, peringatan atau sinyalemen dari Allah melalui para pemberi peringatan. Kewajiban manusia adalah mendengarkan dan memperhatikan peringatan Allah yang disampaikan melalui para pemberi peringatan.

Pada awalnya, peringatan itu disampaikan oleh sesama manusia, supaya mereka memiliki kesempatan untuk berdialog atau bertukar pikiran. Ini adalah kesempatan yang paling baik bagi manusia untuk mempertimbangkan apa yang disampaikan oleh para pemberi peringatan yang berujud manusia, yaitu para Rasul, Nabi, para Waliyullah, orang-orang bijak yang tidak mengharapkan balasan dari manusia. Sedangkan para pemberi peringatan ini pun tidak serta merta mengatakan akan terjadinya sesuatu, melainkan yang pertama kali dilakukannya adalah mengajak manusia untuk hanya menyembah Allah.

Nabi Nuh as memberitahukan, “sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu agar kamu tidak menyembah selain Allah” (QS 11:25,26). Lalu, Nabi Shaleh as mengajak kaumnya, “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan selain Dia” (QS 11:61). Nabi Syuaib pun demikian pula. Dia memanggil kaumnya “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia” (QS 11:84). Begitu pula dengan Nabi-nabi yang lain. Mereka adalah pemberi peringatan yang – pertama-tama – mengajak manusia untuk hanya menyembah Allah. Mereka bukanlah orang yang minta dihormati, atau meminta upah atas peringatannya kepada sesama manusia. Mereka adalah orang-orang yang sangat mencintai umat manusia, dan selalu khawatir terhadap nasib dan masa depan manusia.

Lebih-lebih jika kaum yang diperingatkannya itu membantah atau mendustainya, karena memang sepanjang sejarah peradaban manusia, para pemberi peringatan, yaitu Rasul, Nabi, Waliyullah, orang-orang bijak senantiasa didustai atau diingkari oleh umat manusia yang diberi peringatan. Hal ini terekam jelas dalam Kitabullah, dengan kata-kata yang nyaris selalu sama seperti “orang ini tidak lain hanyalah seorang manusia seperti kamu, maka apakah kamu menerima sihir itu, padahal kamu menyaksikannya ?” (QS 21:3).

Para pemberi peringatan (Rasul, Nabi, Waliyullah dan orang-orang bijak) tidak pernah sedih atau kecewa dengan penolakan kaumnya yang biasanya disampaikan oleh atau melalui para pemuka masyarakat. Nabi Nuh as, tidak kecewa. Dia hanya berkata “aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang sangat menyedihkan” (QS 11:26). Kata-kata ini sebenarnya sudah merupakan sinyalemen yang sangat keras. Namun karena disampaikan dengan nada suara yang lemah lembut, kaum Nabi Nuh as tidak mampu mencerap hakikat di balik ucapan itu. Sebenarnya, manusia awam yang bukan tokoh panutan atau pemuka masyarakat, tidak pernah menolak secara verbal, dengan kata-kata. Mereka lebih banyak diam. Namun para tokoh panutan dan pemuka masyarakat itulah yang acapkali menolak dan memengaruhi orang-orang awam untuk menjauh dari para pemberi peringatan. Keadaan demikian telah ada sejak zaman dahulu.

Begitu pun dengan manusia di jaman ini, para tokoh panutan dan pemuka masyarakat mereka enggan menerima ajakan untuk hanya menyembah Allah, dan mereka terlalu pandai berargumentasi. Saking pandainya berargumentasi, bahkan mereka berani menuduh para pemberi peringatan dengan kata-kata yang menyakitkan. Cobalah perhatikan ucapan mereka ini, “kami tidak melihat kamu melainkan hanya seorang manusia biasa seperti kami. Dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami yakin kamu adalah orang-orang yang dusta” (QS 11:27).

Terjemahan ayat itu mungkin agak melelahkan untuk dibaca dan dimengerti, karena terjemahan itu hanya mengalihbahasakan dari bahasa Arab ke Bahasa Indonesia. Maka untuk memudahkannya, terjemahan itu sebenarnya memberi pesan demikian ; kami lihat kamu hanya manusia biasa seperti kami, pengikutmu adalah orang-orang yang hina di antara kami, kamu tidak punya kelebihan apa-apa, bahkan kamu adalah seorang pendusta. Jadi, sebenarnya kalimat tersebut adalah sebuah pelecehan yang sangat jelas kepada para pemberi peringatan.

Walaupun para pemberi peringatan tidak merasa sakit hati dengan sikap kaumnya, namun dia khawatir, karena pembangkangan itu akan menyebabkan Allah mengutus para pemberi peringatan yang lain, yaitu mahluk Allah dari jenis hama dan penyakit. Mereka menyerang tumbuh-tumbuhan dan manusia, sehingga menyebabkan panen gagal, pohon tidak berbuah, dan tubuh manusia menjadi rentan terkena penyakit. Tidak jarang pula penyakit yang tidak ada obatnya.

Berbeda dengan pemberi peringatan yang berujud manusia (Rasul, Nabi, Waliyullah dan orang-orang bijak) yang dapat diajak berdialog. Pemberi peringatan yang berupa hama dan penyakit, sulit diajak berdialog. Manusia dibuat kelimpungan karenanya. Salah satu contoh paling mutakhir adalah berjangkitnya wabah HIV/Aids yang jumlah penderitanya terus membengkak dari hari ke hari. Sejauh ini, belum ditemukan obat untuk menghentikan wabah ini. Manusia yang hanya dapat melakukan upaya preventif dengan asumsi-asumsi yang bisa benar dan bisa juga salah.

Selain wabah penyakit yang menyerang manusia, ada juga utusan Tuhan, yaitu para pemberi peringatan yang berupa hama yang menyerang tumbuh-tumbuhan. Hampir setiap saat kita mendengar adanya hama penyakit yang “baru” (yang dahulu tidak pernah terdengar). Manusia berusaha memberantas hama penyakit itu dengan ilmu dan teknologi yang mereka kuasai. Tetapi, hilang hama yang satu muncul hama berikutnya sebagai akibat dari teknologi pemberantasan hama hasil karya manusia.

Ketika pemberi utusan jenis ini datang, dan manusia gagal mengatasinya, Allah memberitahu “minta tolonglah kamu dengan sabar dan salat” (QS 2:45). Sangat sederhana. Tidak usah macam-macam, cukup dengan sabar dan salat. Namun demikian, karena begitu sederhananya, manusia cenderung mengabaikan pesan terdalam dari sabar dan salat itu. Sabar hanya diartikan sebagai tidak mengeluh, dan salat hanya dilaksanakan sekedar memenuhi syarat dan rukunnya.

Padahal semestinya sabar itu dijabarkan menjadi kemampuan untuk menerima ketentuan Tuhan disertai keyakinan terhadap janjiNya. Sabar seperti ini akan diiringi dengan penyerahan total kepada Allah, dan tidak berusaha untuk melawan Dia. Sebaliknya, manusia akan cenderung tergerak untuk menyelaraskan hidupnya dengan hukum Allah. Bahwa manusia diberi wewenang untuk berusaha, maka usaha itu dilakukannya dengan sungguh-sungguh. Tetapi usahanya itu tidak akan bertentangan dengan prinsip keseimbangan yang telah digariskan oleh Allah.

Hama penyakit yang menyerang tumbuhan (misalnya) berkembang biak karena hilangnya keseimbangan antara hama dan predatornya. Banyak predator yang berfungsi menekan pertumbuhan hama, justru dimusnahkan. Padahal keberadaan hama dan predatornya itu adalah sesuatu yang dikehendaki oleh Allah untuk menjaga prinsip keseimbangan. Nah, ketika prinsip keseimbangan itu dirusak oleh manusia, maka yang terjadi adalah tumbuhnya hama yang tak terkendali. Manusia tidak dapat berbuat lain kecuali membunuh hama itu dengan caranya sendiri. Hama pun datang silih berganti.

Salat -sebagai cara untuk meminta pertolongan Allah- pun dilakukan hanya sekedar melaksanakan syarat dan rukunnya saja. Salat tanpa jiwa. Padahal kata salat dalam Bahasa Arab itu antara lain bermakna menghubungkan diri, atau (saya lebih senang menggunakan istilah) menyelaraskan diri dengan Allah. Sehingga dari ayat yang tampaknya sederhana “minta tolonglah kamu dengan sabar dan salat” (QS 2:45) itu sebenarnya mengandung seruan untuk melakukan revolusi besar dalam pola hidup manusia. Sayang seribu kali sayang, manusia sudah terlanjur menganggap enteng sabar dan salat.

Maka, Tuhan pun mengutus pemberi peringatan yang lain, yaitu (yang oleh manusia disebut sebagai) bencana alam. Banjir, tanah longsor, tsunami, gempa bumi, gunung meletus, angin puting beliung, dll. Ketika para pemberi peringatan dari jenis ini menghampiri manusia, tidak ada yang dapat dilakukan oleh manusia kecuali menerima apa adanya. Atau, paling jauh, manusia hanya melempar pertanyaan “ada apa ?” atau ”mengapa?”. Pertanyaan klasik seperti ini diabadikan oleh Allah dalam KitabNya : “apabila bumi digoncangkan dengan goncangan, dan bumi mengeluarkan beban-beban berat, manusia pun bertanya “mengapa” (QS 99:1-3).

Hanya itu yang dapat dilakukan oleh manusia. Selebihnya adalah membiarkan semuanya terjadi, atau, (jika ada kesempatan) menghindar atau melarikan diri dari wilayah bencana. Jika tidak ada kesempatan, maka apa yang dapat dilakukan, selain menyerah ? “Pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan kepadanya” (QS 99:4-5). Banjir, tanah longsor, gempa bumi, tsunami, gunung meletus dll terjadi karena perintah Tuhan. Maka siapa yang dapat melawan perintahNya ?

Jadi sebenarnya, Tuhan tidak ujug-ujug mendatangkan pemberi peringatan yang tidak dapat diajak berdialog. Tuhan lebih dulu mengutus para Rasul, Nabi, Waliyullah dan orang-orang bijak untuk memberi peringatan dengan kata-kata yang lemah lembut. Jika manusia membantah peringatan dari para utusan ini, maka Allah akan mengutus pemberi peringatan yang lain berupa hama dan penyakit. Dengan datangnya utusan ini, diharapkan manusia akan segera sadar dan memperbaiki pola hidupnya yang tidak selaras dengan desain Tuhan. Namun, jika masih dibantahnya juga, maka Tuhan akan mengirim pemberi peringatan yang lebih dahsyat yang berupa bencana alam.

Masih kah manusia akan terus mengabaikan para pemberi peringatan yang diutus oleh Allah itu ?

Wallohua’lam.***** (fat).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s