Waktu terus berjalan


Firman Allah : “Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan kerugian” (QS 103:1,2).
Ayat itu sangat populer dan nyaris tidak pernah dilewatkan dalam setiap tausiah. Para ustad, Kyai dan penceramah agama Islam, selalu merujuk pada ayat ini jika berbicara tentang perjalanan waktu. Ayat yang berisi peringatan sangat keras itu, entah mengapa, menjadi kurang mencekam karena umumnya kita terlalu terburu-buru melompat ke ayat berikutnya (ayat 3 dari surat yang sama) tanpa terlebih dahulu merenungkan, mengapa Allah menyebutkan bahwa hakikatnya keberadaan manusia di dunia ini adalah sebuah kerugian besar. Padahal, jika kita mau sedikit meluangkan waktu merenungkan dua ayat tersebut secara intens, maka akan kita peroleh pelajaran yang amat besar.
Oleh karena itu, mari kita mencoba untuk memahami peringatan Allah ini dengan nurani yang bersih dan jernih.
Pertama, mari kita memahami tentang masa, atau yang seringkali ditafsiri sebagai waktu. Apakah sama pengertian masa dengan waktu ? Para ahli hakikat menyebut waktu adalah kejadian atau peristiwa yang akan terjadi. Sedangkan Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq, guru Syaikh Abul Qasim Abdul Karim Hawazin Al Qusyairi An Naisaburi penulis Kitab Risalah Qusyairiyah menyatakan, waktu adalah apa yang engkau sedang di dalamnya. Artinya, jika Anda di dunia, maka dunia itu waktumu. Jika Anda di ujung akhir waktu, maka di situ pulalah waktumu. Anda bergembira, maka gembira itu sendiri waktumu. Anda bersedhy, maka kesedihan itu waktumu. Maksud dari ini semua adalah waktu merupakan sesuatu yang mengalahkan dan menguasai manusia.
Pada kesempatan lain, Abu Ali Ad-Daqaq juga mengatakan, waktu adalah sesuatu yang membekukan dan dapat menggundulimu, tapi tidak membantahmu. Artinya, seandainya waktu menghapus dan melenyapkanmu, maka seketika itu pula kamu pasti telanjang dan sirna. Namun, waktu tidak berbuat demikian. Ia hanya mengambil sebagian usiamu, tidak menghapus keseluruhan hidupmu.
Ungkapan ini harus dipahami secara cermat, karena ungkapan Syaikh itu memiliki dimensi yang sangat dalam dan luas. Mari kita perhatikan ungkapan ini : waktu hanya mengambil sebagian usiamu, tidak menghapus keseluruhan hidupmu. Maka jika disebutkan bahwa dunia ini adalah waktumu, artinya, hidup di dunia ini hanya sebagian dari usiamu yang telah diambil oleh sang waktu, sementara keseluruhan hidupmu adalah waktu hidupmu di dunia dan waktu hidupmu di akhirat. Artinya lagi, manusia (dalam pengertian roh) sebenarnya tidak pernah mengalami mati. Yang mati adalah jasad, sedangkan roh tetap hidup. Keberadaan roh di dalam jasad itu adalah waktu bagi roh yang terbatas hanya di dunia saja.
Maka, manusia disebut sebagai berada dalam kerugian, yakni selama keberadaannya di dunia, karena itulah sebagian waktu yang disediakan untuknya. Sedangkan dunia bukanlah tempat terakhir bagi manusia. Tandanya adalah adanya kematian yang disebut sebagai akhir waktu keberadaannya di dunia.
Setelah itu ke mana ? Inilah pertanyaan cerdas yang harus menjadi bahan renungan lebih lanjut, mengapa Allah menyebut manusia berada dalam kerugian ketika berada di dunia, karena secara hakikat, manusia (dalam pengertian roh) adalah mahluk akhirat. Hanya saja keberadaannya di dunia ini merupakan bagian dari tugas hidupnya sebagai khalifah Allah. Karena fungsi inilah maka manusia disebut rugi jika dia gagal menjalankan fungsi kekhalifahan selagi ia berada di dunia. Dan fungsi kekhalifahan yang pertama dan utama adalah menyembah Allah.
“Tidak Aku jadikan jin dan manusia, kecuali hanya untuk menyembah Aku” (QS 51:56).
Seperti pernah saya tulis dalam judul “Sembahyang dan salat”, maka tugas menyembah Allah itu merupakan kunci atas seluruh perjalanan hidup manusia selama di dunia. Menyembah membutuhkan sedikitnya tiga syarat, yaitu (1) tahu atau mengenal Yang Disembah, yaitu Allah; (2) antara yang menyembah dengan Yang Disembah saling berhadapan; dan (3) antara yang menyembah dan Yang Disembah berada di tempat yang sama. Maka, jika tugas pertama dan utama, yaitu menyembah Allah, sudah dilaksanakan, maka tugas berikutnya yang menanti adalah mendirikan salat untuk mengingat Yang Disembah, yaitu Allah. Sedangkan salat bermakna menghubungkan diri, atau menjalin hubungan. Yang pertama hubungan dengan Allah dan yang kedua hubungan dengan sesama. Nah, dalam berhubungan dengan sesama inilah, manusia harus senantiasa mengingat Allah Yang Maha Agung, Allah Yang Maha Pengasih, Allah Yang Maha Penyayang, Allah Yang Maha Lembut, Allah Yang Maha Penyantun dan seterusnya. Artinya, dalam berhubungan dengan sesama, manusia diperintahkan untuk tahalluq bi ahlaqillah atau berakhlak dengan akhlak Allah, sehingga jika Allah menjadikan tema cinta kasih dalam seluruh ciptaanNya, maka manusia pun (dengan sendirinya) harus menjalani hidup dengan kesadaran untuk menebarkan cinta kasih kepada semua mahluk. Demikian tugas kekhalifahan yang harus diemban.
Kedua, marilah kita sadari, bahwa untuk menggapai kesadaran semacam itu, diperlukan proses yang panjang. Kesadaran itu tidak akan datang bersamaan dengan kelahiran manusia di dunia, melainkan melewati proses yang cukup panjang. Ada masa yang disebut masa bayi hingga usia lima tahun disebut sebagai masa balita, ada pula masa anak-anak, masa remaja, masa dewasa, masa tua dan seterusnya. Islam (dalam hal ini Al Quran) menyebutkan istilah aqil baligh sebagai batas antara masa anak-anak yang senantiasa digambarkan sebagai masa ketika manusia belum dapat mendayagunakan akalnya secara sempurna, dengan masa dewasa, yakni ketika manusia telah sampai pada kesadaran akalnya yang sempurna.
Para ahli menyepakati usia akil balig yaitu 17 tahun ke atas. Namun demikian, Allah menentukannya dengan symbol, yaitu mimpi basah pertama sebagai dimulainya masa akil balig bagi anak lelaki, dan menstruasi pertama sebagai masa akil balig untuk wanita. Lalu pertanyaannya adalah, apakah bersamaan dengan datangnya masa akil balig itu manusia sudah secara otomatis meraih kesadaran tentang tugas kekhalifahan ? Jawabannya tentu tergantung dari lingkungan dan cara pendidikan dalam keluarga maupun lembaga pendidikan. Jika cara pendidikan dalam keluarga, masyarakat dan lembaga pendidikan bersifat indoktrinatif, maka yang terjadi adalah cara berfikir dan tingkah laku yang seragam. Manusia tumbuh (secara kejiwaan) sebagai fotokopi dari dari para pendahulu mereka.
Inilah yang digambarkan oleh Allah dalam KitabNya : Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.” (QS 5:104). Maka, manusia beragama menurut agama yang dianut oleh orangtuanya (para pendahulunya), dan mereka menetapkan bahwa itulah kebenaran mutlak yang harus diyakini tanpa boleh menyelisik, tanpa boleh menggunakan daya nalarnya. Keadaan ini terjadi sejak Tuhan menetapkan syariat yang diajarkan kepada para Nabi dan Rasul untuk mengajak manusia untuk hanya menyembah Allah. Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya.” (QS &:59).
Ajakan itulah yang terus menerus dibawa oleh para Nabi utusan Allah kepada manusia. Itulah makna agama tauhid, yakni agama yang membawa manusia untuk hanya menyembah Allah saja. (Mohon diperhatikan pengertian menyembah pada alinea di atas). Maka sebenarnya ayat-ayat yang berisi ajakan kepada manusia untuk hanya menyembah Allah merupakan perintah Allah agar bermakrifat kepadaNya. Maka kesadaran bermakrifat itulah (sebenarnya) yang disebut sebagai awal kesadaran untuk menentukan kematangan rohani seorang manusia.
Jika manusia masih beragama dengan cara yang sama dengan bapak-ibunya, kakek-neneknya atau nenek moyangnya, maka sebenarnya dia (secara rohaniah) masih belum dapat disebut sebagai akil balig, walaupun umurnya sudah tua renta, karena dia tidak pernah sadar tentang siapa dirinya, dari mana asal usulnya, apa tugas hidupnya, dan ke mana setelah hidupnya di dunia ini berakhir. Manusia seperti ini merupakan golongan mayoritas yang beragama hanya meniru-niru orangtuanya. Maka, Allah menyebutnya sebagai berada dalam kerugian besar (QS 103:1,2).
Jadi, mari kita renungkan, apakah selama ini kita beragama dan mengerjakan syariat agama hanya sekedar meniru-niru orangtua kita ? Atau, apakah kita sudah mampu memahami hakikat perintah Allah yang dimuat dalam Kitab SuciNya ? Ini pertanyaan krusial, maka saran saya, janganlah asal menjawab. Jangan mentang-mentang sudah mengkaji berbagai macam kitab karya manusia, lantas mengklaim diri sudah memahami hakikat perintah Allah itu. Sebaliknya, jadikanlah ini sebagai bahan renungan. Carilah, apa yang salah dalam cara beragama kita selama ini. Insya Allah, jika kita menemukan kesalahan itu, maka hati kita akan tergerak untuk mencari yang benar. Tentu saja jika kita tidak ingin selalu berkubang dalam kesalahan.
Wallohua’lam.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s