DAHULUKANLAH TUHAN SEBELUM YANG LAIN


Anakku, Allah SWT berfirman : “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari duniawi, dan berbuat baiklah seperti Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. (QS 28:77).

Perhatikanlah ayat tersebut dengan seksama, Anakku, karena muatannya yang sangat berharga bagi kehidupanmu yang sangat terbatas waktunya. Kita tidak pernah tahu, sampai kapan Allah memberi kesempatan kepada kita untuk menikmati kehidupan di dunia ini. Tetapi yang jelas, tidak akan lama, jika pun umur kita sampai ratusan tahun (misalnya). Sehingga sebenarnya tidaklah layak kita mempertaruhkan kehidupan kita saat ini hanya untuk hal-hal yang tidak akan mengantarkan kita keharibaan Allah SWT.

Ayah minta kepada kalian untuk memperhatikan firman Allah di atas, karena di sana jelas sekali apa yang diperintahkan kepada kita. Maka, jika kita telah mememakrifati Allah secara kaffah, kita akan dapat memahami, mana yang harus didahulukan sebelum yang lain. Firman Allah itu menyebutkan dengan sangat jelas, empat prioritas hidup yang harus kita kerjakan. Keempatnya merupakan sebuah rangkaian, dan pelaksanaannya pun harus dimulai dari urutan pertama hingga urutan ke empat, sebab masing-masing perintah itu dihubungkan dengan huruf wau yang dikategorikan sebagai wau atof, yang mengindikasikan, urutan pertama harus dikerjakan sebelum nomor dua; lalu nomor dua harus didahulukan sebelum nomor tiga; sedang nomor tiga harus didahulukan sebelum nomor empat dalam pelaksanaannya.

Empat prioritas hidup yang difirmankan oleh Allah itu adalah : (1) mencari negeri akhirat dengan anugerah Allah yang ada padamu; (2) jangan lalaikan masalah keduniawian; (3) berbuat baik seperti Allah; dan (4) jangan berbuat kerusakan di bumi. Nomor (1) merupakan perintah (amar); nomor (2) merupakan larangan atau sesuatu yang harus dicegah (nahi); nomor (3) juga berupa perintah (amar); dan nomor (4) adalah larangan atau sesuatu yang harus dicegah (nahi). Kalian harus memperhatikan keempatnya dengan sikap seorang hamba Allah yang saleh, yaitu mampu melakukannya dengan keseimbangan yang benar. Kalau hanya memperhatikan salah satu dan melalaikan yang lainnya, kalian akan rugi.

Mengapa ? Karena walaupun dari keempatnya itu, dua berupa perintah dan dua berupa larangan, janganlah kalian menganggap bahwa yang berupa perintah itu wajib dikerjakan, sedang yang berupa larangan itu wajib kalian hindari. Tidak, Anakku. Sikap seperti itu tidak semestinya. Jika kalian memilih sikap seperti itu, maka kalian akan kehilangan kesempatan untuk memperoleh kebahagiaan yang paripurna.

Bagi orang-orang yang sudah mampu memakrifati Allah secara paripurna, keempat prioritas hidup itu sebenarnya berupa perintah yang harus kalian kerjakan. Prioritas nomor (1) dan nomor (3) adalah perintah yang harus didahulukan, sedangkan prioriotas nomor (2) dan nomor (4) adalah perintah yang harus mengikuti setelah perintah yang harus didahulukan itu telah dikerjakan. Itulah sebabnya saya menyatakan, prioritas hidup itu harus dikerjakan secara berurutan, dari prioritas kesatu, kedua, ketiga lalu keempat. Kalian tidak hanya dilarang untuk mengerjakan prioritas keempat lebih dulu baru prioritas yang laina. Bahkan kalian tidak akan mampu mengerjakan prioritas keempat sebelum ketiga; prioritas ketiga sebelum kedua; dan prioritas kedua sebelum kesatu. Sehingga hasilnya pun akan berbeda.

Anakku, mari kita kupas satu demi satu empat prioritas hidup itu.

Prioritas pertama yaitu : “carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat”.

Anakku, adakah kalian dapat menemukan hal yang luarbiasa dari perintah Allah yang harus dijadikan prioritas hidup yang paling awal ini. Jika belum, bacalah kalimat itu berulang-ulang, lalu resapkan dalam hati dan pikiranmu, kemudian gunakan akalmu untuk menelaahnya. Ingat Nak, kalian harus menggunakan akal, karena tidak ada agama pada orang yang tidak berakal, atau, yang tidak pernah menggunakan akalnya.

Perhatikanlah dari hal yang paling luar, yaitu pada huruf atau tulisan yang membentu kalimat “carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat”. Sebenarnya inti perintah itu adalah “carilah negeri akhirat”. Tetapi jika hanya perintah itu saja, maka pasti akan memunculkan pertanyaan, di mana negeri akhirat itu, dan bagaimana atau dengan cara apa mencarinya. Maka Allah memberitahukan sebagai sisipan kalimat “pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu”.

Anakku, perhatikanlah. Indah sekali bukan ? Allah tidak menunjukkan keberadaan negeri akhirat itu dulu, melainkan bagaimana menemukan negeri akhirat itu. Hal itu terlihat pada ungkapan pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu. Lihat pula, Anakku, Allah menunjukkan caranya dengan menggunakan kata pada bukan dengan. Kata pada itu menunjukkan tempat keberadaan sesuatu. Lalu diikuti dengan phrase apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu. Di sini, Allah menunjukkan dengan kata kepadamu, dan yang digunakan pun adalah kata ganti orang kedua, yaitu mu. Jadi, kalian harus memperhatikan dirimu masing-masing.

Sekali lagi, carilah dari yang paling luar dulu. Apa sih telah dianugerahkan Allah kepada kita ? Jangan melihat jauh-jauh, Nak. Lihatlah dirimu yang paling luar. Anugerah Allah yang telah Dia berikan itu adalah jasad kita. Karena menggunakan kata telah, artinya, anugerah itu sudah ada pada kita dan dapat kita lihat karena pemberian itu kasat mata serta dapat diraba. Jasad adalah dirimu yang paling nyata, yang dapat dilihat oleh dirimu sendiri, dan dapat dilihat oleh orang lain.

Anakku, sebenarnya sudah cukup jelas, prioritas hidup utama yang harus kita kerjakan adalah mengenali dirimu sendiri. Allah pun menunjukkan kepada yang paling nyata, yaitu jasadmu. Sehiangga, jika kita tahu bahwa anugerah yang telah Dia anugerahkan kepadamu adalah jasadmu, maka kalimat itu menjadi lebih sederhana, yaitu carilah pada jasadmu negeri akhirat.

Tentu saja, ungkapan itu pasti mengejutkan, karena selama ini kalian selalu diberi pengertian bahwa negeri akhirat adalah sesuatu yang jauh, yang abstrak, yang ghaib. Sebenarnya kalian tidak perlu terkejut atau heran, Nak, karena bukankah Allah sudah memberitahukan Aku ini dekat, lebih dekat daripada urat lehermu sendiri. Pernyataan Allah ini sebenarnya sangat gamblang. Sehingga jika ada yang memberitahukan bahwa Allah berada di akhirat, atau, kerajaan Allah itu letaknya di negeri akhirat, maka dengan sendirinya pernyataan Allah bahwa Dia lebih dekat daripada urat lehermu itu pun berarti menunjukkan keberadaan negeri akhirat.

Nah, urat lehermu itu adanya juga pada jasadmu, sehingga keberadaan Allah dan negeri akhirat itu pun ada pada jasadmu. Bukankah ini masuk akal ? Cobalah kalian renungkan dengan hati yang jernih, Anakku, supaya kamu mendapatkan pelajaran.

(BERSAMBUNG)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s