Berjalanlah di Jalan Allah


Anakku, mungkin kamu pernah mendengar dalam berbagai pembicaraan, bahwa orang yang menjalani hidup di dunia ini laksana seorang perantau atau pengembara. Mereka harus mencari jalan pulang, kembali kepada Allah. Bahkan ada pula yang mengibaratkan hidup di dunia ini laksana seorang yang sedang duduk beristirahat di bawah pohon rindang. Pengembara tidak boleh selamanya berada di sana, ia wajib melanjutkan perjalanan sebelum matahari terbenam di ufuk barat. Itu adalah penggambaran yang sangat menarik. Banyak orang berbicara tentang hal tersebut. Memberikan nasehat kepada orang lain dengan mengambil metafora pengembara itu sebagai bagian yang sangat penting, sehingga seakan-akan dia paham betul pada metafora itu.

Firman Allah “sesungguhnya kami berasal dari Allah, dan harus kembali kepadaNya” (QS 2:156) itu yang dijadikan rujukan bahwa manusia hakikatnya adalah pengembara yang datang dari rumah Allah dan harus kembali lagi ke sana. Maka, siapa pun yang berhasil kembali kepada Allah, dialah yang disebut sebagai sukses menjalani misi hidupnya.

Ketahuilah, Anakku, kembali kepada Allah adalah fardhu’ain, alias kewajiban individual yang harus dikerjakan oleh setiap orang. Artinya kewajiban itu tidak dapat diwakilkan kepada orang lain. Hal tersebut juga menjadi informasi yang sahih bahwa dalam ranah hablumminallah itu orangtua tidak dapat menolong anaknya, dan anak tidak dapat menolong orangtuanya. Masing-masing harus berjuang sendiri-sendiri. Kewajiban tolong menolong antarsesama itu sebenarnya berada pada ranah hablumminannas. Pada ranah ini setiap manusia menyandang kewajiban untuk selalu bertausiah satu sama lain, yaitu saling menasihati supaya menaati al-Haq dan supaya berlaku sabar (QS 103:3).

Nah, jika perintah saling bertausiah ini sudah dijalankan dengan sebaik-baiknya, terutama untuk menaati al-Haq – yaitu Allah – maka tindak lanjutnya diserahkan kepada masing-masing individu untuk menjalin hablumminallah.

Anakku, jika kita menyadari bahwa untuk kembali kepada Allah itu adalah kewajiban individual yang harus kita kerjakan sendiri-sendiri, maka ada beberapa hal yang paling esensial untuk kita ketahui, yaitu, (1) di mana rumah Allah; (2) di mana jalan menuju rumah Allah, dan (3) bagaimana cara menempuh jalan itu. Ketiga hal utama itu pun menjadi wajib bagi kita secara individual. Baik aku maupun kamu, Nak, masing-masing wajib mencari tahu tiga hal itu, supaya kita dapat pulang kembali kepada Allah di rumahNya yang agung. Itulah sebabnya, aku meminta kamu Nak, untuk tekun bekerja mencari tiga hal itu. Aku hanya dapat memberitahukan padamu hal-hal yang berkaitan dengan ketiganya itu. Dan, pemberitahuan yang akan aku sampaikan ini nanti pun baru bersifat informasi. Kamu harus menindaklanjuti informasi ini untuk mendapatkan jawaban yang jelas tentang ketiga hal itu. Tetapi kamu harus yakin bahwa ketiganya itu adalah nyata ada, dan kamu akan mendapatkannya jika kamu mencari.

Pertama, tentang pertanyaan di mana rumah Allah. Aku – sebenarnya – sudah mulai membahasnya sejak tulisan pertama dalam buku ini. Sengaja aku membuat pembicaraan tentang hal ini ditampilkan sepercik-sepercik dan tersebar di berbagai bab, supaya kamu berusaha untuk menemukannya. Yang jelas, jika kamu meyakini kebenaran ayat “sesungguhnya Aku ini dekat, lebih dekat dari urat lehermu” (QS 17:16), maka sudah barangtentu rumahNya pun tidak jauh-jauh dari situ. Dengan penjelasan ini, aku harap kamu dapat menyimpulkannya sendiri. Lihat dirimu, perhatikan dirimu, dan jangan jauh-jauh pergi mencarinya di luar dirimu.

Kemudian tentang jalan menuju rumah Allah, Anakku, Al Quran Kitab Suci sudah memberitahukannya berulang-ulang. Maka dari itu, kamu harus rajin membaca Kitab Suci itu berulang-ulang. Bukan sekedar membaca dengan menggerak-gerakkan lidah mengikuti huruf-huruf yang kamu lihat, melainkan membaca dengan kesadaran penuh bahwa Al Quran adalah Kitabullah, bukan dongengan. Ini penting sekali, Anakku, karena banyak sekali manusia yang memperlakukan Al Quran hanya sebatas cerita dan telaah mengenai berbagai masalah yang tidak substantive. Jika kamu cukup jeli membaca buku ini, maka kamu akan mendapatkan penjelasan sebelumnya bahwa informasi yang ada di dalam Al Quran, pertama-tama, adalah informasi yang bersifat rohaniah tentang Allah dan cara bagaimana manusia melakukan pembicaraan dengan Allah SWT.

(BERSAMBUNG)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s