Berjalanlah di Jalan Allah-2


Jalan Allah itu disebut dengan berbagai sebutan. Jalan itu disebut shirathal mustaqim, jalan yang lurus. Ini sesuai dengan pernyataan Allah “dan hak bagi Allah jalan yang lurus, dan di antara jalan-jalan ada yang bengkok” (QS 16:9). Dalam ayat ini dibandingkan dua istilah, yaitu istilah lurus dan bengkok yang satu sama lain saling bertolak belakang. Lurus itu lawannya adalah bengkok. Lurus juga bisa bermakna langsung menuju ke sasaran. Siapa saja yang berada dan berjalan di jalan yang lurus, maka dia akan langsung sampai ke sasaran atau ke tujuan. Sebaliknya bengkok bermakna menyimpang dari sasaran. Siapa yang memilih jalan yang bengkok maka dia akan tersesat, alias tidak sampai ke tujuan.

Jalan yang lurus, karena sifatnya yang langsung, maka siapa pun yang memilih jalan itu, ia akan langsung bertemu dengan yang dicarinya. Karena sifatnya yang langsung, maka jalan yang lurus itu pun dapat ditempuh dengan cara yang mudah, jika Allah sudah memberikan taufiqNya “dan Kami akan memberi kamu taufiq ke jalan yang mudah” (QS 87:8). Tentu kita pun harus menyadari bahwa taufiq yang diberikan oleh Allah itu tidak datang dengan sendirinya. Harus ada kehendak atau iradah dan upaya keras atau jihad dari manusia untuk mendapatkannya.

Anakku, mencari jalan Allah pun sebenarnya merupakan kewajiban individual yang harus dikerjakan oleh setiap manusia. Allah memerintahkan “hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepadaNya, dan berjihadlah pada jalanNya supaya kamu mendapat keberuntungan” (QS 5:35). Dalam ayat ini, Allah menyebut jalan itu dengan kata wasilah. Ada yang menafsirkan wasilah itu sebagai perantara. Tetapi banyak pula yang tidak sependapat dengan pendapat itu dengan alasan karena sebenarnya Allah tidak membutuhkan perantara. Setiap orang dapat berhubungan langsung dengan Allah. Oleh karena itu ada yang menafsirkan wasilah itu sebagai penunjuk jalan atau orang yang dapat menunjukkan jalan Allah dan cara menempuh jalan itu.

Pendapat yang kedua rasanya lebih masuk akal, karena bagi setiap penempuh jalan, dia membutuhkan seorang yang mengerti jalan dan mau menunjukkan jalan itu. Kenyataan itu tampak dalam segala hal. Seseorang yang belum pernah mendaki sebuah gunung, untuk sampai ke puncak dengan selamat, dia membutuhkan seorang penunjuk jalan yang sudah paham dengan liku-liku jalan menuju ke puncak. Dia akan menunjukkan jalan itu kepada para pendaki seraya memberitahukan hal-hal yang harus diperhatikan ketika mendaki. Banyak pendaki yang tersesat dan tidak sedikit pula yang tewas dalam pendakian karena ia menganggap, asal kita berjalan naik saja pastilah sampai ke puncak. Mereka melihat gunung dari kejauhan, sehingga disangkanya gunung itu indah dan mudah didaki. Padahal pemandangan yang tampak kehijauan itu adalah kumpulan pohon yang besar dan tinggi. Sehingga ketika seseorang berada di bawah rimbun hutan itu, ia tidak tahu arah, mana timur mana barat dan seterusnya. Jika dia nekat, maka dapat dipastikan dia akan tersesat.

Jika perjalanan fisik mendaki gunung saja manusia membutuhkan penunjuk jalan, maka para penempuh jalan rohani pun tentu lebih membutuhkannya. Itulah sebabnya, berkali-kali dalam buku ini aku menyarankan kamu untuk mencari seorang ulama makrifat, karena dialah penunjukkan jalan yang kamu perlukan itu, Nak.

Ayat yang kita bicarakan ini (QS 5:35) memberitahukan dua hal yang sama-sama penting untuk kamu ketahui, Nak. Yang pertama adalah adanya kewajiban mencari jalan yang mendekatkan dirimu kepada Allah. Sedang yang kedua adalah berjihad di jalan Allah itu. Maka, tugas pertamamu adalah mencari jalan sampai ketemu dan kamu dapat berjalan di jalan itu. Barulah setelah itu kamu wajib menjalankan tugasmu yang kedua, yaitu berjihad di jalan Allah. “Dan orang-orang yang berjihad untuk Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami” (QS 29:69). Itulah janji Allah yang wajib kamu yakini, Nak, karena Allah tidak pernah mengingari janjiNya.

Anakku, mungkin kamu bertanya-tanya, mengapa aku menyuruhmu untuk mencari jalan Allah yang disebut shirathal mustaqim ? Kita akan membicarakannya dalam tulisan berikutnya.

(BERSAMBUNG)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s