Berjalanlah di Jalan Allah-4


Ketahuilah, Nak, ayat tersebut merupakan penjelasan umum atas manusia yang rugi. Tidak ada atribut apa pun yang dilekatkan kepada manusia yang rugi. Allah hanya menyebut “orang-orang yang paling rugi amalnya” (QS 18:103). Orang-orang, artinya manusia. Perhatikanlah Nak, bukankah Allah tidak menyebut atribut manusia di situ ? Artinya, manusia secara umum. Bukan manusia berdasarkan kebangsaan, kewarganegaraan, agama, ras, suku dan lain-lain. Ini bermakna, semua manusia memiliki potensi untuk menadi golongan manusia yang paling merugi amalnya atau perbuatannya.

Penjelasan Allah dalam ayat tersebut (QS 18:104) sebenarnya telah memperjelas lagi bahwa ayat tersebut sedang membicarakan manusia secara umum, karena di sana disebutkan bahwa orang-orang yang rugi adalah mereka yang menyangka telah berbuat sebaik-baiknya dalam kehidupan dunia. Artinya, siapa pun yang mempunyai persangkaan bahwa mereka telah melakukan sesuatu yang terbaik tanpa dasar dan petunjuk Allah, maka mereka rugi. Karena perbuatan baik itu hanya didasarkan pada persangkaan, bukan didasarkan pada kehendak atau tuntunan Allah.

Memang dalam berbagai kajian seringkali dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan orang-orang yang merugi amalnya dalam ayat ini adalah orang-orang Yahudi atau Nasrani. Tidak perlu menyalahkan pemahaman itu, Nak, karena setiap orang melakukan pendekatan menurut persepsi dan pemahaman yang berhasil ia raih. Namun demikian, karena dalam ayat ini tidak dirinci-rinci atribut manusia yang rugi, maka tentunya kita pun harus meletakkannya pada tempat yang selayaknya. Kita semestinya berpatokan pada pernyataan Allah saja, yaitu mereka yang menyangka telah berbuat sebaik-baiknya. Kata kuncinya adalah menyangka, yaitu sesuatu yang hanya didasarkan pada pikiran dan akalnya sendiri. Atau (karena merupakan olah akal sendiri) dapat juga disebut bahwa persangkaan itu sama dengan akal-akalan belaka.

Lebih-lebih karena Allah memberikan penjelasan lebih lanjut, yaitu “mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia” (QS 18:105). Jadi, orang-orang yang melakukan sesuatu berdasarkan persangkaannya sendiri, tanpa bimbingan dan petunjuk Allah, itulah yang disebut kufur atau mengingkari sesuatu yang datangnya dari Allah. Dalam ayat ini disebutkan dua kekufuran manusia, yaitu, kufur terhadap ayat-ayat Allah dan kufur terhadap perjumpaan dengan Dia. Apalagi jika manusia memahami ayat-ayat itu hanya sebatas apa yang tertulis di dalam mushaf Al Quran, maka kekufuran itu akan semakin menjadi-jadi.

Ketahuilah, Anakku, segala sesuatu itu berasal dari Allah. Sesuatu yang menggembirakan hatimu, datang dari Allah. Begitu juga, segala sesuatu yang tidak menggembirakan hatimu, datang dari Allah juga. Banyak orang yang menganggap bahwa segala sesuatu yang membuat manusia senang itu berasal dari Allah, sedang segala sesuatu yang membuat orang tidak senang itu datang dari selain Allah. Cara berfikir seperti itu aneh, Nak, karena secara sengaja ia telah menciptakan tandingan-tandingan Allah yang mampu mendatang mudarat kepada manusia.

Hal semacam itu muncul dalam diri manusia yang selalu diombang-ambingkan oleh perasaan hatinya sendiri. Kamu harus mengerti, Nak, senang dan sedih itu adalah perasaan yang muncul dari nafsu manusia. Jika nafsu manusia menginginkan kekayaan atau jabatan, kemudian dia mendapatkannya, maka senanglah dia. Dia menganggap bahwa kekayaan dan jabatan itu memang haknya yang diberikan oleh Allah. Dia sama sekali tidak menyadari bahwa kekayaan dan jabatan itu adalah amanah Allah yang harus dijaga dan ditunaikan sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah. Perasaan semacam itulah yang kemudian mendatangkan bencana bagi kemanusiaan, karena kekayaan dan jabatan dikemudikan oleh nafsu.

Sebaliknya, jika nafsu menginginkan kekayaan atau jabatan, kemudian dia tidak memperolehnya, maka sedihlah dia. Dia menganggap bahwa kegagalannya memperoleh kekayaan dan jabataan itu akibat adanya usaha para pesaing yang tidak jujur. Ada yang memfitnah dan sebagainya. Dia sama sekali tidak menyadari bahwa kegagalan itu karena kehendak Allah. Maka berbagai upaya dia kerjakan untuk merebut kekayaan dan jabatan dari tangan orang lain dengan cara-cara yang tidak elegan.

Maka ingatlah, Nak, pada peringatan Allah yang akaan kita bicarakan pada tulisan berikutnya. Insya Allah.

BERSAMBUNG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s