Jika berjanji, penuhilah janjimu-1


Anakku, jika kamu berjanji, maka penuhilah janjimu dengan penuh tanggungjawab. Ini bukan semat-mata perintahku, tetapi perintah Allah dan RasulNya. “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah janji-janjimu”. (QS 5:1).

Ayat tersebut ditujukan kepada orang yang beriman. Maka, perhatikanlah, Nak, itu artinya, orang yang beriman adalah orang yang sudah membuat perjanjian dengan Allah. Nah, bertanyalah pada dirimu, apakah kamu termasuk orang yang beriman ? Pertanyaan ini penting sekali, Nak, maka kamu pun harus menjawabnya dengan sejujur-jujurnya, karena ini menyangkut pertanggunganjawabmu kepada Allah, Tuhan kita. Janganlah kamu berbohong. Sebab jika kamu bohong, maka kebohonganmu itu sebenarnya adalah kebohongan kepada diri sendiri. Apalagi ini adalah soal keimananmu.

Jadi, terpangilkah kamu dengan panggilan Allah pada ayat tersebut ? Jika kamu merasa tidak terpanggil, maka kamu bukanlah orang yang beriman, karena ayat itu khusus untuk mereka yang beriman. Tetapi jika kamu merasa terpanggil, artinya kamu mengaku sebagai orang beriman, kamu punya tanggungjawab untuk memenuhi janj-janjimu. Janjimu kepada Allah, dan janjimu kepada dirimu sendiri, dan janjimu kepada semua manusia.

Anakku, jangan bilang bahwa kamu belum pernah berjanji kepada Allah, jika benar kamu orang beriman, karena salah satu cirri orang beriman adalah kesetiaannya pada janji yang telah diikrarkan kepada Allah dan dihadapan Allah. Maka aku bertanya, pernahkah kamu berjanji kepada Allah ? Jika pernah, kapankah waktunya kamu berjanji kepadaNya ?

Bisa jadi kamu merasa bingung dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Atau barangkali kamu merasa, ternyata tidak gampang untuk menjadi orang beriman. Banyak sekali orang yang mengaku beriman, Bukankah kamu sering mendengar, para pengkhotbah menyatakan di dalam khotbahnya, kita harus bersyukur kepada Allah atas nikmatNya, yaitu nikmat islam dan nikmat iman. Itu artinya, dia mengajak kita mengaku sebagai orang yang beriman. Tetapi, benarkah itu ? Anakku, tetapi cobalah lemparkan pertanyaan-pertanyaan itu kepada mereka. Dapatkah mereka memberikan jawaban yang memuaskan rasa ingin tahumu, atau, jawaban-jawaban yang justru melenceng jauh dari yang diharapkan.

Maka aku mendorong kamu untuk lebih banyak melakukan perenungan mendalam jika kamu membaca ayat-ayat Allah. Kamu harus tahu, ayat-ayat Allah itu tidak semata-mata yang tercatat dalam mushaf Al Quran atau Kitab Suci. Ayat-ayatNya bertebaran di jagad raya, bahkan dalam dan pada dirimu sendiri. Sering-seringlah kau mentafakuriNya dan mentafakuri ayat-ayatNya. Untuk itu, kamu harus mempunyai waktu khusus untuk melakukan perenungan itu. Dan waktu yang terbaik adalah di malam hari, terutama di sepertiga-malam yang akhir.

“Dan pada sebagian malam hari bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji” (QS 17:79).

Sekarang kamu melihatnya sendiri, Anakku, ayat yang secara lahiriah merupakan perintah untuk memenuhi janji-janji (QS 5:1) itu, ternyata tidak sesederhana yang kamu bayangkan. Atau bahkan tidak sesederhana yang dianjurkan oleh banyak orang dalam berbagai tausiyah dan khotbah. Baru saja kita membaca awal ayat yang berbunyi “Hai orang-orang yang beriman”, jika kita renungkan dengan perenungan yang mendalam itu akan langsung menohok diri kita. Orang berimankah aku ? Jika jawabannya : bukan, maka kamu boleh melupakan lanjutan ayat ini. Tetapi jika jawabannya : ya, aku orang yang beriman. Maka kamu harus melanjutkan ayat ini. Dan kamu akan bertemu dengan perintah Allah “penuhilah janji-janjimu”.

Lalu renungkanlah, janji apa yang sudah pernah kita buat ? Pernahkah kita berjanji, terutama kepada Allah ? Jika kamu menjawab : ya, aku pernah berjanji kepada Allah, maka akan muncul pertanyaan berikutnya, janji apakah yang sudah kalian ucapkan ? Pertanyaan akan terus makin menukik tajam menghunjam ke kedalaman nuranimu yang menyebabkan kamu harus benar-benar jujur pada dirimu sendiri.

Anakku, janji pertama yang harus kamu penuhi adalah syahadatmu atau persaksianmu tentang keberadaan Allah. Persaksianmu harus benar. Ini wajib, Nak. Karena kamu harus mempertanggungjawabkan syahadatmu dihadapan Allah dan kepada Allah. Perhatikanlah kata-kata ini Nak : persaksianmu (syahadatmu) kepada Allah dan dihadapan Allah. Hal ini untuk menandaskan bahwa syahadat itu pertanggunganjawabmu langsung kepada Allah karena ia ditujukan kepada Allah dan dihadapan Allah. Jadi, syahadat bukan sekedar ucapan lisan belaka. Lisanmu boleh saja melafalkan kalimat syahadat, tetapi benarkah kamu telah bersyahadat ? Sebab jika kamu hanya sekedar mengucapkan kalimat syahadat, maka sebenarnya kamu belum bersaksi. Bunyi ucapanmu itu tak ubahnya seperti bunyi ucapan anak TK, atau bahkan seperti bunyi ucapan burung beo yang pandai bicara.

Terus terang, Nak, apa yang aku katakan ini mungkin tidak enak didengar, bahkan mungkin menusuk telinga. Menyakitkan. Tetapi, baiklah kita hentikan dulu untuk merenung. Insya Allah, akan kita lanjutkan lagi.***

BERSAMBUNG

One response to “Jika berjanji, penuhilah janjimu-1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s