Jika berjanji, penuhilah janjimu-3


“ Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui” (QS 56:79).

Perhatikanlah ayat itu, terutama pada bagian kalau kamu mengetahui, yang merupakan isyarat tentang perlunya pengetahuan atau ilmu. Jadi, jika kamu memegang ilmunya, maka kamu akan dapat mengetahui tentang betapa besarnya tanggungjawabmu setelah mengikat perjanjian dengan Allah. Setelah kamu mengucapkan Demi Allah, karena ketika itu kamu sedang menjadikan Allah sebagai saksimu. Maka, berhati-hatilah dengan janji-janjimu itu, Nak. P\enuhilah janjimu itu.

Khusus tentang janjimu dengan Allah, yaitu syahadat, peganglah dia kuat-kuat. Jangan kamu tukar janji itu. “ Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian di akhirat dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka pada hari kiamat dan tidak akan mensucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih”. (QS 3:77).

Itulah yang tadi sudah aku katakan, orang yang membatalkan perjanjian dengan Allah atau menukarnya dengan harga yang sedikit, mereka akan terpisah dengan Allah. Keterpisahan dengan Allah itulah yang disebut azab yang pedih, karena dia tidak diajak berbicara oleh Allah dan tidak disucikan olehNya. Tidak ada azab yang lebih pedih dari azab itu. Maka janganlah sekali-kali kamu menukar janji itu dengan harga yang sedikit.

Tahukah kamu, Nak, apa harga yang sedikit itu ?

Jawabannya adalah : dunia dan kesenangannya. Walaupun seluruh dunia dengan segala isi kesenangannya sebagai imbalan, tetap saja disebut oleh Allah sebagai harga yang sedikit. Maka Rasulullah saw menyatakan “dunia ini adalah tempat kekacauan, bukan tempat ketenangan. Dan ia merupakan tempat kesedihan, bukan tempat kesenangan. Maka barangsiapa telah mengetahuinya, pastilah ia tidak akan merasa senang pada saat ia mendapatkan kenikmatan dunia, dan tidak akan sedih bila ia tertimpa kesengsaraan dunia. Ketahuilah, bahwa Allah menciptakan dunia ini sebagai negeri ujian dan cobaan, sementara akhirat sebagai negeri balasan. Dan Dia telah menjadikan kesulitan di dunia sebagai jalan untuk mendapat kesenangan akhirat, karena Dia telah menjadi akhirat sebagai ganti bagi dunia. Maka, jika Allah mengambil sesuatu dari manusia, tujuannya adalah agar Dia dapat member sesuatu sebagai gantinya. Dan Dia selalu memberikan cobaan, tujuannya adalah agar Dia dapat member pahala. Sesungguhnya dunia ini benar-benar cepat sirna dan cepat berubah. Maka waspadalah kalian terhadap kenikmatan yang ada di dalamnya, karena ia akan terasa pahit pada saat kalian harus berpisah dengannya. Hindarilah kenikmatannya yang sementara itu, karena balasan yang harus ditanggung, baru akan terlihat di kemudian hari. Janganlah kalian membangun negeri yang sudah ditakdirkan oleh Allah akan hancur itu, dan janganlah kalian mempererat hubungan dengannya, karena Allah menginginkan kalian menjauhinya. Jika tidak, kalian akan mendapatkan kemurkaanNya, dan akan menghadapi siksaanNya” (dari Ibnu Umar).

Bacalah hadis itu dengan akal dan fikiran yang jernih, Anakku, karena banyak sekali orang yang keliru mencernanya sehingga akhirnya mereka kehilangan semangat hidup di dunia. Mereka kehilangan semangat berjuang untuk meraih apa yang seharusnya diraih selagi di dunia. Mereka benar-benar menjauhi dunia dan hidup terlunta-lunta. Bukan begitu maksud Rasulullah saw. Beliau hanya memberi peringatan supaya manusia itu waspada dengan sifat dunia yang sementara dan cepat berakhir. Manusia tidak layak mempertaruhkan jiwa raganya untuk sesuatu yang cepat sirna. Dunia tidak layak dijadikan tujuan.

Maka, jangan ubah tujuan hidupmu dengan menukar perjanjianmu dengan Allah, Nak. Allah sajalah yang harus kamu jadikan tujuan hidupa, karena Dia adalah Zat yang kekal dan abadi. Jika kamu sampai kepadaNya, maka kamu pun akan kekal dan abadi bersamaNya. Ingat ini baik-baik dengan senantiasa menunaikan janji-janjimu kepada Allah.

Anakku, selain janjimu kepada Allah melalui syahadatmu, maka kamu pun telah banyak mengikat janji-janji dengan sesama manusia. Ketahuilah, jika kamu sudah memenuhi janjimu kepada Allah itu bukan berarti kamu boleh melalaikan janjimu dengan sesamamu. Bukan begitu, Nak. Lebih-lebih jika janjimu itu diawali dengan ucapan Demi Allah, karena ketika itu sebenarnya kamu sudah menyertakan Allah dalam janjimu itu, sehingga jika kamu melalaikan janjimu kepada sesamamu, itu artinya kamu telah melalaikan Allah.

Oleh karena itu, kamu harus melakukan inventarisasikan janji-janjimu yang telah kamu ucapkan kepada manusia dan dihadapan manusia. Pertama, janjimu kepada pasangan hidupmu, baik janji yang diucapkan secara formal ketika kamu melaksanakan akad nikah, maupun janji yang kamu ucapkan ketika kamu saling memadu kasih. Janjimu yang formal ketika kamu melaksanakan akad nikah itu disebut sebagai mitsaqon gholidhan, perjanjian yang kuat. Maka jangan kamu sepelekan. Jaga baik-baik perjanjian ini dan tunaikanlah janji yang sudah kamu ucapkan karena hal itu merupakan salah satu tanda bahwa kamu adalah orang yang beriman.

Aku berkewajiban untuk selalu mengingatkanmu, Nak karena memberikan peringatan itu pun merupakan perintah Allah. Jika aku membiarkan kamu tetap dalam keadaan melupakan janjimu, maka aku pun ikut menanggung akibatnya. Maka jika kalian pada suatu saat nanti diminta untuk menjadi saksi bagi orang-orang yang akan bersumpah atau berjanji, kamu layak bertanya dahulu kepada mereka apakah mereka ikhlas kamu menjadi saksinya. Katakan kepada mereka apa tanggungjawab dan kewajiban seorang saksi. Jangan sembarangan menjadi saksi, lebih-lebih terhadap orang fasik.

Orang fasik itu orang yang rusak akidahnya. Mereka akan dengan enteng mengucapkan sumpah dan janji. Bahkan janji-janji yang menyertakan Allah. “ Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sekuat-kuat sumpah; sesungguhnya jika dating kepada mereka seorang pemberi peringatan, niscaya mereka akan lebih mendapatkan petunjuk dari umat-umat. Tatkala datang kepada mereka pemberi peringatan, maka kedatangannya itu tidak menambah kepada mereka, kecuali menambah mereka semakin jauh” (QS 35:42).

Maka, aku wajib mengingatkan kamu terhadap janji-janji yang me\wajibkan kamu memenuhi janji-janji itu. Jika aku tidak mengingatkan kamu, maka aku telah melalaikan kewajiban yang melekat pada diriku sehingga Allah akan menghukumku. Maka, perhatikanlah hal ini, Nak, karena setiap manusia sebenarnya memiliki kewajiban untuk saling mengingatkan.

Anakku, janji berikutnya yang harus kalian penuhi adalah janji yang kamu ucapkan ketika kamu memegang amanat yang dipercayakan kepadamu. Untuk yang satu ini, akan kita bicarakan nanti.

(BERSAMBUNG)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s