Jika berjanji, penuhilah janjimu-4


Anakku, janji berikutnya yang harus kalian penuhi adalah janji yang kamu ucapkan ketika kamu memegang amanat yang dipercayakan kepadamu. Ketika kamu dipercaya menjadi pegawai, maka biasanya diawali dengan mengangkat sumpah atau janji. Jangan lupa, sumpah dan janjimu itu selalu diawali dengan kata-kata Demi Allah, yang mengisyaratkan keterlibatan Allah di dalamnya. Jadi, jangan main-main dengan janji itu. Aku melarang kamu mengikuti orang-orang busuk yang dengan enteng melupakan janjinya. Mereka bukan contoh yang baik. Walaupun mereka memegang jabatan setinggi apa pun, tetapi jika dia tidak berhati-hati dengan janjinya, bahkan selalu mengingkari, maka kamu jangan mengikuti mereka. Sebab jika kamu membiarkan dirimu larut dengan cara hidup mereka, maka kamu akan kehilangan kesempatan untuk selalu bersama Allah, karena kamu sendiri yang telah memisahkan diri dariNya.

Dalam bahasa Kitab Suci, kamu telah menzalimi atau menganiaya dirimu sendiri. Ketahuilah, Nak, “ bahwasanya Allah sekali-kali tidak menganiaya hambaNya” (QS 3:182). Artinya, si hamba itulah yang menyebabkan dirinya teraniaya, karena dia sendiri yang menganiaya dirinya sendiri. Itulah yang disebut orang bodoh.

Maka janganlah kamu mendekati mereka, orang-orang bodoh yang telah mempermainkan janjinya, yang tidak pernah memenuhi janji yang telah mereka ucapkan. Jika kamu bergaul dengan mereka, lalu kamu akan menjadi bagian dari mereka. Jika kamu menjadi bagian dari mereka, maka kamu termasuk orang-orang yang telah menganiaya diri. Maka, jauhilah mereka. Jangan bergaul dengan mereka, kecuali hanya sekedar bertegur sapa saja.

Bisa jadi kamu akan bertanya, bagaimana jika orang-orang bodoh itu adalah atasanmu di kantor, atau rekan kerjamu dalam bisnis ? Aku tidak akan mengubah nasihatku, Nak. Jangan bergaul dengan mereka. Jauhilah mereka. Tentu saja setelah kamu terlebih dahulu memberikan peringatan. Ingatkan mereka dengan nasihatmu. Mungkin saja mereka belum tahu. Maka kamu wajib memberitahu mereka. Atau bisa jadi mereka lupa, sehingga kamu harus mengingatkannya. Itu kewajibanmu. Nah, jika pemberitahuanmu tidak digubris, atau peringatanmu tetap diabaikan, maka paksalah mereka, jika kamu memiliki kemampuan untuk itu. Jika tidak, maka tinggalkanlah mereka. Jauhilah mereka, sebab mereka akan menyebabkan hidupmu diliputi oleh kegalapan akal budi.

Namun demikian kamu harus menyadari, apa resiko yang harus kamu tanggung jika kamu berani memberitahu atau mengingatkan mereka, Nak. Resiko yang paling ringan adalah kamu akan disingkirkan oleh kelompok mereka. Kamu akan dijauhi dan tidak mendapatkan bagian “rejeki” yang mereka peroleh. Itu resiko paling ringan. Tetapi ada lagi resiko yang lebih berat dari itu, yaitu kamu akan dilengserkan dari kedudukanmu, atau bahkan dipecat. Ini benar, Nak, karena biasanya mereka tidak suka diberitahu, atau tidak senang diingatkan. Mereka sudah kecanduan dunia, sehingga mereka sudah menganggap dunia sebagai tuhan yang harus dimuliakan. Mereka tidak menyadari bahwa “kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan” (QS 3:185). Mereka telah terperdaya dan puas berada di dalamnya, sehingga jika kamu ingatkan mereka, bukannya membawa mereka pada kesadaran, sebaliknya akan menyebabkan mereka marah kepadamu dan menyingkirkan kamu.

Ketahuilah, Anakku, mereka adalah orang bodoh yang menjadi budak dunia, sehingga mereka merasa tidak nyaman dengan keberadaanmu di antara mereka. Demi “kenyamanan” biasanya mereka lebih senang meminggirkan kamu. Mereka khawatir keberadaanmu di tengah mereka akan menyebabkan borok mereka terbuka, dan kemudian mereka merasa kehilangan “rejeki”. Itu juga merupakan gambaran bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak pernah merasa puas dengan pemberian Allah yang terbaik.

Rasulullah saw pernah bersabda : Allah swt berfirman :” Wahai anak Adam. Setiap hari kau selalu diberi rejeki tetapi kau masih saja bersedih. Setiap hari usiamu selalu berkurang, tetapi kau terus bersenang-senang. Kau selalu berada dalam kecukupan, tetapi dirimu masih terus mencari sesuatu yang akan menyebabkan kamu bersikap melampaui batas, sehingga kau tidak pernah merasa cukup terhadap yang sedikit, dan tidak pernah merasa puas terhadap yang banyak”. (dari Abdullah bin Mas’ud).

Maka kamu tidak perlu takut, Nak, jika mereka meminggirkan kamu. Mengapa ? Nanti akan kita bahas dalam tulisan berikutnya. Insya Allah.

(BERSAMBUNG)

2 responses to “Jika berjanji, penuhilah janjimu-4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s