Jika berjanji, penuhilah janjimu-5


Maka kamu tidak perlu takut, Nak, jika mereka meminggirkan kamu. Allah sudah menjamin rejekimu, dan bumi Allah itu luas. Jika pun kamu harus kehilangan pekerjaan karena kamu mempertahankan kebenaran Allah, maka Dia akan memberikan ganti yang lebih baik dari yang pernah kamu terima. Jadi “jangan berputus asa dari rahmat Allah” , karena “ sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah adalah kaum kafir” (QS 12:87).

Tugasmu adalah untuk selalu bertawakal kepada Allah. Tawakal artinya menyerahkan seluruh hasil usahamu kepadaNya, karena manusia memang diberi wewenang untuk berusaha sekuat kemampuanmu. Tidak usah berfikir tentang hasil, karena hasil adalah wilayah kekuasaan Allah. Kamu hanya diwajibkan berusaha, bekerja atau berikhtiar. Tetapi kamu tidak diharuskan untuk berhasil, karena hasil itu adalah pemberian Allah. Maka kamu harus yakin, apa pun yang kamu terima dari Allah itu adalah yang terbaik untukmu.

Namun demikian, semuanya harus diawali dengan usahamu lebih dulu. Ketahuilah, Nak, Allah tidak akan menurunkan pertolongan sebelum orang yang hendak ditolong itu lebih dulu bergerak untuk menyingkirkan kesulitannya.

“ Maka bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah lah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah lah yang melempar. Itu semua untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS 8:17).

Anakku, Allah tidak akan melempar sebelum kamu memegang sesuatu untuk dilempar, dan sebelum kamu benar-benar berniat untuk melempar. Hal tersebut untuk memberikan kesadaran kepadamu bahwa sebenarnya Allah adalah fasilitatormu. Dalam bahasa hadis qudsi disebutkan “Allah bergantung pada persangkaanmu”. Jika kamu memiliki keyakinan yang kuat dan mutlak bahwa Allah akan menolongmu, kemudian kamu mengerjakan apa yang harus kamu kerjakan, maka Allah pasti akan memberikan pertolongannya. Dia tidak akan menolong orang yang hanya duduk berpangku tangan. Artinya, Allah tidak menyukai orang pemalas. Atau lebih tegas lagi, orang yang malas memang tidak layak mendapatkan pertolongan.

Itulah sebabnya, aku menyarankan kamu untuk gemar menolong orang yang telah berusaha sekuat tenaganya memenuhi hajat hidup mereka. Mereka sudah menunaikan tugasnya sebagai hamba Allah untuk bekerja. Para Nabi pun diperintah agar menggiatkan kaumnya bekerja dengan firmanNya “ Katakanlah : hai kaumku bekerjalah sesuai dengan keadaanmu, sesungguhnya aku pun bekerja pula, maka kelak kamu akan mengetahui” (QS 39:39).

Maka, orang-orang yang sudah menyingsingkan lengan baju, menggerakkan tangannya untuk bekerja, mengeluarkan tenaga hingga keringatnya bercucuran, adalah orang-orang yang sudah memenuhi janjinya kepada Allah. Kamu harus berbuat baik kepada mereka. Kamu wajib menggembirakan mereka. “ Bekerjalah kamu, maka Allah dan RasulNya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu, dan kamu akan dikembalikan kepada Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakannya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS 9:105).

Kembali pada masalah janji. Ketahuilah, ada janji yang seringkali kamu ucapkan, tetapi kemudian dengan mudah kamu lupakan. Mungkin kamu tidak pernah merasa bahwa itu adalah sebuah janji, sehingga kamu tidak terdorong untuk memenuhinya.

Ketahuilah, Anakku, kadang-kadang kamu mungkin dibuat bingung tentang keinginan dan janji. Misalnya ketika usai berdoa hendak tidur, muncul keinginan dalam dirimu lalu kamu mengatakan kepada dirimu sendiri, nanti malam aku mau bangun untuk tahajud ah. Nah, apakah itu keinginan atau janji yang harus dipenuhi ? Kamu bingung membuat kategorisasinya sehingga kamu cenderung lebih memilih tidak meninggalkan tempat tidur meskipun Allah sudah membangunkan kamu untuk bertahajud di malam itu. Kamu tidak dapat menyebutnya secara spesifik, apakah itu keinginan ataukah janji ? Padahal, kejadian seperti sangat sering terjadi dan berulang-ulang dalam hal apa saja.

Sebenarnya, ketika tumbuh keinginan atau sebutlah hasrat untuk melakukan sesuatu, yang baik tentu saja, itu adalah kerinduan diri sejatimu untuk menjumpai Allah, atau untuk melaksanakan perintahNya. Ketika hasrat itu kemudian mendorongmu berkata kepada dirimu sendiri, artinya kamu telah membuat janji untuk mewujudkan hasrat itu menjadi kenyataan. Nah, ketika itu kamu sudah dikenai kewajiban untuk menunaikan janjimu itu. Janji ini lebih berhak untuk dijadikan prioritas utama setelah kamu memenuhi janjimu kepada Allah, karena dengan memenuhi janji ini, artinya kamu telah berbuat baik pada dirimu sendiri. Itu adalah perintah Allah, Anakku, jadi jangan sia-siakan janjimu.

Lagi pula, janganlah kamu menjadi penghalang bagi datanganya kebaikan Allah melalui dirimu sendiri. Jangan menganggap enteng masalah ini, Anakku, karena ketika muncul hasratmu untuk salat tahajud, atau untuk melakukan kebaikan-kebaikan lainnya, sebenarnya Allahlah yang memunculkan hasrat itu karena Dia ingin berbuat baik kepadamu. Oleh karena itu, lakukanlah segera. Jangan menunda-nunda waktu. Tugasmu hanya satu, yaitu menyingkirkan rasa malas yang menjerat dirimu erat-erat agar kamu bakhil atau kikir kepada dirimu sendiri. “Maka diantaramu ada yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia kikir kepada dirinya sendiri” (QS 47:38).

Anakku, bangunmu di waktu malam adalah karunia dari Allah yang harus kamu syukuri dengan salat tahajudmu. Janganlah kamu seperti manusia yang digambarkan oleh Allah melalui firmanNya ini : “Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian karuniaNya mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi Allah” (QS 9:76)

Jika kamu dituntut untuk berbuat baik kepada orang lain, maka kamu lebih dituntut untuk berbuat bagi kepada dirimu sendiri terlebih dahulu. Maka para Rasul disebut sebagai uswatun khasanah atau teladan yang baik, karena mereka selalu melakukan segala kebaikan untuk dirinya sendiri, dan setelah itu mereka berbuat kebaikan untuk umatnya. Nabi Muhammad saw menjalani hidup di tengah-tengah kaumnya yang sedang mabuk dunia, maka demi kebaikan dirinya, Beliau lebih dulu menolong dirinya sendiri dari terjangkit penyakit dunia dengan uzlah, melakukan tahanuts di Gua Hira. Dia berkhalawat mencari petunjuk Allah sampai akhirnya Allah mengangkatnya sebagai utusan atau Rasul penutup.

Jadi, Anakku, janganlah kamu menjadi penghalang turunnya karunia Allah ketika Dia mengusik hatimu sehingga muncul keinginan untuk melakukan kebaikan. Sadarlah, bahwa ketika itu sebenarnya Allah sedang ingin berbuat baik kepadamu dan kepada umat manusia. Maka kamu tidak layak menutup pintu hatimu dengan memalingkan diri dari Allah, Kamu menolak kebaikanNya. Ini adalah perbuatan yang tidak terpuji. Bahkan lebih dari itu, perbuatanmu tergolong sebagai perbuatan keji atau zalim. Maka, bukalah pintumu. Biarkan Allah melakukan kebaikan untukmu, ikutlah bersamaNya berbuat baik, maka kamu akan menjadi manusia utama kekasih Allah.

Camkan baik-baik, Anakku.

Wallohua’lam.*****

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s