Paham metafora Allah, tanda kamu berilmu-1


Allah berfirman : “Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia ; dan tiada yang memahaminya, kecuali orang-orang yang berilmu. (QS 29:43).

Anakku, ternyata apa yang sering kita sebutkan untuk menandai ciri-ciri atau predikat yang dimiliki seseorang, tidak selalu sama dengan predikat yang diberikan oleh Allah. Selama ini kita selalu beranggapan bahwa seseorang yang diberi predikat ilmuwan atau orang yang berilmu adalah mereka yang menempuh jenjang pendidikan tinggi dan memegang ijazah sarjana sehingga berhak menyandang sebutan sarjana. Tetapi ternyata Allah justru tidak memberikan predikat orang berilmu itu kepada mereka. Menurut Allah, orang yang berilmu adalah mereka yang dapat memahami perumpamaan-perumpaan Allah.

Memperhatikan ayat tersebut, layaklah bagi kita untuk mengetahui, atau paling tidak menyelusuri informasi tentang perumpamaan atau metafora yang dibuat oleh Allah untuk manusia. Ketahuilah, Anakku, Allah berkata-kata dengan manusia dengan bahasaNya sendiri, tidak dengan bahasa manusia. Oleh karena itu, hanya orang-orang tertentu, khususnya para Rasul dan Nabi, yang mengetahui bahasa Allah. Maka dapat kamu bayangkan betapa para Rasul dan Nabi benar-benar manusia pilihan, sehingga orang yang tidak dapat menerima tugas kenabian yang diemban oleh para utusan adalah benar-benar orang bodoh. Betapa pula dungunya orang-orang yang melecehkan para Nabi.

Perhatikanlah sejarah hidup Nabi Muhammad saw. Beliau mendapat sebutan ummi atau buta huruf. Tentu yang dimaksud adalah Beliau tidak dapat menulis dan membaca huruf tulisan yang merupakan karya budaya manusia, dalam hal ini, huruf Arab. Sehingga ketika Nabi Muhammad saw mendapat wahyu pertama dengan perintah iqro’, yang dimaksudkan adalah perintah supaya Beliau membaca metafora yang ditunjukkan oleh Allah. Tidak dapat diketahui secara pasti, metafora itu berupa apa. Hanya Nabi Muhammad saw dan Allah saja yang tahu. Namun demikian dapat dipastikan, ayat yang turun itu berupa metafora atau tanda-tanda. Sering kita membaca dalam berbagai kitab tafsir, kata ayat dalam bahasa Arab diterjemahkan menjadi tanda atau tanda-tanda. Hal itu mengindikasikan bahwa wahyu yang sampai kepada para Nabi diberitahukan oleh Allah berupa tanda-tanda atau symbol-simbol.

Anakku, ketahuilah, para Nabi, khususnya Nabi Muhammad saw jauh sebelum diangkat menjadi utusan Allah, sebenarnya mereka telah dipersiapkan secara spiritual oleh Allah. Mestinya kamu tidak lupa kan, ketika masih kecil, Nabi Muhammad saw pernah “dibedah” dadanya oleh Malaikat Jibril untuk dibersihkan dari kotoran yang melekat di dalamnya. Peristiwa itu tentu bukan semata peristiwa lahiriah, namun yang terutama adalah peristiwa spiritual atau kerohanian, yakni dibersihkannya qalbu Beliau dari segala penyakit syirik dan cinta dunia, sehingga pandangan mata batin Beliau selalu tertuju kepada Allah dan negeri akhirat. Itulah sebabnya berkali-kali, Nabi Muhammad saw menyatakan “tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian ….” sebagai indikasi bahwa Beliau memiliki makrifat yang sangat sempurna terhadap Allah Sang Penguasa Hari Kemudian.

Tidak hanya itu, para utusan Allah adalah manusia yang sangat mengasihi umatnya karena cintanya yang sempurna kepada Allah. Hal ini sebenarnya merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi manusia. Maka aku menyerukan kepadamu, Nak, ikutilah jejak para utusan Allah yang mengisi hidupnya dengan bermakrifat kepada Allah sebagai modal hingga tumbuh di dalam hatinya cinta yang murni. Dari cinta yang murni kepada Allah itulah lahir kasih sayang untuk manusia. Jadi sebenarnya, manusia tidak akan mampu menyayangi sesamanya sebelum ia mencintai Allah dengan cinta yang utuh.

Begitu banyak metafora atau perumpamaan yang diciptakan dan disampaikan oleh Allah kepada manusia, dari yang paling besar sampai yang paling kecil atau remeh. Allah menyatakan, DiriNya tidak malu membuat perumpamaan dengan seekor nyamuk atau bahkan yang lebih kecil dari itu. Bukan soal perumpamaannya yang penting, melainkan bagaimana sikap manusia melihat dan membaca perumpamaan itu yang jauh lebih penting. Cobalah perhatikan, Nak :

“Adapun orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan “Apakah maksud Allah menjadikan ini sebagai perumpamaan ?” Dengan perumpamaan itu banyak yang disesatkan oleh Allah, dan dengan perumpamaan itu banyak orang yang diberiNya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan oleh Allah kecuali orang-orang yang fasik”. (QS 2:26).

Bukankah itu berarti bahwa perumpamaan atau metafora itu disampaikan oleh Allah sebagai batu ujian untuk manusia ?

Dalam tulisan berikut, nanti kita bicarakan. Insya Allah.

(BERSAMBUNG)

2 responses to “Paham metafora Allah, tanda kamu berilmu-1

  1. Pak Fath..
    Nabi Muhammad saw berkali-kali menyatakan ” tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian …”. Maksudnya bagaimana Pak??
    Mohon pencerahannya ..

    • Terimakasih, Mas Triyanto. Pada paragraf itu, saya sedang menjelaskan mengenai pengalaman spiritual Nabi Muhammad saw ketika “dibedah” dadanya oleh Malaikat Jibril untuk membersihkan penyakit syirik dari kalbunya. Setelah itu, pandangan mata batin Nabi selalu tertuju pada Allah dan Negeri Akhirat. Itulah sebabnya, Nabi sering menyatakan (misalnya) “Tidak beriman kepada Allah dan hari akhir, orang yang tetangganya tidak aman dari perbuatannya”. Banyak sekali hadis serupa yang diawali dengan kata-kata “tidak beriman kepada Allah dan hari akhir ….”. Hal tersebut merupakan indikasi bahwa Beliau saw begitu sempurna makrifatny.
      Mudah-mudahan dapat membantu. Terimakasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s