Paham metafora Allah, tanda kamu berilmu-2


Firman Allah : “Adapun orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan “Apakah maksud Allah menjadikan ini sebagai perumpamaan ?” Dengan perumpamaan itu banyak yang disesatkan oleh Allah, dan dengan perumpamaan itu banyak orang yang diberiNya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan oleh Allah kecuali orang-orang yang fasik”. (QS 2:26).

Bukankah itu berarti bahwa perumpamaan atau metafora itu disampaikan oleh Allah sebagai batu ujian untuk manusia ? Untuk orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka. Itu pun satu hujjah yang kuat bahwa iman selalu berkaitan atau diikuti oleh keyakinan yang muncul setelah melalui proses pembuktian. Orang-orang yang beriman adalah mereka yang sudah membuktikan kebenaran ayat sehingga mereka yakin.

Dan di bumi itu terdapat ayat-ayat Allah, bagi orang yang yakin, dan pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan ? (QS 51:20-21).

Perhatikanlah ayat itu, Anakku. Ketika Allah menyatakan di bumi itu, manusia akan terbelah menjadi dua golongan. Golongan orang yang kafir, yakni orang-orang yang belum beriman, perhatiannya hanya akan tertuju kepada bumi tempatnya berpijak saja. Bumi yang dia membangun rumah di atasnya atau bercocok tanam. Tetapi, bagi golongan orang yang beriman, yakni mereka yang sudah membuktikan keimanannya sehingga memiliki keyakinan, maka ungkapan bumi selain dipahami sebagai bumi tempatnya berpijak, mereka juga mengetahui bumi hakikat yang telah ditemukannya. Sehingga perhatian orang beriman, tidak hanya tertuju kepada bumi kiasan tempatnya berpijak, melainkan juga kepada bumi hakikat tempatnya menetap sampai waktu yang sudah ditentukan oleh Allah. Bahkan, perhatian pertama mereka adalah pada bumi hakikat, karena di sanalah mereka menemukan jalan untuk selalu bermusyahadah mencapai makrifat sehingga mendapatkan mahabbah.

Ketahuilah, Nak, dalam ayat itu, setelah Allah menyatakan di bumi itu, lalu di bagian lain pada ayat itu, Allah menyatakan dan pada dirimu sendiri. Di tengah-tengah antara bumi itu dan pada dirimu sendiri, Allah meletakkan keterangan terdapat ayat-ayat Allah, bagi orang yang yakin, sebagai pernyataan bahwa baik di bumi kiasan tempat kita berpijak ini, maupun bumi hakikat tempat kita menetap sampai waktu yang ditentukan oleh Allah itu terdapat ayat atau tanda atau bukti tentang Allah. Bagi siapa ? Jawabannya : bagi orang yang yakin. Mengapa ia yakin ? Karena ia sudah membuktikannya.

Maka, pertanyaan Allah di ujung ayat ini, apakah kamu tidak memperhatikan, sungguh menjadi sentilan yang sangat halus, betapa orang-orang seringkali melalaikan hal-hal yang tampak sederhana, kecil dan remeh temeh yang dijadikan perumpamaan atau metafora oleh Allah. Ungkapan apakah kamu tidak memperhatikan itu sendiri merupakan pernyataan yang sangat keras dari Allah agar manusia mempergunakan akalnya. Memperhatikan bermakna memberikan perhatian, melihat dengan sungguh-sungguh, mempelajari, meneliti kemudian menyimpulkan. Memperhatikan juga bermakna melakukan observasi yang pada akhirnya harus menghasilkan sesuatu. Obyek observasinya adalah alam semesta dan diri manusia sendiri. Dari keduanya, setelah melakukan observasi, manusia mestinya mendapatkan sesuatu yang sangat berharga bagi hidupnya.

Anakku, manusia yang melakukan observasi terhadap alam semesta dan dirinya sendiri, akan mendapatkan sesuatu sesuai dengan minat atau motivasi yang ada dalam dirinya. Mereka yang tertarik pada dunia yang kasat mata, maka mereka akan memperoleh pengetahuan yang kemudian akan berkembang menjadi ilmu dunia atau ilmu lahiriah. Dari tangan merekalah lahir ilmu astronomi, ilmu biologi, kedokteran, pengobatan, ekonomi, bahasa, politik, geologi dan lain-lain. Dari ilmu-ilmu itu pun kemudian berkembang cabang-cabangnya. Semuanya berguna bagi manusia untuk menghadapi kehidupan dunia. Tetapi mereka yang tertarik pada dunia kerohanian, maka mereka pun akan memperoleh pengetahuan yang kemudian akan berkembang menjadi ilmu kerohanian. Dari tangan merekalah lahir pengetahuan tentang Allah, tasawuf dan cabang-cabang ilmu kerohanian lain.

Dan orang yang bijak, selalu mendahulukan Allah sebelum yang lain, Anakku. Maka arahkan perhatianmu hanya pada Allah.

Banyak sekali contoh semacam itu di dalam Al Quran, jika kamu mau memperhatikan, Anakku. Misalnya saja metafora tentang benang putih dan benang hitam sebagai batas mulai berpuasa, yaitu dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dan benang hitam, yaitu fajar (QS 2:187). Benang putih dan benang hitam secara hakikat adalah metafora untuk batas pengetahuan manusia tentang sesuatu. Metafora itu dilengkapi dengan kata fajar, yaitu saat kegelapan perlahan-lahan sirna berbarengan dengan munculnya matahari. Hal tersebut memperkuat alasan bahwa Al Quran tidak cukup hanya dipahami dari sisi kebahasaan saja. Harus ada upaya mendasar bagi setiap orang untuk mendalami makna yang tersirat dan yang lebih tersirat lagi dari ayat-ayat Al Quran.

Dalam hal puasa seperti yang disebutkan dalam ayat (QS 2:187) itu misalnya, seorang ulama yang berpredikat hujjatul Islam Al Ghazali menyatakan, tiga jenis manusia yang berpuasa, yaitu puasanya orang awam, puasanya orang khusus dan puasanya orang khusus dari yang khusus (khawashil khawash). Hal tersebut tentu tidak sembarang diucapkan oleh Al Ghazali, melainkan hasil kajian spiritualnya yang amat mendalam, sehingga menyebut puasa tingkatan yang ketiga disebutkan “matanya tidak dipergunakan untuk melihat, mulutnya tidak dipergunakan untuk berbicara dan telinganya tidak dipergunakan untuk mendengar”. Ungkapan tersebut mudah diucapkan, bahkan oleh orang-orang yang tidak memiliki pengalaman rohani seperti Al Ghazali, sehingga informasi yang disampaikan oleh Al Ghazali itu seperti menguap begitu saja, karena hanya sedikit manusia yang memiliki semangat dan keinginan untuk melakukan observasi mencari kebenaran ucapan itu.

Sebenarnya, ungkapan tersebut adalah informasi yang sangat penting bagi orang-orang yang tertarik untuk menempuh laku rohani atau laku spiritual. Setiap informasi adalah sangat penting. Tetapi yang jauh lebih penting adalah menindaklanjuti informasi tersebut menjadi laku atau tindakan. Begitu banyak informasi yang berhamburan setiap saat. Semuanya tidak bermanfaat sedikit pun sebelum ada tindakan manusia melaksanakan petunjuk yang diinformasikan itu. Celakanya, kebanyakan manusia lebih menyukai berdebat mendiskusikan informasi itu tanpa menindaklanjuti.

Anakku, bacalah Al Quran sebagai kitab suci. Apa maksudnya ? Nanti kita bicarakan dalam tulisan berikut. Insya Allah.

(BERSAMBUNG)

One response to “Paham metafora Allah, tanda kamu berilmu-2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s