Paham metafora Allah, tanda kamu berilmu-3


Anakku, bacalah Al Quran sebagai kitab suci. Banyak orang menganggap bahwa Al Quran itu adalah kitab yang berisi kisah masa lalu. Mungkin kamu tidak percaya. Tetapi itu benar Anakku. Banyak orang yang memang gemar membaca Al Quran, tetapi sebatas sebagai sumber informasi tentang banyak hal. Maka mereka pun mengerti banyak hal. Tetapi jika ditanyakan kepada mereka, apakah kalian pernah merasakan pengalaman seperti yang diperoleh para pendahulu kita, para sahabat Nabi, para Wali dan kekasih Allah ? Mungkin mereka agak sulit menjawab, atau bahkan sama sekali tidak tahu. Bisa saja mereka malah balik bertanya kepadamu, apa yang dimaksud dengan merasakan pengalaman itu ?

Ada sebuah ilustrasi yang dapat diketengahkan di sini, Anakku, yaitu sebuah tradisi yang selalu dijalani oleh orang-orang Indonesia untuk melakukan perjalanan mudik di hari-hari terakhir bulan Puasa untuk berlebaran di kampong halaman. Jumlah pemudik setiap tahun selalu bertambah, dan, hal klasik yang selalu berulang adalah munculnya atau terjadinya kemacetan di mana-mana. Para pemudik yang sedang berjalan, selalu mengakses informasi dari berbagai saluran informasi seperti suratkabar, radio dan televisi, sekarang malah bertambah dengan adanya internet/BBM. Tidak hanya para pemudik yang selalu memantau informasi itu. Orang-orang yang tidak mudik pun mengikuti informasi itu dengan seksama.

Tetapi, tahukah kamu, Nak, apa bedanya informasi itu bagi para pemudik dan non pemudik ? Pemudik adalah orang yang sedang menempuh perjalanan pulang menuju kampong halaman. Informasi tentang moda transportasi yang harus mereka pilih, jalur utama menuju pulang, jalur alternative dan lain-lain sungguh sangat berguna bagi mereka. Artinya, pemudik adalah manusia yang aktif menindaklanjuti informasi yang mereka peroleh. Sehingga mereka memperoleh pengalaman karena mengalami berbagai hambatan, rintangan, kesulitan dan susah payah. Tetapi mereka pula yang mendapatkan kegembiraan ketika sampai ke tujuan, berjumpa dengan keluarganya.

Keadaan itu sungguh berbeda dengan non pemudik. Mereka adalah orang-orang yang pasif. Mereka hanya duduk-duduk membaca suratkabar, mendengarkan radio atau menonton siaran televisi. Mereka tahu informasi, tetapi mereka tidak tahu betapa susahnya perjalanan menuju kampong halaman. Mereka pun tidak dapat merasakan dinamika mudik di jalanan yang macet atau di kendaraan umum yang berjejal-jejal. Mereka tidak merasakan jalur macet, moda transportasi apa yang menyenangkan dan lain-lain. Bahkan mereka juga tidak merasakan betapa gembiranya sampai ke kampong halaman. Kegembiraan yang menyebabkan seluruh jerih payah seakan sirna.

Anakku, kisah pemudik itu sebenarnya adalah ayat Allah tentang perjalanan pulang menuju kampong akhirat. Manusia yang hidup di dunia ini ditamsilkan dengan pemudik yang hendak pulang ke tempat asalnya. Kita semua harus mudik, kembali kepada Allah. Ini yang disebut dalam ayat inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Jarak antara kelahiran dan kematian itulah rute perjalanan yang harus ditempuh oleh manusia agar mereka dapat kembali bersatu bersama Allah. Tidak semua pemudik sampai kembali ke tempat asalnya. Begitu pun halnya dengan manusia hidup, tidak semuanya dapat sampai kepada Allah. Untuk itu, Allah sudah memberikan informasinya secara lengkap di dalam Al Quran. Ada jalur utama yang harus ditempuh, yaitu jalan lurus yang akan mengantarkannya sampai kepada Allah yang disebut sebagai shirathal mustaqim. Tetapi untuk sampai ke jalur utama, seperti pemudik yang keluar dari rumahnya, manusia harus terlebih dahulu menyusuri jalan kecil, yang disebut sebagai as-sabil atau at-thariq.

Perhatikan, Anakku, “dan ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan lain, karena jalan itu akan mencerai beraikan kamu dari jalanKu. Demikianlah perintah Allah, supaya kamu bertakwa” (QS 6:153). Di sini, Allah menyebut jalan itu pertama-tama dengan sebutan shirathal mustaqim yang disebutnya sebagai jalanKu. Hal ini memberikan informasi kepada kita bahwa hanya ada satu jalan yang wajib ditempuh, yaitu jalan Allah itu. Jalan selain jalan Allah adalah jalan yang akan menjadikan kita tercerai berai dari jalan Allah. Nah, ketika Allah menyebut jalan-jalan lain itu disebutnya dengan istilah subula, dari kata as-sabil yang berarti jalan, sedang kata sabilihi yang diterjemahkan menjadi jalanNya itu merupakan pemberitahuan bahwa sebelum sampai ke shirathal mustaqim orang harus lebih dahulu menyusuri sabilihi sebagai jalur awal ketika seseorang meninggalkan rumahnya.

Anakku, tadi sudah aku katakan, bacalah Al Quran sebagai kitab suci, bukan sekedar sebagai informasi. Kitab suci adalah penuntun untuk menuju ke kesucian, dan Dzat Yang Maha Suci hanyalah Allah. Artinya, Al Quran adalah pedoman perjalanan menuju Allah. Tidak ada seorang pun yang mengetahui bagaimana cara menempuh perjalanan itu, kecuali para Nabi, Rasul utusan Allah, para ahli waris Nabi dan kekasih-kekasihNya. Kamu wajib bertanya kepada para Nabi, Rasul Utusan Allah. Jika kamu meyakini bahwa tidak ada Nabi setelah Muhammad saw, maka hendaklah kamu bertanya kepada para ahli waris Nabi karena ilmu atau pengetahuan untuk menempuh perjalanan menuju Allah ada pada mereka.

Ketahuilah pula, bahwa shirathal mustaqim adalah jalannya orang-orang yang sudah mendapat nikmat, bukan jalannya orang yang terkutuk dan orang yang tersesat (QS 1:7). Perhatikanlah dengan seksama ayat ini, Nak. Bacalah berulang-ulang dan renungkanlah dengan hatimu yang jernih. Bacalah ayat itu sebagai petunjuk suci dari Allah, bukan sekedar sebagai informasi. Jika kamu membacanya sekedar sebagai informasi, maka kamu layaknya manusia non-pemudik yang hanya duduk-duduk di kursi membaca koran, mendengarkan radio atau menonton televisi. Kamu tidak akan memperoleh pengalaman batin yang sangat penting karena kamu adalah manusia pasif.

Maka kamu harus menjadi manusia aktif, manusia pemudik, yang berjalan menuju ke rumah Allah tempatmu kembali.

Nah, jika kamu membaca Al Quran sebagai kitab suci, maka kamu akan dapat menangkap sinyal Allah tentang shirathal mustaqim, jalannya orang yang telah mendapatkan nikmat. Mereka – orang-orang yang mendapat nikmat itu – adalah para Nabi, para shiddiqin, para syuhada dan para salihin (QS 4:69). Empat golongan manusia itulah yang harus kamu jadikan tokoh panutan dalam perjalanan hidupmu, karena mereka adalah orang-orang yang telah memegang kunci gudang penyimpanan khasanah Allah yang berisi nikmat yang besar. Jika kamu masuk ke dalam salah satu dari golongan itu, maka kamu pun akan ikut memegang kuncinya yang dengan itu kamu akan memperoleh banyak kenikmatan.

Satu hal yang harus kami jadikan pegangan dalam hal nikmat ini, janganlah kamu melihat nikmat itu hanya dengan pandangan dan orientasi lahiriah belaka. Sadarilah, bahwa nikmat itu hanya berhubungan dengan Allah, karena Allah, untuk Allah dan bersama Allah. Dia – nikmat itu – tidak berkait mait dengan selain Allah.

Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah “janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah, Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar” (QS 49:17).

Sungguh sangat jelas pemberitahuan Allah tentang begitu banyaknya manusia yang merasa telah memiliki keislaman, atau merasa telah menjadi Islam. Mereka menduga, dengan pengakuan keislaman itu mereka telah menggembirakan para utusan Allah. Oleh karena itu Allah merasa perlu memberitahu para utusanNya agar mereka memberikan pencerahan, yaitu dengan menyatakan bahwa Allah lah yang telah memberikan nikmat. Hanya Allah yang memberikan nikmat berupa keimanan. Itu pun dengan tambahan penjelasan di ujung ayat jika kamu adalah orang-orang yang benar. Orang yang benar adalah shiddiqin, bagian dari kelompok manusia yang telah mendapatkan nikmat dari Allah. Perhatikan kata jika pada penjelasan itu. Kata itu bermakna adanya syarat atau kondisi tertentu. Dalam Al Quran banyak sekali ayat-ayat yang disampaikan dalam bentuk kalimat bersyarat, seperti diawali dengan jika, apabila, seandainya dan ungkapan lain yang serupa dengan itu. Artinya, untuk menjadi golongan ini manusia harus berjuang ekstra keras mendapat pengakuan dari Allah. Tanpa pengakuan dari Allah, maka itu baru merupakan pengakuan sepihak atau dengan kata lain baru merupakan dugaan belaka.

Anakku, kamu sudah mulai dapat memahami, betapa pentingnya memahami simbolisme atau perumpamaan yang dikemukakan oleh Allah dalam ayat-ayatNya. Simbolisme itu sungguh amat penting untuk kamu pahami sebagai langkah besar untuk meraih predikat orang berilmu sebagaimana disebut oleh Allah di awal pembahasan ini. Hanya jika kamu memahami simbolisme itulah kamu akan dapat mengupas berbagai rahasia ayat-ayatNya yang tergelar di alam semesta, pada dirimu sendiri maupun dalam KitabNya.

Raihlah predikat itu, Anakku.

Wallohua’lam.*****

2 responses to “Paham metafora Allah, tanda kamu berilmu-3

  1. ijin komen ya pa ;setuju pa, kelapangan, keluarga dan hiruk pikuk kehidupan kdang membuat qt lalai dr mengingat Allah. sering kali qt anggap kelapangan adlh sbuah nikmat, padahal itu ujian kelalaian utk mengingat Allah di setiap tarikan nafas kita dlm perjalanan “shirathal mustaqim” itu. mhn pencerahan biar ga ada gangguan di jalan tol nya pa !! biar dpt INDAH nya pa..
    apakh benar pa bahwa kita menangkap hakikat ayat Al Quran sesuai dengan ahwalnya..? sperti firman NYA ” kami yg memberikan pelajaran dan kami yg memberikan penjelasan2nya” (sy lupa surat dan ayatnya). wallahualam..

    • Terimakasih Mas Ayub komentarnya. Insya Allah, semua yang menjadi dambaan Mas Ayub akan diijabah oleh Allah. Tentu saja jika Anda selalu mencari jalan dengan mengamalkan Al Quran.
      Intinya semua yang diperoleh manusia adalah dari Allah. Tugas manusia adalah beramal atau bekerja. Pemahaman, pelajaran, kefahaman dll itu adalah karunia dari Allah, karena manusia mengamalkan Al Quran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s