Kupaslah kulitnya, nikmati isinya-1


Anakku, perhatikan firman Allah ini : “Dan apakah orang yang sudah mati, kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gekap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya ?” (QS 6:122).

Ayat yang sangat indah. Sebenarnya saya tidak perlu menuliskan kata-kata itu, karena semua ayat Allah sangat indah, tidak saja susunan kata-katanya jika ayat itu dituliskan, tetapi juga sangat indah jika ayat-ayat itu kita saksikan dan kita alami sendiri. Mungkin kalian bertanya-tanya, Anakku, tetapi sejujurnya saya katakan, kalian tidak akan ragu kemudian bertanya-tanya, jika kalian pun memiliki pengalaman yang sama dengan saya.

Oleh karena itu, Anakku, pesan saya kali ini adalah : kupaslah kulitnya, nikmati isinya. Segala sesuatu memiliki kulit, karena kulit itu memang penting untuk melindungi isinya. Kulit diciptakan dalam beraneka bentuk dan warna. Isinya pun beraneka bentuk, warna dan rasa yang berbeda-beda. Jangan terkecoh oleh keadaan kulit. Banyak nasihat baik dibungkus dengan kulit yang tebal, sehingga kadang-kadang terdengar atau terbaca seperti dongeng. Tidak mengherankan jika banyak orang yang gagal mendapatkan manfaat, karena mereka menganggap yang sedang dibacanya itu adalah dongeng pengantar tidur. Atau bahkan memahaminya melenceng jauh dari yang diharapkan. Sehingga kisah Musa membelah laut, Musa disambar petir, kaum Nabi Luth yang dihujani batu, Nabi Yunus yang ditelan ikan hiu dan banyak lagi kisah-kisah yang berisi nasihat bijak itu hanya dianggap dongeng kosong belaka oleh para penentang nabi.

Bacalah Al Qur’an, Anakku, dan kalian akan membaca kisah bagaimana kaum kafir itu mengolok-olok para utusan Allah dengan menyatakan bahwa Kitabullah itu hanyalah berisi dongeng manusia zaman purbakala. Mereka terjebak oleh kulit cerita yang membungkus pesan biajak bestari dari Allah dan para utusanNya. Mereka tidak mampu memahami apa maksud pesan itu karena yang mampu mereka serap hanyalah susunan kalimat yang berisi kisah atau dongeng.

Kisah apa pun yang tertulis di kitab suci dan ucapan para utusan Allah itu sejatinya adalah symbol komunikasi yang harus dipecahkan. Kalimat-kalimat yang menguraikan kisah-kisah itu pun harus mampu kalian selami, Anakku, jika kalian ingin memperoleh keuntungan yang besar dalam hidup.

Saya ambil contoh, kisah penyembelihan Ismail as oleh ayahnya Ibrahim as. Jika kalian kemudian hanya menganggap bahwa itu adalah kisah keteladanan dan ketaatan kedua Nabi itu, maka kalian hanya akan mendapatkannya sebagai dongeng tentang ketaatan seorang Nabi melaksanakan perintah Allah yang sangat berat. Kalian tidak melangkah lebih jauh dari sekedar pemahaman kisah itu. Tetapi, jika kalian dengan akal yang cerdas bertanya, sejatinya apakah isi perintah Allah kepada Ibrahim as itu ? Mungkinkah Allah menyuruh hamba terkasihnya untuk menyembelih anak yang sangat disayanginya itu ? Apakah perintah itu memang benar-benar untuk menyembelih atau “menyembelih”. Menyembelih bermakna menggorok leher dengan pisau atau golok yang tajam. Tetapi “menyembelih” adalah sebuah kiasan untuk suatu perintah yang hanya dipahami oleh para utusan Allah dan para ulul albab (orang-orang yang akalnya telah merdeka).

Begitu juga dengan kisah pasukan bergajah yang dipimpin oleh Raja Abrahah ketika menyerbu Ka’bah untuk menghancurkannya. Mereka semua dimusnahkan oleh Allah dengan mengutus burung Ababil. Kisah itu sangat fenomenal, karena bersamaan dengan itu, Muhammad ibnu Abdillah lahir, sehingga kisah itu pun diabadikan dalam Al Quran surat Al-Fiil. Nah, bagaimana kamu memahami kisah tersebut, Anakku ? Apakah kalian hanya menganggapnya sebagai dongeng, sehingga kisah itu hanya berhenti sampai pada hafalan ayat-ayatnya saja ?

Jika demikian yang kalian peroleh, maka kalian baru dapat memandang dan memahaminya kulitnya saja. Kalian belum dapat mengupas kulitnya, sehingga kalian belum dapat menikmati lezat buahnya yang segar. Padahal, jika kalian dapat mengupas kulitnya, maka kalian akan mendapati suatu bukti yang sangat besar tentang keagungan dan kemuliaan Allah, Tuhanmu.

Demikianlah Anakku, maka saya minta kalian untuk selalu berusaha mengupas kulit yang berupa kalimat atau kata-kata dalam ayat-ayat Al Quran maupun Hadist Nabi, supaya kalian dapat mengambil buahnya untuk kalian nikmati.

Ayat yang saya kutipkan di awal pesan hari ini (QS 6:122) pun perlu kalian cermati dengan seksama, karena ia memuat suatu amaliah agung yang harus kalian cerna dan kemudian diamalkan. Namun demiakian, amaliah agung yang diajarkan melalui ayat ini dibungkus sangat rapi, sehingga tidak sembarang orang dapat menemukannya. Maka, kita akan membicarakannya dalam lanjutan tulisan ini nanti. Insya Allah.

(bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s