Kupaslah kulitnya, nikmati isinya-2


Ayat yang saya kutipkan di awal tulisan (QS 6:122) pun perlu kalian cermati dengan seksama, karena ia memuat suatu amaliah agung yang harus kalian cerna dan kemudian diamalkan. Namun demiakian, amaliah agung yang diajarkan melalui ayat ini dibungkus sangat rapi, sehingga tidak sembarang orang dapat menemukannya. Maka, cobalah baca berulang-ulang dengan hati yang jernih dan dengan persangkaan yang baik kepada Allah. Kalian pasti akan menemukannya. Jika pun tidak kamu temukan, Anakku, jangan berputus asa. Seperti yang selalu saya nasehatkan, carilah ulama dari golongan arifbillah yang mengetahui ilmunya, maka kalian dapat belajar darinya. Jangan bertanya kepada ulama yang baru dan hanya mempelajarinya dari berbagai kitab atau buku, karena perhatian mereka masih terbatas pada tulisan yang ada dalam kitab atau buku yang mereka baca. Mereka belum dapat mengupas makna hakikat dari tulisan yang mereka baca.

Anakku, dahulu pada masa kecil saya, para guru ngaji di desa sering mengajak murid-muridnya untuk melanturkan syi’ir. Satu bait syi’ir yang selalu saya ingat berbunyi : duh para kanca pria wanita / aja mung ngaji syareat blaka / kur pinter ndongeng nulis lan maca / tembe mburine bakal sengsara. Mungkin kalian tidak dapat memahami syi’ir itu, karena dilantunkan dalam bahasa Jawa. Maka saya coba untuk menuliskannya dalam bahasa Indonesia. Begini : wahai teman semua pria wanita / jangan cuma mengaji syareat melulu / yang menyebabkan kalian hanya pandai mendongeng, menulis dan membaca / nanti bakal sengsara.

Mengaji syariat itu maksudnya hanya mempelajarinya dari buku-buku, membaca tulisan dan menghafalkannya luar kepala. Banyak orang yang mampu menghafal Al Quran, tetapi amat sedikit yang mampu memahaminya sampai kepada tataran hakikat. Itulah sebabnya saya meminta kalian tidak hanya sekedar membaca dan menghafal kalimat-kalimat. Kalian harus berusaha untuk memahami hakikat yang disimpan dalam kalimat-kalimat, sehingga kamu akan mendapatkan kebenaran sejati, karena kamu tidak terkecoh hanya sekedar melihat bungkusnya belaka, seperti para penentang utusan Allah di masa lalu.

Kembali ke ayat yang saya kutip di awal nasihat ini (QS 6:122), Anakku. Setelah kalian membacanya berulang-ulang, sudahkah kalian menemukan amaliah agung yang menjadi inti pesan dari ayat tersebut ? Jika kamu belum juga dapat menemukannya, maka saya ingin menyampaikan beberapa hal sebagai bahan kajianmu. Pertama, merdekakanlah akal fikiranmu semerdeka-merdekanya. Jangan ada sedikit pun rasa bahwa kamu sudah benar-benar memahami ayat Al Quran hanya karena kamu sudah bisa membaca huruf-hurufnya, kalimat-kalimatnya dengan ucapan yang fasih. Karena kefasihan lidah saja bisa dilatih dengan menempatkan makhraj huruf secara benar, atau, kamu bisa belajar dari seorang guru qiroah. Sekali lagi, saya perlu mengingatkan bahwa huruf-huruf yang membentuk kata dan kalimat dalam mushaf itu adalah bungkus pesan yang harus dibuka atau diurai. Nah, untuk mengurainya kamu harus memiliki akal fikiran yang merdeka. Jangan terbelenggu oleh dogma apalagi mitos.

Kedua, carilah kata kunci pada ayat yang sedang kamu baca. Tentu saja, jika kamu tidak paham bahasa Arab, kamu bisa mencarinya di kitab-kitab terjemah yang tersedia banyak sekali. Jika kata kunci itu sudah kamu temukan, maka renungkanlah dengan seksama, karena di situ kamu akan menemukan apa yang kamu cari. Kata kunci biasanya menumbuhkan rasa ingin tahu pada pembacanya. Nah, dengan dorongan rasa ingin tahu itulah seseorang akan melangkah lebih jauh untuk memahami pesan yang tersimpan dalam kalimat-kalimat, baik yang panjang maupun yang pendek.

Ketiga, jika tidak dapat juga memahami, maka carilah orang yang dapat memberikan penjelasan kepadamu. Untuk bertemu dengan orang itu, kamu harus benar-benar mampu merendahkan egomu, karena ego yang tinggi akan menyebabkan kamu cenderung memandang rendah orang lain. Ego yang melambung tinggi, biasanya berasal dari strata pendidikan; misalnya, jika kamu seorang sarjana strata tiga, maka egomu akan melambung dan memandang rendah orang yang tingkat pendidikannya di bawahmu. Melambungnya ego juga bisa disebabkan oleh pangkat dan jabatan, lalu oleh kekayaan maupun keturunan. Jadi kamu harus mewaspadai hal-hal yang potensial menjadikan egomu melambung tinggi.

Satu hal yang harus kamu ketahui, agama itu amaliah. Agama tanpa amal itu jelas bukan bernama agama, karena ia tidak memberikan pengaruh apa-apa terhadap pemeluknya maupun terhadap masyarakat secara umum. Kamu harus ingat, Anakku, Rasulullah saw memberikan teladan sempurna dalam beramal. Para Nabi adalah teladan utama. Ini disuarakan oleh Allah dengan pernyataan “sesungguhnya pada diri Rasulullah itu ada suri teladan yang baik, bagi orang-orang yang berkehendak untuk bertemu dengan Allah”. Nah, yang harus kamu pahami, Anakku, khususnya dalam kaitannya dengan Rasul penutup Muhammad saw itu memiliki keistimewaan yaitu dia tidak bisa membaca dan menulis huruf yang digunakan oleh kaumnya, yaitu huruf Arab, sementara kaumnya ketika itu sedang berada di puncak kejayaan secara materiil. Mekah sedang menjadi pusat perdagangan dan pengetahuan duniawi. Sastra Arab sedang berada di puncak, dan orang-orang Arab sedang sangat gandrung dengan syair-syair. Mereka berlomba untuk menjadi penyair-penyair ulung.

Justru “ironisnya” Muhammad ibnu Abdillah tidak memiliki kemampuan membaca dan menulis huruf-huruf yang diciptakan oleh manusia. Namun demikian, karena kebutahurufannya itulah Muhammad justru tumbuh menjadi manusia yang sangat peka perasaannya terhadap segala sesuatu yang ada dan terjadi di sekitarnya. Ketika masyarakatnya sedang sangat gandrung dengan hal-hal duniawi, mengandalkan kecerdasan intelegensianya, Muhammad justru mengasah kecerdasan emosi dan spiritualnya dengan membaca tulisan Tuhan yang tergelar di alam semesta dan dalam dirinya (manusia) sendiri. Muhammad lebih banyak merenungi diri sejatinya dan merenungi segala peristiwa yang terjadi dalam masyarakatnya. Dari perenungannya itulah muncul kesadarannya yang tinggi terhadap sebuah nilai yang justru tidak dimiliki oleh masyarakat Arab ketika itu, yaitu nilai spiritualitas atau nilai kerohanian, karena semua orang berlomba-lomba memenuhi kebutuhan jasmaniah belaka.

Anakku, situasi batiniah yang seperti itulah yang membawa Muhammad unrtuk menjauh dari kerumunan masyarakat, menyendiri di Gua Hira. Di sinilah dia menyadari adanya peranan kekuasaan dan kekuatan besar yang berada di luar diri dan masyarakatnya. Tuhan. Allah, begitu orang-orang Arab menyebut kekuasaan dan kekuatan besar yang tiada bandingannya. Melalui olah batiniah yang intens (lebih kurang selama 15 tahun), Muhammad hakikatnya telah menunjukkan kepada Allah kesungguh-sungguhannya dalam menemukan nilai-nilai hidup yang seharusnya dianut oleh manusia.

Hal itulah yang akan kita bahas pada lanjutan tulisan ini. Insya Allah.

(bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s