Kupaslah kulitnya, nikmati isinya-3


Anakku, situasi batiniah yang melalui olah tafakur seperti itulah yang membawa Muhammad untuk menjauh dari kerumunan masyarakat, menyendiri di Gua Hira. Di sinilah dia menyadari adanya peranan kekuasaan dan kekuatan besar yang berada di luar diri dan masyarakatnya. Tuhan. Allah, begitu orang-orang Arab menyebut kekuasaan dan kekuatan besar yang tiada bandingannya. Melalui olah batiniah yang intens (lebih kurang selama 15 tahun), Muhammad hakikatnya telah menunjukkan kepada Allah kesungguh-sungguhannya dalam menemukan nilai-nilai hidup yang seharusnya dianut oleh manusia.

Dengan batin yang terasah itu Muhammad saw mampu membaca symbol-simbol Ilahiah yang disampaikan oleh Allah kepadanya secara langsung maupun melalui Malaikat Jibril. Jadi, azalinya ayat-ayat yang turun kepada Muhammad saw tidaklah berupa tulisan maupun kata-kata yang tertulis. Namun berupa symbol-simbol Ilahiah. Mengapa Muhammad saw mampu membaca symbol-simbol tersebut ? Anakku, jawabannya sangat jelas, karena Muhammad sangat intens melakukan olah batin, mempertajam batiniahnya, mengasah kalbunya.

Lihatlah, Nak, alangkah kontras keadaannya. Ketika masyarakat manusia sedang gandrung dengan hal-hal duniawiah melalui penggalian ilmu-ilmu duniawi yang mengandalkan kecerdasan intelektual, Allah justru memilih utusanNya bukan dari golongan mereka, melainkan seorang yang tidak mengandalkan intelektual semata, melainkan lebih mengandalkan kehalusan budi yang mencerdaskan emosional dan spiritualitasnya. Hal ini mengindikasikan bahwa Allah hanya dapat didekati dengan emosi dan spiritualitas yang cerdas. Emosi yang cerdas melahirkan kesantunan ahlak, sedang spiritualitas yang cerdas melahirkan sikap pasrah sepenuhnya kepada Allah Sang Maha Pemilik.

Jadi, Anakku, belajarlah kepada orang-orang yang gigih mengasah kehalusan budi dan spiritualitasnya. Ciri-cirinya sangat mudah dipahami, yaitu, (1) mereka tidak suka terlibat dalam perdebatan pemahaman ; (2) mereka sangat toleran dengan orang-orang yang berbeda mazhab, bahkan dengan orang-orang yang berbeda keyakinan; (3) mereka tidak pernah menyalahkan orang lain ; (4) mereka senang membantu orang lain ; (5) mereka tidak suka memberatkan orang lain ; (6) mereka tidak suka memaksakan kehendak dan keyakinannya kepada orang lain ; (7) mereka sangat mencintai kehidupan yang harmonis, baik dengan sesama manusia maupun dengan alam semesta. Atau jika diringkas menjadi lebih singkat, mereka adalah orang yang tawadlu, murah senyum dan selalu berlapang dada.

Kamu akan mudah menemukan dia jika kamu merdekakan dirimu dari gebyar penampilan duniawi dalam menilai dan mengenali dia. Sebab bisa jadi, dia bukanlah seorang yang berpendidikan formal tinggi. Bisa jadi juga, dia bukan seorang tokoh agama yang terkenal. Dia mungkin seorang yang dipandang biasa-biasa saja, dan secara lahiriah, sama sekali tidak menarik minatmu. Kamu harus ingat, Nak, Allah menyimpan kekasihNya di tengah-tengah manusia. Menyimpan itu artinya keberadaannya tidak mudah diketahui, khususnya bagi mereka yang tidak pernah mencarinya. Yang jelas, kekasih Allah itu ada di antara manusia. Atau ada di antara kita. Dia selalu berinteraksi dengan kita. Bisa jadi, dia justru berada dekat denganmu. Maka bergaullah dengan manusia melalui ahlak yang utama. Berdiri dan duduklah sejajar dengan sesamamu.

Nah, sebelum kamu menemukan orang yang kamu cari, maka saya ingin mengajakmu merenungkan ayat yang sedang menjadi pembicaraan kita (QS 6:122) ini.

Anakku, ayat ini sebenarnya menceritakan sebuah perbandingan atas perlakuan Allah terhadap dua golongan manusia. Yang pertama adalah orang yang mendapatkan atau berada dalam cahaya, dan yang kedua adalah orang yang berada dalam gelap gulita. Atas perbandingan ini, Allah menyuruh manusia untuk menggunakan akalnya secara merdeka, karena di sini Allah menggunakan kata tanya apakah. Dan seluruh ayat ini sebenarnya merupakan pertanyaan retoris. Para pembacalah yang harus menjawab dengan menggunakan akalnya. Jika kita menjawab tidak sama, maka apa alasannya dan apa dasarnya. Jika kita menjawab tidak sama pun kita harus menunjukkan argumentasinya. Nah, ayat ini juga merupakan bukti otentik bahwa Allah sangat menghargai kemerdekaan akal.

Nah, muncul di sini sebuah pertanyaan : apakah ayat ini menceritakan manusia yang sudah mati, ataukah manusia yang masih hidup ? Pertanyaan ini sungguh bukan pertanyaan yang mengada-ada, Anakku, karena di sini Allah menyatakan “dan apakah orang yang sudah mati, kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia …. Tidakkah ayat ini amat menarik untuk kita selami makna hakikatnya ?

Di sini kita dihadapkan pada makna kiasan dan makna sejati. Makna kiasan sudah kalian baca seperti dalam berbagai kitab terjemah. Artinya, dalam ayat ini ada sesuatu yang dikiaskan dengan mati lalu hidup. Jika dua kata dipahami sebagai makna sejati, atau makna sebenarnya, maka berarti Allah menghidupkannya nanti di akhirat. Lalu bagaimana mungkin orang yang sudah berada di akhirat dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia ? Maka, dua kata itu, mati dan hidup itu adalah sebuah kiasan.

Anakku, ada banyak pendekatan untuk mencari makna sejati dari mati dan hidup ini. Insya Allah, nanti kita bahas dalam lanjutan tulisan ini.

(bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s