Kupaslah kulitnya, nikmati isinya-4


Anakku, ada banyak pendekatan untuk mencari makna sejati dari mati dan hidup ini. Misalnya, yang mati dan hidup itu adalah hatinya atau kalbunya. Tentu saja pendekatan pemahaman seperti itu tidaklah perlu ditolak, karena nanti dapat diuraikan tentang begitu banyaknya manusia yang telah mati hatinya, lalu Allah menghidupkannya. Namun demikian dalam ayat itu Allah menggunakan kata Kami, bukan Aku. Kami adalah kata ganti pelaku (subyek) jamak, dan Aku adalah kata ganti pelaku (subyek) tunggal. Mengapa Alllah menggunakan kata ganti orang pertama jamak, bukan tunggal ? Berarti ada pihak lain yang ikut serta mematikan dan menghidupkan.

Tetapi, apakah mungkin Allah meminta bantuan ? Pertanyaan itu layak untuk dikedepankan, bukan untuk diabaikan, apalagi dicaci maki sebagai upaya manusia untuk mengerdilkan peranan Allah. Sebab, kendati pun mungkin ada perbedaan pemahaman, ada sebuah riwayat yang menyatakan, Nabi Muhammad saw pernah menyarankan umatnya untuk merasai mati sebelum mati (antal maut qoblal maut). Kita tidak menafikan adanya orang yang menolak pernyataan itu. Namun demikian, perintah itu sebenarnya menunjukkan kepada manusia agar mereka merekayasa kematian untuk dirinya sendiri. Atau, dalam bahasa yang lebih lugas, manusia diperintahkan untuk membunuh dirinya sendiri. Hal yang pernah diperintahkan kepada umatnya Nabi Musa as.

Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS 2: 54).

Anakku, sekali lagi pesan saya, kupaslah kulitnya, supaya kamu mendapatkan pemahaman yang luas dan sejati. Dalam ayat di atas, Nabi Musa as menyuruh kaumnya agar bertaubat kepada Tuhan dan membunuh diri mereka, karena mereka telah menganiaya diri dengan menjadikan anak lembu sebagai sesembahan. Jika kalian hanya memperhatikan kulitnya, yaitu kalimat dalam ayat itu, maka kalian hanya akan menemukan pemahaman yang sangat terbatas, yakni sekedar sebagai dongeng bahwa dahulu umat Nabi Musa as pernah melakukan syirik, dan sebagai penebusnya, mereka harus melakukan bunuh diri.

Apakah ayat-ayat Al Quran itu hanya dongeng ? Tentu tidak. Kalian pasti setuju dengan pernyataan itu. Pertanyaan saya kemudian adalah : jika bukan dongeng, lalu apakah isi kandungan ayat di atas ? Pertanyaan lainnya : apakah ayat tersebut hanya khusus diperuntukkan bagi umat Nabi Musa as, ataukah untuk seluruh umat manusia dari zaman ke zaman ? Dan, tentu saja akan makin panjang daftar pertanyaannya, anakku jika kamu mencoba untuk menyelisik lebih jauh, karena setiap jawaban akan memunculkan pertanyaan baru.

Contohnya : jika kalian menjawab bahwa isi kandungan ayat tersebut adalah perintah dan larangan serta cara menebus kesalahan. Maka jawaban tersebut akan membawa kalian kepada pertanyaan berikutnya, yaitu, perintah untuk apa dan larangan untuk berbuat apa ? Kalian akan menemukan jawabannya, yaitu perintah untuk bertaubat kepada Allah, karena kalian telah melanggar larangan Allah yaitu berbuat syirik. Jawaban tersebut akan menimbulkan pertanyaan, dengan cara apa pertaubatan yang harus kalian lakukan. Kalian akan menemukan jawaban supaya kalian membunuh diri kalian.

Lalu muncul pertanyaan : apakah Allah melagilisir bunuh diri ? Tentu saja tidak, karena dalam ayat yang lain, Allah bahkan menyatakan : “ Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu” (QS 4:29 ).

Bisa jadi kalian beranggapan bahwa Allah tidak konsisten dengan perintah dan laranganNya. Pada satu kesempatan Allah melarang bunuh diri, tetapi pada kesempatan lain, Dia justru memerintahkannya. Tentu saja tidak seperti itu, Anakku. Allah tetap konsisten, justru amat konsisten. Justru kita (manusia) lah yang harus mempergunakan akal pikirannya secara merdeka untuk memahami ayat-ayat Allah.

Itulah sebabnya, saya meminta kalian untuk mengupas kulitnya, sehingga kalian akan menemukan pemahaman yang luas dan dalam. Pada ayat pertama (QS 2:54), kata bunuh diri adalah suatu metafora, atau kiasan. Tetapi pada ayat kedua (QS 4:29), kata bunuh diri adalah makna sebenarnya. Yang satu kiasan (QS 2:54) dan yang satu lagi sesungguhnya (QS 4:29).

Anakku, pada ayat yang mengandung kiasan tadi itulah kalian wajib mengupasnya untuk mencari makna sejatinya agar kalian dapat melaksanakan perintah Allah sebagaimana umat Nabi Musa as pun dapat melaksanakannya. Ketika perintah itu turun kepada Nabi Musa as pun, bukan berarti umat Nabi Musa benar-benar melakukan bunuh diri secara massal. Bunuh diri itu pun hanya kiasan, sedangkan yang dimaksud adalah antal maut qoblal maut atau suatu rekayasa kematian yang dilakukan oleh umat Nabi Musa as dengan petunjuk Allah yang disampaikan kepada Musa.

Ikhwal makna kiasan dan makna sejati itu sebenarnya sudah diisyaratkan oleh Rasulullah Muhammad saw. Bagaimana isyarat Beliau akan kita bicarakan besok. Insya Allah.

(bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s