Kupaslah kulitnya, nikmati isinya-5


Ikhwal makna kiasan dan makna sejati itu sebenarnya sudah diisyaratkan oleh Rasulullah Muhammad saw melalui sabdanya “sesungguhnya Al Quran itu mempunyai makna lahir dan bathin. Mempunyai makna yang nyata (sejati) dan mempunyai makna kiasan”. Hal itu menegaskan bahwa tidak cukup memahami Al Quran hanya melulu dari segi kebahasaan belaka, karena itu baru menyangkut satu makna, yakni makna lahir.

Demikianlah Anakku, mengapa saya mengajak kalian untuk tidak hanya terpaku melihat dan memperhatikan kulit ayat-ayat yang berupa tulisan dalam mushaf Al Quran, karena Rasul panutan kita Muhammad saw sudah memberitahukan kepada kita tentang adanya makna lahir dan makna bathin Al Quran. Makna lahir, kita pelajari dengan kemahiran kita berbahasa Arab, bahasa yang digunakan oleh Nabi Muhammad saw ketika menyampaikan ajaran Allah kepada kaumnya di jazirah Arab.

Firman Allah : “Kami tidak mengutus seorang Rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana”. (QS 14:4 ).

Maka menjadi kewajiban dari para Rasul untuk senantiasa memerhatikan keberadaan kaumnya dalam segala hal. Mereka harus berkomunikasi dengan kaumnya dengan bahasa dan adat istiadat kaumnya. Membawa mereka untuk memahami perintah Allah dengan mengambil simbolisme yang dikenalnya. Sehingga bahasa kaumnya pun menjadi sebuah simbolisme yang harus dijelaskan dengan penjelasan khusus. Maka di dalam ayat ini, Allah menegaskan “maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada yang Dia kehendaki” untuk menegaskan banyak hal, antara lain, petunjuk dan penyesatan itu adalah milik dan kuasa Allah. Tidak ada seorang manusia pun yang dapat memberi petunjuk dan menyesatkan manusia lain.

Pertanyaannya : siapakah orang yang disesatkan oleh Allah, dan siapa pula yang mendapat petunjukNya ? Jika dirunut pada kronologi kalimat pada ayat ini, maka orang-orang yang disesatkan oleh Allah, adalah mereka yang tidak dapat memahami penjelasan yang terang dari para Rasul. Atau, orang yang tidak mau mencari penjelasan yang terang dari para Rasul. Sebaliknya, orang yang mendapat petunjuk adalah mereka yang didorong oleh Allah untuk mencari penjelasan yang terang dari para Rasul, karena mereka selalu berusaha mencari makna di balik kalimat-kalimat. Mereka tidak mau menafsirkan sendiri kalimat-kalimat yang dibaca, melainkan mereka selalu mencari penjelasannya dari para Rasul.

Di zaman kerasulan Muhammad saw, maka orang-orang yang mendapat petunjuk adalah mereka yang disebut para sahabat. Sedangkan pada sahabat ini pun bertingkat-tingkat ikhwal kedekatannya dengan Nabi Muhammad saw. Ada yang disebut sahabat utama, yaitu Abu Bakar as-Shidiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Mereka selalu bersama-sama dalam suka dan duka dengan Nabi Muhammad saw. Sampai-sampai Nabi Muhammad menggambarkan antara dirinya dan keempat sahabatnya itu seperti jari-jari dalam telapak tangan yang tidak dapat dipisahkan.

Anakku, para sahabat yang empat itu adalah orang pertama yang selalu menerima ilmu Nabi Muhammad saw. Kepada mereka diberikan wewenang untuk mengajarkannya kepada orang lain, terutama Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Para sahabat empat inilah yang dimetaforakan oleh Nabi Muhammad saw sebagai bintang di langit yang dapat memberikan arah kepada para pejalan. Kepada merekalah umat Islam dianjurkan untuk merujuknya.

Selain itu, ada yang pula sahabat kepercayaan yang kepada mereka Nabi Muhammad saw mengajarkan hal-hal yang bersifat khusus. Namun mereka tidak diberi kewenangan untuk mengajarkannya kembali kepada orang lain. Ilmu yang diberikan oleh Nabi Muhammad saw kepada mereka itu, hanya untuk mereka sendiri. Mereka pun mematuhinya.

Namun, ada juga yang hanya menjadi pengikut. Mereka menerima kerasulan Muhammad saw, menjadi pengikutnya yang taat. Mereka salat berjamaah bersama Nabi, berpuasa seperti Nabi, pergi haji seperti Nabi, berperang dan lain-lain. Mereka selalu menjawab sami’na wa atho’na pada setiap perintah yang dikabarkan oleh Rasulullah saw. Tetapi mereka tidak tertarik untuk mendalami masalah kerohanian, sehingga mereka pun mendapatkan apa yang mereka ingin dapatkan.

Begitulah Anakku, betapa pentingnya kamu memiliki kemampuan mengupas kulit yang membungkus ajaran Allah dan RasulNya. Mungkin kamu bertanya, mengapa Allah mesti membungkus aturan dan laranganNya dengan berbagai metafora atau perumpamaan ?

Pertanyaan itu sangat dapat diterima, Nak, karena memang itu merupakan bagian dari usahamu. Tetapi ketahuilah, Allah memberikan berbagai perumpamaan dan metafora itu sebagai batu ujian agar kalian mengetahui posisi kalian. Bukankah Allah sudah menyatakan “dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan oleh Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang mendapatkan petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan oleh Allah kecuali orang-orang yang fasik”. (QS 2:26 ).

Cukup jelas bukan ? Itulah alasan lainnya mengapa saya menganjurkan kalian untuk mengupas kulit pembungkus perintah dan larangan Allah, yakni supaya kalian mendapatkan petunjuk dari Allah. Lagi pula, upaya untuk menyingkap makna bathin Al Quran itu sebenarnya merupakan jihad kalian, yaitu usahamu yang sungguh-sungguh untuk mengenali Allah, dan mengetahui perintah dan laranganNya. Setiap usaha yang kalian lakukan, ada balasan yang menyebabkan kalian mendapatkan tempat mulia. Jika kamu tidak mau berusaha, maka kamu akan ditempatkan oleh Allah ke dalam golongan orang fasik. Jangan biarkan dirimu berada dalam golongan itu, Nak, karena golongan orang fasik adalah golongan orang yang disesatkan oleh Allah. Mereka dibiarkan untuk berada di jalan yang tak berujung dan sampai ke suatu tempat yang makin jauh dan penuh bahaya.

“Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah ia jatuh dari langit dan disambar oleh burung atau diterbangkan oleh angin ke tempat yang jauh”. ( QS 22:31 ).

Maka, jangan berhenti berusaha dan berjuang untuk dirimu sendiri, Nak. Jangan bergantung kepada siapa pun. Bergantunglah hanya kepada Allah. Mintalah kepadaNya agar kalian dipertemukan dengan kekasihNya yang dapat mengajarkan ilmu yang bermanfaat untuk membuka dan mengupas kulit pembungkus perintah dan laranganNya. Mintalah kepada Allah, agar Dia memberikan kepadamu langkah yang ringan untuk mencari dan menemukan kekasihNya. Mintalah kepadaNya agar Dia memberikan kepadamu hati yang luas untuk menerima nasihat dan ilmu yang diajarkan oleh kekasihNya. Mintalah kepadaNya agar Dia menetapkan kamu sebagai orang-orang yang tekun menyembah Dia, tekun mendirikan salat untuk mengingat Dia.

Selamat berjuang, Nak.*****

2 responses to “Kupaslah kulitnya, nikmati isinya-5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s