Amal saleh itu tali hubunganmu dengan Allah-2


Anakku, memang tidak mudah untuk menerima informasi tentang perjumpaan dengan Allah, sebab memang, ketika manusia dihadapkan pada masalah perjumpaan dengan Tuhan, mereka akan terbagi menjadi tiga golongan, yaitu, mereka yang yakin, mereka yang ragu-ragu dan mereka yang ingkar. Allah sendiri mengakui adanya tiga kelompok manusia itu.

“Salat itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, yakni mereka yang yakin bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepadaNya” (QS 2:45/45).

Untuk orang-orang yang yakin, perjumpaan dengan Tuhan merupakan berita besar yang menyenangkan hatinya. Kamu harus meyakinkan dirimu, dengan banyak bertanya kepada orang-orang yang sudah tahu, yakni kepada ulama makrifat yang memiliki ilmu tentang Allah. Jangan bertanya kepada sembarang orang, nanti kamu justru akan dijerumuskan. Bisa jadi kamu justru akan dicap sebagai orang yang membangkang atau orang yang sesat karena ingin mengetahui hal yang aneh-aneh.

Tetapi untuk orang yang ragu-ragu itu pun sudah dinyatakan oleh Allah melalui firman-Nya “ingatlah bahwa sesungguhnya mereka adalah dalam keraguan tentang pertemuan dengan Tuhan mereka. Ingatlah bahwa sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu” (QS 41:54). Biasanya, keraguan untuk muncul karena memang informasi yang sampai kepada manusia hanya didasarkan pada dugaan semata-mata, khususnya informasi tentang pertemuan dengan Allah yang hanya akan terjadi setelah mati. Jarang sekali orang mau menyelisik lebih jauh tentang makna mati itu sendiri sehingga kemudian secara gegabah ditolaknya informasi tentang pertemuan itu. Lalu disebarluaskanlah pengertian itu kepada masyarakat. Akibatnya, ketika kemudian datang informasi yang sahih tentang pertemuan dengan Tuhan, maka lahirlah kemudian keragu-raguan itu di kalangan orang awam.

Jika tidak meminta pertolongan kepada Allah, maka keragu-raguan itu akan semakin panjang dan menyiksa. Keragu-raguan ini juga berpotensi untuk mendorong manusia dalam kemunafikan, karena memang orang-orang munafik adalah mereka yang tidak memiliki keberanian untuk menolak, dan tidak memiliki keberanian untuk menerima. Mereka berada di antara penolakan dan penerimaan. Hal tersebut digambarkan dengan sangat jelas oleh Allah dan bila merka berjumpa dengan orang-orang beriman mereka berkata “kami telah beriman”. Dan bila mereka kembali kepada setan-setan mereka, mereka berkata “sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok” (QS 2:14).

Kelompok peragu ini, yang tidak lain adalah golongan orang munafik, merupakan kelompok yang paling sulit untuk diberi pengertian karena hakikatnya mereka adalah kelompok yang tidak memiliki pendirian. Allah sendiri menggambarkan “orang-orang munafik itu memanggil orang-orang mukmin seraya berkata “bukankah kami dahulu bersama-sama kamu ?”. Orang-orang beriman itu menjawab “benar, tapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu dan kamu ragu-ragu serta ditipu angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh yang amat penipu (setan)” (QS 57:14). Amat jelas betapa ruginya orang yang masuk kelompok peragu akibat tidak mempunyai pendirian.

Sedangkan orang-orang yang ingkar terhadap perjumpaan dengan Allah pun dilukiskan oleh Allah dengan sangat jelas “sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang mereka kerjakan” (QS 10:7-8). Pengingkaran itu mewujud pada sikap tidak mengharapkan pertemuan dengan Allah, sehingga hakikatnya mereka dengan sadar memilih sikap yang jelas berupa penolakan. Atas sikapnya ini, maka Allah pun tidak peduli dengan mereka melalui pernyataan “maka Kami biarkan orang-orang yang Tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami bergelimang di dalam kesesatan mereka” (QS 10:11).

Anakku, biasanya orang-orang yang tersesat itu tidak menyadari kesesatannya. Padahal mereka membutuhkan penunjuk jalan, yaitu para ulama makrifat. Carilah mereka, Anakku.

Mungkin kamu bertanya-tanya, mengapa aku menyuruhmu mencari ulama makrifat yang memiliki ilmu tentang Tuhan. Ketahuilah, Nak, Rasulullah Muhammad saw menyatakan “ada ilmu yang disimpan rapi, barangsiapa berbicara tentang ilmu itu, tidak ada yang mengingkari, kecuali orang-orang yang tertipu. Ilmu itu berada di tangan para ulama makrifat”. OIeh para ulama makrifat ilmu ini memang disimpan rapi sesuai dengan pesan Rasulullah saw agar “ilmu ini tidak boleh diberikan kepada orang yang tidak membutuhkan, karena jika diberikan kepada mereka, maka akan menjadi fitnah. Tetapi ilmu ini harus diberikan kepada orang-orang yang mencari atau membutuhkan, karena kalau tidak diberikan, maka akan menjadi fitnah.”

Para ulama makrifat adalah orang-orang yang sangat setia kepada Rasulullah, sehingga mereka pun menjaga ilmu itu dengan sangat hati-hati. Dia tidak akan berbicara tentang ilmu ini di sembarang tempat. Itulah sebabnya, aku menyuruh kamu untuk mencari dan menemui ulama makrifat untuk belajar ilmu tentang Tuhan. Namun demikian, sebelum kamu datang kepadanya, terlebih dahulu kamu harus membersihkan niatmu, sebab mereka adalah orang-orang yang memiliki kelembutan hati. Sinyalnya begitu kuat sehingga mampu menangkap sesuatu yang disembunyikan. Meskipun demikian, mereka tidak akan membuat orang yang memiliki niat buruk itu malu hati. Apa yang dia ketahui, akan disimpannya sendiri, karena ia yakin setiap niat buruk pasti akan dibalas atau dihentikan oleh Allah.

Nah, penjelasannya akan kita kupas besok. Insya Allah.

(bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s